
"Om Ali," Ustad Vano kini membalik tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Ali, laki-laki hebat yang pernah membuat perjanjian dengannya 9 tahun yang lalu.
"Aku sudah menunaikan janji ku, tinggal di sini selama bertahun-tahun untuk menuntut ilmu sembari memupuk diriku menjadi seorang pemimpin yang pantas memimpin Ai kelak. Dan sekarang, apa aku bisa meminta Om Ali menunaikan janji yang pernah Om janjikan kepadaku?"
Janji, semua kata-kata Ali masih terngiang jelas di dalam kepalanya. Ustad Vano tidak pernah sekalipun melupakan janji ini. Bahkan janji ini adalah sebuah cambuk untuknya agar terus melangkah dan tidak pernah menyerah dalam menuntut ilmu di pondok pesantren.
Tempat yang penuh akan aturan ketat tanpa ada negosiasi, tempat yang bermandikan aturan-aturan yang harus dilaksanakan dan tidak boleh dilanggar, tempat yang lebih pantas disebut sebagai penjara karena segala aturannya yang mengikat.
Rasanya begitu menyiksa. Ia tiba-tiba memutuskan untuk tinggal di dalam penjara yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya akan datang.
Lelah dan letih sudah menjadi langganan hati maupun fisiknya. Laki-laki yang dikenal dengan citra kuatnya begitu mudah meneteskan air mata di tempat ini. Berkali-kali langkahnya tersandung, berkali-kali hatinya terjebak dalam jurang keputusasaan.
Tidak bisa menghubungi keluarga sesuka hati, tidak bisa bertemu dengan keluarga untuk melepaskan rindu, dipaksa mempelajari bahasa Arab yang penuh dengan huruf-huruf asing, dipaksa mempelajari bermacam-macam kitab yang sarat akan huruf-huruf hijaiyah tanpa baris, dan ia juga harus menghafal kitab suci Al-Qur'an yang sebelumnya jarang disentuh ataupun dibaca oleh Ustad Vano.
Semua itu bagaikan jalanan penuh kerikil dan ranjau untuk Ustad Vano, salah melangkah kakinya akan tergelincir karena batu kerikil, salah melangkah kakinya akan terpotong karena ranjau, sungguh tiada hari tanpa keputusasaan Ustad Vano lalui di pondok pesantren.
Akan tetapi janji Ali berkali-kali membangkitkan nya, membangun semangatnya kembali agar terus melangkah hingga akhirnya Ustad Vano mulai menikmati hari-harinya di pondok pesantren. Ia mulai bisa berbahasa Arab, bisa membaca kitab-kitab tanpa baris, dan ia juga mulai menumbuhkan cintanya kepada Al-Qur'an.
__ADS_1
Perasaannya kepada Ai menuntun Ustad Vano menapaki jalan yang Allah ridhoi, jalan yang penuh akan rasa syukur dan penghambaan. Setelah semua, Ustad Vano melapangkan hatinya lebih luas lagi seraya mengetuk pintu langit di sepertiga malam agar hati dambaan jiwanya dijaga dan Allah lindungi sampai hari Allah mempertemukan mereka kembali.
"Janji adalah janji, dan janji tidak boleh diingkari. Aku akan menepati janjiku kepadamu tapi sebelum itu, izinkan aku bertanya kepada mu." Ali lalu bangun dari duduknya di hadapan semua orang.
Tidak lupa juga ia meraih tangan putrinya, membawa Ai berdiri bersama sang istri yang diikuti oleh Pak Kyai dan Umi.
Setelah mereka berdiri tidak ada satupun orang yang duduk. Mereka ikut berdiri, melihat dengan kedua mata terbuka dan dengan pendengaran yang dipertajam agar tidak melewatkan satu kata pun dari pembicaraan ini.
Meskipun bingung, Safira tetap membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau karena kepercayaannya sudah lama menjadi milik Ali. Adapun pemuda tampan nan tinggi yang kini sedang berhadapan langsung dengan suaminya ini, samar-samar ia mulai mengingat seorang anak laki-laki yang bernama Vano dan pernah berteman dengan putrinya. Bertahun-tahun menghilang tanpa kabar, ia pikir tidak akan pernah bertemu dengan anak laki-laki itu lagi, tapi siapa yang sangka jika 13 tahun berpisah mereka akhirnya bertemu lagi.
Ustad Vano tanpa ragu menjawab serius,"Om Ali, aku sudah bersedia menerimanya sejak hari dimana aku mengatakan janjiku kepada Om."
Tatapan Ustad Vano mengingatkan Ali pada tatapan remaja laki-laki keras kepala yang tidak bosan-bosannya datang mencari Ai meskipun setiap datang hanya kekecewaan yang didapatkan.
Dia sangat serius dan Ali tidak meragukan keseriusannya.
"Kesedian kamu saja tidak cukup, Vano. Putriku 'berbeda' dari wanita pada umumnya dan karena perbedaannya ini..." Ali sesungguhnya tidak tega mengatakannya tapi ini demi kebahagiaan putrinya.
__ADS_1
Dia tidak akan mau melepaskan putrinya kepada laki-laki yang menerima 'kondisinya' dengan setengah hati. Ia tidak mau dikemudian hari laki-laki ini menyerah dengan 'kondisi' putrinya dan lebih memilih membawa wanita lain naik ke dalam bahtera rumah tangga mereka.
Putrinya pasti akan sangat kesakitan.
"Mungkin putriku tidak akan pernah bisa memberikan mu keturunan."
Ini adalah hukuman yang harus putrinya tanggung di dunia tapi menjadi ladang amal pemberat timbangan untuk putrinya di akhirat. Seperti yang Almaira ungkapkan, sangat tipis sekali harapan putrinya dapat mengandung dan melahirkan keturunan.
Ini adalah kenyataan yang harus putrinya hadapi.
"Ayah," Sebuah cairan hangat mengalir dari sudut mata persik Ai.
Ia meremat tangan Ali kuat karena tidak sanggup mendengar pembicaraan ini lagi. Dia tidak bodoh dan tidak ingin menjadi orang yang munafik. Sekalipun rasa itu ada di antara mereka berdua namun rasa sepi tanpa tawa anak-anak di dalam rumah tangga mereka adalah hal yang pasti mereka lalui.
Sampai hari itu benar-benar datang Ustad Vano akan menyesal menjadikannya sebagai seorang pendamping hidup.
"Ayo hentikan." Ai memohon tak berani mengangkat kepalanya.
__ADS_1