
"Kalau memang takdir mengharuskan kami tidak bersama saya ikhlas melepas, tapi jika Nadia adalah takdir saya, sampai mati pun saya akan menjaga dan membuktikan bahwa saya pantas."ucap Satrio serius
"Bagus Nak, Bapak suka dengan prinsip mu, Bapak harap kalau kamu sungguh-sungguh dengan Nadia, kamu harus membuktikan nya, masalah fitnah masalalu, Bapak sudah memaafkan almarhum Ayah mu, beliau nggak salah, beliau hanya dihasut, maka Bapak minta disepanjang kalian menjalani hubungan, kalian nggak boleh mudah percaya dengan apapun kata orang lain, sebelum ada pembuktian, itu kunci dari hubungan apapun."ucap Bapak
"Makasih Pak, sudah percaya dengan saya."ucap Satrio
"Bapak ingin berpesan, kamu harus hati-hati dengan keluarga Hartono, karena Hartono bukan orang biasa, karena dia adalah orang yang sangat sadis dan tak punya hati, dia dapat membunuh siapapun."ucap Bapak
"Iya Pak, Satrio penasaran siapa Pak Hartono sebenarnya? Suatu saat, Satrio akan mencari mereka semua termasuk Pak Hartono, mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan."ucap Satrio
"Ya, tapi kamu mesti jaga diri dan jangan sampai Nadia kenapa-napa."ucap Bapak
"Satrio janji Pak, nggak akan bikin Nadia terluka, jika Satrio berbohong, maka Satrio yang akan menanggung akibatnya"ucap Satrio
Lalu Ibu memanggil kami.
"Caman Ibu sini, Ibu udah buatin es buah dan puding mangga nih." teriak Ibu dari dapur
"Yasudah kalian temui Ibu dulu, janji sama Bapak, apapun yang Bapak cerita kan pagi ini, jangan sampai ada yang tahu, demi keselamatan kalian, jika Bapak sembuh, Bapak janji akan membantu mu Nak Satrio."ucap Bapak
"Baik Pak, terimakasih."ucap Satrio
Lalu kami meninggalkan Bapak dan menemui Ibu.
"Bu si kembar masih sekolah yaa?."tanyaku
"Iyaa, paling sore pulang nya."ucap Ibu
"Emang Adik-adik kamu kelas berapa Nad?". tanya Satrio
"Masih kelas 5 SD mas, cuma mereka sekolah di Madrasah, makanya pulang nya agak sore."ucapku
"Oh pantes koq SD pulang nya lama, oh ya Bu ada yang bisa Satrio bantu nggak?."tanya Satrio pada Ibu yang sibuk menghidangkan makanan dimeja dekat dapur
"Eh eh jangan, kamu duduk manis aja ganteng, biar Ibu sama Nadia yang urus, sekarang duduk yaa."ucap Ibu
Lalu kami duduk bersama.Dan siap makan.
"Mas, suka kan sama es buah ?."tanya Nadia
"Iyaa apapun yang Nadia kasih Mas suka koq."ucap Satrio
"Ih gombal."ucapku
"Duh mesra amat sih kalian, aduh jadi pengen cepat Ibu nikahin deh, Satrio kapan ngelamar anak Ibu?"tanya Ibu
"Bu, yang mau nikah aku, koq Ibu yang kebelet, pakai nanyain segala lagi, haduh bikin aku malu aja."ucapku
__ADS_1
"Yeh nikah kan Ibadah, apa salahnya perempuan duluan yang nanya, biar ada kepastian, kalau Satrio lama-lama, Ibu khawatir Nadia diambil orang, kan yang mau sama Nadia banyak."ucap Ibu berbohong
Aku hanya terdiam kesal.
"Secepatnya Bu, kapanpun Nadia mau, saya pasti nikahin."ucap Satrio tersenyum
Lalu kami pun mulai makan es buah buatan Ibu.
"Oh kalau besok gimana?."tanya Ibu
Lalu Satrio terbatuk-batuk karena kaget.
"Mas hati-hati makannya, Ibu nih ah nanyain itu terus kasian kan Mas Satrio."ucapku sambil mengelap wajah Satrio dengan tissue, akting sekalian modus, wajahnya lembut banget 😆
"Ehem, udah Nad , biar aku aja."ucap Satrio canggung
"Yaudah makan dulu aja kita, ngobrol itu nya nanti."ucap Ibu
Lalu kami makan bersama, lalu aku membawakan puding dan es buah untuk Mang Ujang, sementara Ibu membawakan puding untuk Bapak.
