Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Setelah kepergian Norin


__ADS_3

Shin masih terduduk lesu di bawah ranjang tidur Norin. Ia tidak menyangka bahwa sebelum dirinya hadir di hidup Norin, wanita itu sudah memikul beban berat lahir dan bathin. Menjadi tulang punggung kelurganya. menjadi bahan olokan karena statusnya. Dan sekarang, Shin menambah beban baru, beban yang sangat berat. Keinginan wanita itu begitu sederhana. Norin hanya ingin menikah membina rumah tangga yang bahagia bersama suami dan anak anak bukan menginginkan harta yang melimpah. Tapi, kenapa Shin begitu enggan mengabulkan keinginannya itu. Kenapa ia menganggap saling mencintai tanpa harus menikah itu sudah cukup menguatkan sebuah hubungan. yang terpenting saling percaya dan saling menjaga. Pemikiran yang cukup konyol jika di pikir. Mungkin, memang benar apa yang dikatakan uncle Lee bahwa Shin harus berkonsultasi dengan seorang psikiater.


Untuk pertama kalinya Shin menangis di sepanjang hidupnya. Menangisi wanita yang telah di sakiti nya lalu meninggalkannya. Lucu memang. Shin yang menyakiti kenapa ia pula yang menangisinya. Apakah Shin menyesal? tentu saja. Shin sangat menyesali sikap serta perbuatannya pada wanita yang tulus mencintainya. Wanita sederhana dan apa adanya. Wanita yang tidak pernah meminta kemewahan padanya. Wanita yang selalu menolak apa pun yang ia berikan. Wanita itu hanya ingin di nikahi olehnya. Di jadikan pasangan hidupnya yang sah secara hukum dan agama bukan sebagai pasangan pemuas nafsunya saja.


"Maaf kan aku, maafkan aku. Kemana aku harus mencari mu sayang? tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu Norin." Shin menangis menumpukan wajahnya di kedua lututnya.


Cukup lama Shin menangis seperti seorang wanita yang sedang patah hati. Mungkin saja ia bisa jadi bahan tawaan sahabatnya Youn jika beliau ada saat ini. Shin tersadar bahwa dengan hanya menangis tidak akan mengembalikan Norin padanya. Ia harus bergerak dan bertindak. Shin berdiri, Ia tidak ingin terus menerus meratapi kepergian Norin. Ia harus mencarinya.


"Antar aku ke stasiun kereta, Tono." Titah Shin sambil masuk ke dalam mobilnya.


"kapan tuan?" Dengan bodohnya Tono bertanya, sontak saja membuat Shin kesal.


"Tahun depan." Sentak Shin membuat pria itu langsung menutup mulutnya.


"Ba baik tuan." Tono mulai melajukan mobilnya menuju stasiun kereta. Beruntung, jalanan tidak terlalu macet seperti tadi sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di stasiun tersebut.


Tiba di stasiun, Shin bergegas turun dari mobil lalu berjalan cepat ke tempat pembelian tiket.


"Tolong carikan daftar wanita bernama Norin Inayah. Apakah menjadi salah satu penumpang di stasiun ini?" titah Shin pada seorang petugas.


"maaf tuan, kalau saya boleh tau kereta jurusan mana ya tuan?"


"saya tidak tau, cari saja semua jurusan. saya akan membayar berapa pun yang kau inginkan."


"baik, baik tuan."


Lima menit kemudian, sang petugas sudah menjalankan perintah Shin.


"maaf tuan, tidak ada daftar nama Norin Inayah di kereta jurusan mana pun hari ini."


"Apa kau yakin?"


"Yakin tuan."


"baik, Shin mengambil uang tiga juta di dompetnya."


"sorry, aku tidak membawa uang cash banyak. lagi pula kamu tidak menemukan nama Norin inayah." Shin meletak kan uang itu di meja petugas tersebut lalu bergegas pergi.


Sepanjang jalan Shin menoleh ke arah kanan dan kirinya. Berharap menemukan Norin yang sedang berjalan di pinggir jalan.


