
"Assalamualaikum?" Salam Ustazah Nur yang baru saja kembali setelah menyelesaikan urusannya. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan staf asrama putri dengan berbagai macam kitab di dalam pelukannya yang sarat akan ilmu bermanfaat.
"Waalaikumussalam." Jawab semua orang tidak kompak.
Kebetulan Ustad Vano dan Ustad Azam baru saja berdiri bermaksud ingin∆×\~ undur diri. Mereka berpapasan langsung dengan sang objek 'alasan' mereka duduk sebentar di sini.
Di sisi lain, sang objek 'alasan' tampak heran melihat keberadaan Ustad Vano dan Ustad Azam karena mereka baru saja berbicara beberapa jam yang lalu.
"Kita bertemu lagi, Ustad." Sapa Ustazah Nur sopan setelah menaruh dengan hati-hati kitab-kitab yang sebelumnya dia peluk di atas mejanya.
Ustad Vano mengangguk ringan,"Kali ini kami datang ke sini untuk menyelesaikan kasus yang diciptakan oleh seorang santriwati." Jelas Ustad Vano kembali dalam suasana hati yang buruk.
Bila dia mengingat rekaman cctv di ruangannya, hati Ustad Vano sungguh tidak rela karena wilayahnya bisa dimasuki oleh seorang lawan jenis. Apalagi bila dilihat dari perangainya, santriwati itu mempunyai niat yang tidak baik masuk ke dalam ruangan kerja Ustad Vano.
Ustazah Nur jelas terkejut. Bila dinilai dari ekspresi Ustad Vano, dia menyimpulkan bahwa masalah ini pasti sangat serius apalagi bila staf asrama laki-laki harus ikut turun tangan.
"Astagfirullah, apa aku boleh tahu kasus apa yang diciptakan oleh santriwati bimbingan kami?" Ustazah Nur adalah ketua staf asrama putri dan dia jelas malu karena salah satu anak bimbingannya membuat masalah.
Ustad Azam dengan murah hati menjelaskan."Dia menyelinap masuk ke sekolah santri laki-laki dan mencoba masuk ke dalam ruangan kerja Ustad Vano. Ustazah, semua pergerakan santriwati itu telah direkam dengan jelas dan baik di cctv. Jika Ustazah Nur ingin melihatnya maka carilah Ustazah Laila karena kami baru saja menyerahkan rekaman itu kepadanya."
Ustazah Laila kini sudah ada di ruang tamu bersama Sari untuk menunggu kedatangan kedua orang tua Sari dan belum sempat menghubungi Ustazah Nur mengenai masalah ini.
"Astagfirullah.. bagaimana mungkin tidak ada yang memberitahuku masalah seserius ini?" Kening Ustazah Nur berkerut.
Dia memperbaiki kacamatanya tampak gelisah dan tidak nyaman.
__ADS_1
"Masalah ini..masalah ini akan kami selesaikan hari ini juga, Ustad Vano dapat yakin." Janji Ustazah Nur sambil tersenyum kecil.
Ustad Vano lagi-lagi hanya mengangguk tidak mau memperpanjang masalah. Lagipula Ustazah Nur hari ini telah membantunya tadi sehingga dia tidak mau menekan Ustazah Nur.
"Aku sudah menyerahkan semuanya kepada pondok pesantren, keputusan apapun itu yang diberikan aku harap kejadian ini tidak terulang lagi di masa depan."
Ustad Vano lalu melirik wajah merah Ai yang masih tertunduk tapi tidak sedalam ketika mereka duduk di sofa. Dari tempatnya berdiri Ustad Vano bisa melihat getaran halus bulu mata panjang Ai yang indah.
"Ustazah Nur, terimakasih untuk bantuannya hari ini. Aku sangat lega Ustazah mau membantuku tadi siang."
Ustazah Nur kemudian melihat ke arah Ai, Mega, dan Asri yang kini masih tertunduk sopan. Dia tersenyum ringan, mengangguk sopan kepada Ustad Vano.