"Nad, jalan-jalan yuk!."ucap Satrio menghampiri ku
"Sekarang mas? emang nggak capek?"tanyaku heran
"Nggak lah, aku pengen ke sungai, disini ada kan?."tanya Satrio
Lalu aku dan Satrio pergi ke curug dengan naik motor Bapak , kita sudah izin untuk pergi dan pastinya Ibu malah senang banget dan langsung ngizinin. Aku pun memegang pinggang Satrio erat, perasaan ini makin nyaman. Entah sebagai apa, tapi aku bahagia.
Sampailah kami disebuah air terjun yang indah.
"Keren banget Nad, ah rasanya pengen cepet-cepet berenang."ucap Satrio lalu mematikan mesin motor dan memarkirkan nya, kami pun lalu membeli tiket masuk
Kebetulan sekarang sepi, karena masih pagi dan hari biasa.Kalau weekend biasa nya ramai banget.
Lalu kami mulai main air, awalnya Satrio mencipratkan air ke wajah ku, lalu aku membalas nya.
"Satrio, ih ngeselin banget sih awas kamu."ucapku
Lalu aku mengejar nya.
"Haha coba kalau bisa kejar aku."ucapnya menantang
Lalu aku pun terpleset batu yang licin tiba-tiba aku terjatuh, tapi untungnya Satrio langsung menangkap aku, karena kurang keseimbangan kami pun jatuh berdua ke air.
"Aduh."ucapku menindih Satrio
__ADS_1
"Nad , bangun kamu berat banget ih."ucapnya
Aku baru tersadar , tapi bukannya bangun aku malah menatap wajahnya, pelan-pelan aku mendekati wajahnya, seperti nya Satrio mudah dikerjai, lalu aku makin dekat dan membasahi wajah nya dengan air.
"Nadia awas yaa kamu."ucap Satrio kesal
"Haha siapa suruh ketipu."ucapku senang
Tiba-tiba Satrio memelukku dari belakang.
Aku hanya kaget dan membisu.
"Tuh kan kena, makanya jangan macam-macam."ucap nya
"Lepasin aku, ih genit banget kamu."ucapku kesal
Lalu dia melepaskan aku.
Kami pun duduk sejenak, capek habis lari-larian.
Satrio hanya menunduk lemas, aku tahu hatinya nggak tenang, pasti sedang mikirin kejadian pembunuhan orang tuanya.
Aku mendekati nya.
"Sat, hei kamu kenapa, tuhkan cengeng, masa ngejar aku aja nangis."ucap ku menghibur
"Kamu senang yaa aku kejar, tapi kalau nanti aku capek, aku nggak mau ngejar kamu lagi. Buat apa aku ngejar orang yang gak peka."ucapnya kesal
"Hehe apaan sih, cuma bercanda kali, kamu masih mikirin apa yang Bapak ucapkan tadi?."tanyaku
"Iyaa lah Nad, semua nya buat aku nggak nyangka dan bener-bener terkejut, aku ngerasa jadi anak yang paling bodoh, aku sampai sekarang belum bisa balas dendam atas kematian orang tua ku."ucap Satrio mengepal kan tangannya
"Udahlah Sat, balas dendam bukan hal yang baik, mending kita cari cara aja supaya mereka ditangkap pihak yang berwajib, yang paling penting keselamatan kamu dulu."ucapku
"Oh kamu sekarang khawatir sama aku? ngegemesin banget sih" ucapnya menatapku
"Yaa kan nyawa lebih penting dari pada balas dendam."ucapku memandang ke depan
Tiba-tiba hujan turun.
"Nad ayo berteduh, duh kita kesini lupa bawa baju ganti lagi."ucapnya
"Nggak aku maunya main hujan, nggak mau berteduh, aku kangen main hujan kayak anak-anak kecil yang tanpa beban."ucapku lalu menarik tangan Satrio dan menggenggam nya
"Nad kamu? ." ucapnya lalu aku potong
"Huss jangan berisik, mending kita main air lagi yu."ucapku masih menggenggam tangannya erat, karena ini sekarang yang ku mau, aku takut, takut kehilangan saat-saat seperti ini lagi.
__ADS_1
Dia hanya terdiam tersenyum. Aku pun begitu.