Cukup lelah ia hari ini. Lalu memutuskan untuk pulang saja ke mansion nya. Shin berjalan memasuki mansion nya dengan tubuh yang lesu, wajah yang kusut serta rambut acak acakan. Ia berjalan melewati Youn yang sedang memainkan ponselnya. Setelah Youn menyadari bahwa ada orang yang sedang melintasinya ia pun mendongak kan wajahnya. Youn mengerutkan dahinya melihat penampilan Shin yang tidak biasanya karena penampilan sehari hari Shin selalu rapih.


"Bro, what happen?" tanya Youn dengan pandangan yang tak lepas dari pria lesu.


Shin menoleh ke arah sofa di mana Youn sedang duduk lalu berjalan menghampirinya dan merebahkan tubuh lesunya di atas sofa di samping youn. Ia menyenderkan punggungnya dan menengadahkan wajahnya ke atas lalu memejamkan matanya sambil memijit keningnya.


"Ada apa dengan mu Hoon? tak biasanya kau seperti ini." Youn bertanya kembali karena Shin belum menjawabnya.


"Norin sudah pergi Youn." ucap Shin lirih dengan mata masih terpejam.


"What? apa maksudmu?"


Shin menegak kan tubuhnya lalu melirik ke arah Youn."Norin sudah pergi dan aku tidak tau kemana dia pergi."


Youn ikut menegak kan tubuhnya menatap serius ke arah Shin."Ada apa sebenarnya? apa yang terjadi?"

__ADS_1


Shin menghela nafas berat, mungkin lebih baik ia bercerita saja pada sahabatnya agar beban di hatinya sedikit berkurang.


"Aku sudah menyakitinya. Aku....aku sudah merenggut kehormatannya secara paksa." Dengan wajah menunduk penuh sesal.


" What, f u c k you." wajah Youn seketika berubah warna memerah. Youn berdiri dan tanpa bicara lagi ia menarik kerah kemeja Shin hingga terangkat.


Bughh


Bughh


Dua kali tinjuan mendarat di pipi Shin hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Shin membiarkan saja darah itu mengalir di sudut bibirnya. Shin tidak melawan, ia hanya membiarkan saja sahabatnya itu memukulinya karena Shin merasa memang pantas di pukuli. Setelah puas meninju. Youn mendorong dada Shin hingga terjungkal ke senderan sofa. Shin segera mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya tersebut.


"Brengsek kau Hoon, bajingan kau. Bagaimana bisa kau menodai wanita baik baik seperti Norin? bagaimana jika Anisa tau perbuatan mu, dia bukan saja marah padamu tapi juga padaku."Youn memaki Shin sambil berkacak pinggang sementara Shin hanya menundukkan wajahnya penuh sesal.


Shin mendongak kan wajahnya."Kau benar, aku memang bajingan, aku memang brengsek. Dan aku sangat menyesal."


"Ck, menyesal katamu. Lantas apa yang akan kau lakukan setelah ini hah? dia sudah pergi entah kemana."


"Aku akan mencarinya sampai ke ujung dunia sekalipun pun."


"Okey, cari dia sampai ketemu jika tidak aku tidak akan pernah memaafkan mu." Youn beranjak pergi meninggalkan Sahabat yang sudah membuatnya marah.


Shin bangkit lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tiba di kamar ia langsung memasuki kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Noriiiiiiiiiinnnnnn.....!" teriak Shin menggema di dalam kamar mandi tersebut.


Keesokan harinya, kabar tentang keluarnya Norin dari pabrik membuat beberapa orang merasa sedih dan ada pula yang merasa senang seperti Siska dan Tari.


"Akhirnya mulai sekarang gue bisa tidur nyenyak sepanjang malam, ha ha. Si perawan tua itu akhirnya hengkang juga dari perusahaan ini." Siska senang sekali mendengar kabar yang baru saja di sampaikan oleh Tari.


"Dih, halu lu ketinggian Tar. Lu hadapi gue dulu kalau mau dekati tuan Shin."


"Lu rakus banget sih Sis, bukannya lu suka nya sama si Doni?"


