Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.16)


__ADS_3

"Oh, jadi kalian masih mau berteman dengan gadis 'jejadian' ini?" Tanya Sari dengan suara mencemooh.


Suasana menyenangkan tadi segera menguap entah kemana digantikan dengan suasana canggung dan menegangkan. Sejak masalah 9 bulan yang lalu, Sari sudah diasingkan oleh teman-teman kamarnya. Mereka secara alami menjaga jarak dari Sari tapi tidak berniat membencinya. Mereka sangat menyadari bila kesempatan selalu ada untuk orang yang mau memperbaiki namun tidak semua orang mau memberikan kesempatan untuk orang yang telah membuat kesalahan besar. Begitupula yang teman-teman kamar Ai rasakan kepada Sari. Akan selalu ada maaf untuknya tapi tidak dengan peluang menjalin pertemanan seperti dulu lagi. Mereka sudah terlanjur kecewa mengetahui Sari menusuk teman sekamar mereka dan bahkan berani memfitnahnya di depan staf pondok pesantren.


Sari sudah lama menjadi orang sebatas 'kenalan' untuk mereka dan ini juga tetap berlaku sampai dengan hari ini.


"Sari, jika kamu tidak tahu apa-apa lebih baik menunjukkan sikap diam saja. Ini lebih baik daripada kamu mengatakan sesuatu tapi tidak bernilai kebaikan." Ratna adalah orang pertama yang bereaksi.


Dia menasehati Sari dengan sopan dan ramah karena biar bagaimanapun juga Sari adalah bagian dari tanggungjawabnya di kamar ini.


Sari mengangkat bahunya tidak perduli. Baginya apa yang ia katakan tidak salah melainkan sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan.


"Aku mengatakan yang sebenarnya dan pasti bernilai kebaikan untuk kalian semua." Katanya dengan ekspresi menjengkelkan.

__ADS_1


Mega tersenyum dingin, ia maju beberapa langkah ke depan ranjang Sari sambil bersedekap dada.


"Kebaikan? Tahu apa kamu soal kebaikan, hah? Jika kamu tahu mulut berdosa mu ini tidak akan berani mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya!" Katanya dingin.


Bila Mega sampai ikut campur maka masalah ini tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah. Pasalnya Mega dan Sari pernah bertengkar sebelumnya ketika mereka semua baru masuk pondok. Alhasil, suasana kian tegang saja. Anak-anak yang lain dengan sigap menutup pintu kamar mereka untuk mencegah orang luar mengetahui ada perdebatan di dalam kamar Fatimah RA.


"Belum jelas kebenarannya?" Sari tersulut emosi.


Dendam dan kebenciannya kepada Mega membuat hatinya menjadi panas. Dia bangun dari duduknya, berdiri angkuh di depan Mega dengan ekspresi yang masih sama menjengkelkannya.


Dia sangat puas mempermalukan Ai di depan teman-teman kamarnya. Membuat Ai dijauhi oleh banyak orang dan bahkan sampai dikeluarkan dari pondok pesantren adalah satu-satunya harapan Sari saat ini.


Dia ingin Ai pergi, pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan pondok sehingga tidak ada lagi yang dianak emaskan oleh siapapun. Hah, entah itu dikamar atau di sekolah selalu saja Ai yang mendapatkan perhatian banyak orang.

__ADS_1


Ustazah pengajar selalu memuji Ai setiap mengajar, teman-teman kamarnya sangat memperhatikan Ai seolah-olah ada darah bangsawan di dalam tubuh Ai, dan Ustad Vano... Laki-laki tampan yang telah mencuri hatinya ini juga memberikan perhatian lebih kepada Ai. Dia sangat menyadari jika sikap Ustad Vano kepada Ai tidak seperti sikap Ustad Vano kepada santri yang lain.


Sari cemburu, Sari tidak bisa menerima semua keberuntungan yang Ai dapatkan selama ini.


Muak, itulah yang Sari rasakan setiap kali melihat adegan yang sama. Dia benci tidak bisa berdiri di posisi Ai, dia sangat membencinya!


Jadi, ketika ia mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan Ai kenapa ia harus melewatkannya begitu saja?


Tidak, dia mengambilnya dan dia telah melakukannya dengan bersungguh-sungguh! Dia telah menghancurkan citra Ai, membuat namanya rusak, dan bahkan beberapa santri mulai keberatan dengan keberadaan Ai di sini. Tidak lama lagi, tidak akan lama lagi sampai Ai benar-benar dikeluarkan dari pondok pesantren!


"Munafik? Siapa yang kamu bilang munafik! Jelas-jelas manusia munafik adalah kamu! Kamu adalah orang yang paling pantas dikeluarkan dari pondok pesantren ini! Kamu berbicara tanpa bukti apapun. Sikap kamu menunjukkan seolah-olah kamu mempunyai bukti di sini!. Tapi kami...kami punya bukti yang kuat sehingga kamu lebih pantas dikeluarkan dari pondok pesantren ini. Menyelinap masuk ke dalam sekolah asrama laki-laki dan bahkan mempunyai keberanian besar masuk ke dalam ruangan kerja Ustad Vano untuk menjebaknya, hey! Memangnya siapa yang lebih munafik dari kamu, Sari? Dosa besar yang kamu lakukan ini adalah bukti nyata bahwa kamu adalah manusia munafik! Kamu menjijikkan, apa kamu tahu!" Balas Mega berteriak lebih keras.


Kejahatannya diungkit oleh Mega, dia menjadi malu tapi juga sangat marah.

__ADS_1


"Baiklah, aku memang bersalah pada saat itu dan aku mengakuinya-"


"Kamu mengakuinya setelah diinterogasi oleh staf pondok pesantren asrama putri. Bahkan kamu sempat bersikeras tidak mau mengakuinya sebelum Ustazah menunjukkan sebuah rekaman cctv kepadamu." Asri mengoreksi dengan wajah tidak bersahabat.


__ADS_2