
"Namaku..Aishi Humaira." Ai terlihat linglung.
Dia bahkan tidak sadar ketika Almaira melepaskan jabat tangan mereka berdua karena pikirannya sudah melalang buana entah kemana.
"Bagaimana menurutmu pondok pesantren ini? Apakah pendidiknya bagus dan pelayannya baik?" Untuk kedua kalinya Almaira menarik Ai dari dalam lamunannya.
"Di sini sangat bagus dan pelayanannya juga baik." Katanya sambil memaksakan senyum.
"Alhamdulillah, aku senang kamu juga berpikir seperti itu. Abi memang sangat memikirkan santri-santrinya. Tapi Ustad Vano juga berencana ingin merombak aturan pondok pesantren lebih baik lagi setelah memimpin nanti menggantikan Abi ku. Umi dan Abi sama sekali tidak mempermasalahkan rencana Ustad Vano di masa depan nanti asalkan tidak mempersulit para santri yang sedang menuntut ilmu." Suara cerianya mengalun lembut di dalam indera pendengaran Ai.
Menyerang luka Ai yang kembali menganga tanpa henti dan kelonggaran. Ai lebih banyak diam dengan garis senyum paksaan yang terus terbentuk dan bertahan di bibirnya. Satu persatu informasi yang keluar dari bibir merah Almaira bagaikan sebuah seember air dingin yang jatuh tepat di atas kepalanya.
Nyatanya ini pahit dan rasanya pun sakit, Ai tidak berbohong.
"Aku yakin Ustad Vano akan menjadi pemimpin yang baik di sini. Aku dan keluargaku percaya dengannya begitupun santri-santri yang mondok di sini. Mereka tidak mempermasalahkan Ustad Vano menjadi pemimpin di sini menggantikan posisi Abi ku. Aishi, apa kamu juga percaya seperti santri-santri yang lain?" Setelah banyak bicara Almaira akhirnya mengalihkan fokus pada Ai yang kini berjalan tertunduk di sampingnya.
"Itu..aku juga percaya dengan santri-santri yang lain. Ustad Vano adalah pemimpin yang baik dan inshaa Allah mampu memimpin pondok pesantren."
Almaira tertawa kecil,"Aku tahu kamu juga berpikir seperti itu. Aishi, apa menurutmu aku ini kejam?" Nada suaranya masih sama, ceria dan lembut tanpa ada rasa keseriusan sama sekali.
Bukannya serius, ekspresinya malah terlihat agak bersalaman. Dia adalah gadis yang lembut bahkan hatinya pun tidak kalah lembutnya, pikir Ai.
__ADS_1
"Mengapa aku harus berpikir Kak Almaira orang yang kejam?" Bermain bodoh adalah keputusan terbaik di sini.
Almaira mengusap pipinya malu.
"Aishi pernahkah kamu membayangkan berada di posisi ku?" Bukannya menjawab Almaira malah balik melemparkan pertanyaan kepada Ai.
Membayangkannya?
Ai sudah sangat sering membayangkan berada di posisi Almaira meskipun itu menakutkan. Bisa bersanding dengan Ustad Vano adalah mimpi yang paling indah di dalam hidup Ai.
Karena tidak mendengar jawaban Ai, dia kemudian melanjutkan ucapannya.
Ai mencoba membayangkan kenangan manis itu, membayangkan wajah tampan Ustad Vano diam-diam memperhatikan Almaira dari jauh.
Ini wajar karena Almaira cantik dan sederhana, parasnya bisa mudah menarik perhatian dari lawan jenis atau bukan.
"Kami sering bermain surat-suratan, menulis perasaan masing-masing di atas secarik kertas tipis. Sampai suatu hari Abi menemukan surat yang dikirim oleh Ustad Vano. Dia marah dan segera memanggil Ustad Vano ke rumah untuk disidang Abi. Tidak hanya memanggil Ustad Vano tapi Abi juga memanggil kedua orang tuanya untuk datang kepada pondok pesantren. Mereka membicarakan mengenai perasaan kami berdua secara jelas dan memutuskan untuk menjodohkan kami." Matanya mengerjap ringan penuh nostalgia menatap hamparan sawah yang sebentar lagi siap dipanen.
"Aku dan Ustad Vano sudah terikat perjodohan, kami satu sama lain sangat serius ingin melangkah menuju ke tahap yang lebih serius. Akan tetapi di dalam perjalanan menuju ke sana kami seringkali diuji oleh Allah SWT untuk meneguhkan perasaan kami satu sama lain. Salah satu contohnya adalah kamu, Aishi."
Ai tersenyum getir, akhirnya mereka membicarakan masalah ini juga.
__ADS_1
"Aku percaya dengan perasaan Ustad Vano kepadaku tapi bukan berarti aku bisa menerima setiap rumor tentang kalian berdua. Aishi, harus ku akui setiap kali mendengar rumor tentang kalian hatiku sangat sakit. Aku tidak rela calon suamiku di dekati oleh gadis lain sekalipun Ustad Vano tidak punya perasaan apapun kepadamu. Jadi maukah kamu memenuhi permintaan ku sebagai seorang gadis? Tolong berhentilah mengganggu Ustad Vano di masa depan nanti karena sungguh rasanya sangat tidak nyaman. Bukankah kamu juga seorang wanita Aishi? Kamu pasti tahu sifat alamiah wanita yang tidak akan pernah bisa disembunyikan adalah perasaan cemburu. Selain itu aku juga tidak ingin citra Ustad Vano di sini menjadi buruk karena rumor yang beredar di pondok pesantren. Mengertilah Aishi, dia akan menjadi pemimpin di sini dan dia juga akan menjadi suamiku. Tolong jangan ganggu dia lagi, aku mohon."
🍁🍁🍁
"Kak Almaira tidak perlu memohon apapun kepadaku karena setelah hari ini aku akan berusaha melupakan semua tentang Ustad Vano. Dan tolong maafkan aku karena telah membuat Kak Almaira tidak nyaman."
10 bulan yang lalu dia juga berjanji akan menjauhi Ustad Vano tapi dia mengingkarinya. Dan sekarang dia membuat janji yang sama lagi dengan orang yang berbeda.
Hari ini yang memperingatinya bukanlah orang lain melainkan Almaira, gadis cantik yang akan menjadi istri sah Ustad Vano.
Ini jelas memalukan untuk Ai.
Dia malu diperingati secara terang-terangan oleh Almaira dan dia lebih malu lagi ketika melihat betapa sempurnanya Almaira berbeda jauh dengan dirinya yang cacat.
Berbeda itu menyakitkan, dan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin itu jauh lebih menyakitkan lagi.
Sekarang kamu sudah terlempar jatuh dari angan-angan yang tinggi, maka apa kamu masih tidak malu merangkak mengharapkan laki-laki itu melihatmu disaat dia punya gadis cantik yang jauh lebih sempurna dari dirimu sendiri. Ai, belajarlah untuk melihat kekurangan diri sendiri dan bangunlah dari mimpimu!
"Terimakasih, Aishi. Aku tahu hatimu lembut dan aku harap kamu tidak mengingkari janji yang telah kamu buat.
Bersambung..
__ADS_1