Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Rencana Lamaran


__ADS_3

Norin menatap dalam kedua mata teduh milik pria di sampingnya. Ada keseriusan, ketulusan serta ada pengharapan di sorot mata teduh itu.


Norin sungguh dilema. Di satu sisi Rio adalah sosok pria yang di harapkan ibunya untuk menjadi menantunya dan jika menikah dengannya tentu akan membuat ibunya merasa bahagia. Tapi, di sisi lain Norin tidak memiliki perasaan cinta melainkan hanya rasa kagum pada sosok dewasa dan sopan yang ada pada diri pria itu.


" Norin, bukan kah kata menikah itu yang kamu harapkan dari setiap laki laki yang menyukaimu? kenapa kau ragu disaat ada laki laki setulus Rio yang ingin menikahi mu? percayalah, seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh Rin."


"dek!" Panggilan Rio membuyarkan lamunannya.


"maaf mas!"


Rio tersenyum tipis. "Saya ini pria yang sudah tak lagi muda dek. Pacaran itu bagi saya hanya akan membuang buang waktu saja. Pacaran bisa di jalankan setelah menikah akan terasa lebih indah dan juga halal. Saya tau, dek Norin tidak memiliki rasa apapun pada saya, tapi Sungguh Saya ingin menjadikan dek Norin istri dan ibu untuk anak anak saya kelak."


"Nyeeesssss"


"kata kata itu....kenapa tidak keluar dari mulut tuan Shin? melainkan dari mulut pria yang baru mengenalku tak lebih dari satu minggu. Apa memang Allah mengirimkan pria ini sebagai jodohku?" Norin bermonolog.


"astaghfirullah hal adzim," ucap Norin tanpa sadar.


"kenapa dek?" tanya Rio pada wanita yang tengah memejamkan matanya.


Norin membuka kelopak matanya lalu tersenyum tipis. " ngga mas, maaf."


"bagaimana dek, dengan lamaran saya secara personal ini?"


"saya.....saya serahkan semuanya pada ibu saja mas!"


"oh, tentu saya akan melamar dek Norin secara resmi. Besok malam saya akan membawa keluarga saya untuk melamar dek Norin."


"secepat itu?"


"segala sesuatu yang memiliki niat baik memang harus segera di laksanakan kan dek? semakin cepat semakin lebih baik," jawab Rio lalu tersenyum lebar.


Norin hanya tersenyum saja mendengar ucapan pria yang hendak melamarnya.


"ya Allah, apa pria ini adalah jodoh yang engkau kirimkan untuk menemani sisa hidupku? pria yang akan selalu menyayangiku hingga akhir hayat ku? jika memang benar dia jodoh ku, tolong tumbuh kan lah benih cinta di hati ini untuknya!" Norin bermonolog.


"kita keluar pantai yuk dek, kamu pasti lapar kita cari restouran sekalian cari mushola untuk sholat dzuhur."


Norin mengangguk menyetujui ajakan Rio.


"mau makan dulu apa mau sholat dulu dek?" Rio bertanya pada wanita yang tengah diam saja.


Norin melirik pada pria yang tengah mengemudi.


"kita sholat dulu mas!"


"siap ratuku !" ucapan Rio membuat Norin tersenyum.


Rio memarkirkan mobilnya di sebuah mushola kecil di tepi jalan. Kemudian mereka menuruni mobil tersebut lalu berjalan menuju tempat air wudhu.


Mushola telah sepi, karena jam menunjukan pukul setengah dua. Rio menunggu Norin yang masih mengambil air wudhu. Sambil menunggu Norin, Rio membuka gawai ponselnya yang ia abaikan sejak dari tadi pagi. Ia melihat ada sebuah pesan masuk dari orang yang tentu saja Rio sangat mengenalnya.


" Alesa sakit mas, demamnya tinggi." Rio menutup ponselnya setelah Norin datang tanpa membalas pesan itu terlebih dahulu."


" kita sholat berjamaah ya dek?"


Norin mengangguk menyetujui ajakan pria yang akan menjadi imamnya.


Kemudian mereka mulai melaksanakan sholat berjamaah dzuhur dengan khusuk.


"andai saja yang menjadi imam sholat ku adalah tuan Shin." Norin bermonolog di sela sela doa. Setelah mereka selesai melaksanakan sholat berjamaah.


"dek, dek Norin ?" panggilan Rio membuyarkan lamunannya.


"iya mas!"

__ADS_1


"apa berdoa nya udah selesai?"


Norin mengangguk lalu membuka mukena dan melipatnya kembali.


Mereka kembali memasuki mobil yang terparkir di halaman mushola kecil.


"Dek Norin mau makan di restouran apa?" tanya Rio pada wanita yang tengah memakai sabuk pengaman.


"terserah mas Rio aja saya mah ngikut aja."


"ngikut apa kata suami ya?"


Norin melirik lalu tersenyum tipis.