" ha ha ngga dapat Doni, tuan Shin pun jadi. Apalagi tuan Shin kaya raya. Bisa jadi nyonya gue kalau sampe merit sama dia."


Tari mencebik kan bibirnya. Ia kesal sekali pada Siska yang egois dan selalu ingin yang terdepan.


Sementara Anisa, Ia termenung di meja kerjanya setelah mendengar langsung dari Youn bahwa Norin pergi entah kemana.


"kamu kenapa dan kemana Rin? kenapa kamu pergi tidak memberi tahu ku dulu Rin? apa yang terjadi denganmu sehingga kamu tidak berbicara padaku terlebih dahulu."


Anisa tidak fokus bekerja fikirannya sibuk memikirkan sahabatnya yang telah pergi entah kemana.


"Anisa, kenapa kau membuat laporan yang salah?" tanya Rabindra dengan nada tinggi menyadarkan Anisa dari lamunan nya.


"Norin." Anisa tersentak.


"Norin, apa maksudmu?"


"oh, tidak mister. Nanti akan saya revisi ulang laporannya.


"baik, kalau sudah selesai langsung kirim melalui email ke saya."


Anisa mengangguk lalu menarik nafas dan menghembuskan nya. Untuk sementara ia berusaha melupakan dulu sahabatnya itu dan mulai fokus bekerja.

__ADS_1


"Wi dewi..!" Suara bariton terdengar dari arah belakang Dewi saat ia hendak mengambil motornya di parkiran. Kemudian Dewi menoleh pada sumber suara tersebut. Setelah tau siapa yang memanggilnya ia pun mencebik kan bibirnya lalu segera mengalihkan pandangannya. Ia masih kesal pada pria tersebut.


Pria itu berjalan mendekati Dewi yang sedang menarik motornya.


"Sombong amat sih wi, di panggil diam aja. apa kamu lagi sariawan?" ledek pria berjambang.


Dewi melirik malas dengan ekor matanya."Mau apa sih manggil manggil? Dewi buru buru nih." jawab Dewi dengan ketus.


"Chie...udah kayak selebriti di kejar wartawan aja buru buru."


"emang nya harus selebriti aja yang kudu buru buru?"


"ya engga juga sih."


"terus mau apa manggilin Dewi?"


"cuma mau tanya apa benar Norin sudah resign dari pabrik ini?"


"apa perlu Dewi jawab?"


"untuk apa saya tanya ke kamu kalau saya ngga butuh jawabannya."


"ya."


"ya apa?"


"ya, udah resign."


"kenapa dia resign?"


"A Doni itu udah kayak wartawan aja deh. Dewi kurang tau alasannya apa? kalau mau jawaban yang lebih jelasnya ya tanya aja sama orangnya langsung. Udah ah mau cabut." Dewi hendak memundurkan motornya namun di halangi oleh Doni. Kemudian Dewi melototi pria tersebut.


"apa?"


"minggir," ucap Dewi dengan ketus.


Doni menggeser tubuhnya memberi jalan pada motor Dewi. Setelah itu, Dewi melajukan motornya meninggalkan pria yang masih melihatnya dengan heran.


"Kenapa sih itu bocah, aneh banget sikapnya."


Sementara di sebuah rumah sederhana. Intan menghampiri pria dewasa namun tampan sedang duduk termenung di sebuah bangku. Lalu, Intan menyodorkan sebuah amplop putih di hadapannya.


Pria tersebut mendongak kan wajahnya." Apa ini Tan?"


"Titipan dari mba Norin mas. Oya, Intan cuma mau ngasih tau sama mas Rio kalau mba Norin sudah berhenti kerja."


Rio menegak kan duduknya dengan raut wajah serius."Apa kamu serius Tan?"


"iya, mas. Intan serius."


"Apa Norin akan pulang ke kampung Tan?"


"Intan kurang tau mas, tadi mba Norin ngga ngasih tau pada kami alasan dia ke luar kerja. Tapi, semoga aja sih mas."


Rio terdiam dengan pandangan menerawang ke atas.

__ADS_1


__ADS_2