"Untuk membalas kebaikan Ustazah hari ini aku akan mengirimkan oleh-oleh kepada Ustazah dari kotaku. Aku juga berharap Ustazah mau membantuku mengirim oleh-oleh kecil itu kepada mereka." Ucap Ustad Azam dengan wajah datar, namun sinar matanya jelas menunjukkan kehangatan.
Dua Ustad yang terkenal dingin ini kenapa tiba-tiba menaruh perhatian kepada santri baru yang masih belum jelas sifat dan sikapnya?
Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya?. Batin Ustazah Nur menebak.
Setelah berbincang sebentar, Ustad Vano dan Ustad Azam mengucapkan salam kepada semua orang. Lalu, mereka dengan langkah ringan dan lurus berjalan keluar dari ruang staf kantor asrama putri. Ketika melewati Ai, Ustad Vano sengaja merendahkan pandangannya, melirik Ai singkat sebelum kembali meluruskan pandangannya seolah-olah dia tidak pernah melakukan apapun.
Berbeda dengan Ustad Vano yang bertindak secara samar, Ustad Azam justru secara terang-terangan mengalihkan kepalanya melihat Mega dengan dalih berpura-pura mengamati sekeliling.
Tidak ada yang mengira jika Ustad Vano dan Ustad Azam yang terkenal anti akan wanita ternyata diam-diam mencuri pandang pada santriwati baru yang tidak tahu apa-apa. Ai dan Mega jelas gugup sehingga mereka tidak berani mengangkat kepala.
Mereka justru berani mengangkat kepala setelah memastikan suara langkah kaki Ustad Vano dan Ustad Azam sudah benar-benar jauh. Diam membisu, mereka masing-masing melihat punggung lurus yang kontras akan perasaan dingin itu.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu apa yang mereka berdua pikirkan akan tetapi yang pasti tidak ada kebahagiaan di sana.
Ini hanya luka..luka untuk angan-angan yang dipatahkan sebelum bisa menjadi kenyataan.
Bersambung..
Ikuti alurnya, tolong.
Saya ingin menjelaskan sedikit. Mungkin novel ini akan mengalami proses yang panjang karena akan melibatkan senior, teman, keluarga, dan bahkan cinta. Jadi saya harap kalian mau memakluminya.
Ini adalah novel remaja, bukan lagi tentang rumah tangga. Cinta di dalam dunia remaja itu sudah biasa apalagi jika terbelenggu pondok pesantren dan melibatkan urusan fisik sempurna atau tidak sempurna.
Diposisi ini kalian harus mencoba membayangkan berada di posisi Ai. Dia lahir berbeda, sudah jelas. Sekalipun orang yang dia sukai diam-diam memberikan perhatian tentu saja Ai tidak langsung menerimanya secara mentah-mentah karena sekali lagi dia.. tidak sempurna.
Dia cacat dan dia berbeda.
Di samping itu ada Mega. Meskipun terkesan dingin dan cuek, dia juga punya keraguan di dalam dirinya sendiri. Dia pernah terluka karena terlalu berharap dengan laki-laki yang disukai, di samping itu dia harus bersaing secara langsung dengan 'alasan' mengapa luka iti ada jadi perjalanannya di pondok pesantren jelas tidak mudah.
Adapun Asri. Sejatinya dia adalah orang yang ceria tapi tidak ada yang tahu dengan isi hatinya. Dia adalah anak desa, bukan dari kalangan kaya. Dalam diamnya dia memendam keraguan atas dirinya sendiri yang terlahir dari kalangan orang miskin.
Secara singkat ini adalah situasi mereka bertiga di masa depan. Saya harap bisa menuangkannya di dalam tulisan dengan memuaskan dan tidak mengecewakan.
Kapan tepatnya tamat saya tidak tahu.. intinya saya baru merencanakan ini saja. Mungkin.. mungkin bulan depan bisa diselesaikan 🍁
Oh ya, maaf baru bisa up sekarang tidak sesuai janji karena Kakak saya tadi siang dilarikan ke rumah sakit untuk melahirkan. Jadi waktu saya menulis agak tergeser, sekali lagi saya meminta maaf.
__ADS_1