"bibir itu manis sekali, ngga sabar pengen cepat nikahi lalu melahapnya," gumam Rio dalam hati sambil senyum senyum sendiri.


Norin memperhatikan raut wajah Rio yang tengah tersenyum saja padahal tidak ada lelucon.


"kenapa senyum terus mas?"


"lagi ngebayangin dek!"


"ngebayangin apaan mas!"


"pengen cepat nikahi kamu biar bisa sentuh kamu sepuasnya tanpa ada jarak." Rio mulai berani menggoda Norin.


Sementara yang di goda hanya tersenyum tipis saja.


Tak terasa mobil memasuki area parkir restouran lesehan.


"ayok dek turun!"


Norin mengangguk lalu menurunkan kedua kakinya ke atas tanah. Kemudian mereka jalan sejajar memasuki restoran lesehan yang menghadap ke pantai. Lalu, mereka mencari saung yang kosong.


"saya suka semua makanan mas, yang penting halal."


"good !" senyum mengembang di bibir tipis Rio.


Norin dan Rio mulai memilih makanan yang hendak di pesan. Kemudian Rio memanggil seorang waiter.


"saya pesan kerang dara, udang crispy sama ayam bakar dan minumnya teh hangat aja. Terus kalau calon istri saya pesan cah kangkung, cumi saos tiram dan kembang tahu serta minumnya air putih aja."


"baik mas, mba, di tunggu sebentar ya?"


Rio dan Norin mengangguk.


"kok mas nyebut calon istri di hadapan waiter itu?" Norin protes.


"abisnya pria tadi melirik dek Norin terus! lagi pula dek Norin memang calon istri saya meskipun belum lamaran resmi," ucap Rio lalu tersenyum lebar.


Norin hanya tersenyum tipis saja sambil menunduk.


Tak terasa waktu menunjukan pukul empat sore dan mereka memutuskan untuk pulang saja.


Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di depan rumah Norin dan Bu Aminah sudah menunggu ke datangan anak gadisnya di teras rumah dengan senyum yang terus tersungging.


Tak sedikit pasang mata yang memperhatikan dan menggosipkan kedekatan Norin dan pria tampan yang baru turun dari mobil warna hitam tersebut.


Ada yang senang, ada pula yang iri melihat anak gadis Bu Aminah di dekati oleh pria tampan dan seorang PNS. Salah satunya Bu Sum, ibunya Susi. Dari dulu ia memang tidak suka pada Norin yang memiliki kecantikan dan kepintaran melebihi anaknya Susi.


Dulu, Bu Sum merupakan orang terkaya di kampung tersebut. Sawah dan kebunnya banyak dimana mana. Namun, gelar orang terkaya di kampung tersebut tidak lah berlangsung lama setelah suaminya menikah lagi dan di tipu oleh istri barunya sehingga memiliki hutang dimana mana dan mengharuskan semua sawah serta kebunnya di jual habis. Kerap kali ia sering melarang anaknya berteman dengan Norin ketika masih kaya. Karena selain Norin cantik dan pintar ia juga berasal dari keluarga miskin.


Setelah itu, keadaan berubah. Bu Sum yang kaya itu berubah jadi miskin yang tak memiliki apa apa. bahkan untuk menyekolahkan Susi ke tingkat SMA saja ia tidak mampu. Lain lagi dengan Norin meskipun miskin tapi ia masih memiliki otak yang cerdas sehingga ia bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA dengan bantuan bea siswa berprestasi.


Bu Sum kesal sekali pada ibu ibu yang memuji anak gadis Bu Aminah saat mereka bergosip di warung yang tak jauh dari rumah Bu Aminah.

__ADS_1


"saya yakin lakinya ngga bakal ngawinin tuh si Norin. laki jaman sekarang itu nyari nya yang masih muda dan seger. lah itu si Norin udah tua mana ada laki laki yang mau sama dia. meskipun itu laki deket sama dia, aku yakin pasti campur tangan ibunya."


" lho Bu Sum kok sewot gitu! meskipun si Norin udah berumur tiga puluh tahun, tapi dia mah cantik banget dan wajahnya kayak masih umur dua puluhan. lah si Susi umur tiga puluh tahun tapi mukanya kayak udah umur empat puluh tahun lebih," jawab seorang ibu yang merasa geram pada Bu Sum karena terus saja mencela Norin.


Bu Sum menghentak kan kakinya ia kesal anaknya Susi dibanding bandingin meskipun kenyataannya demikian lalu ia pergi meninggalkan warung.


"saya sudah mengembalikan anak ibu tanpa kekurangan suatu apapun dan terima kasih banyak ya Bu." ucap Rio.


"Nak Rio ini ada ada aja, Ayok masuk dulu!"


Rio tersenyum lebar. "terima kasih banyak Bu, tapi saya ngga bisa mampir sekarang. besok malam inshaallah saya kemari lagi Bu."


"oh begitu, yaudah kalau gitu hati hati pak Rio!"


Rio mengangguk." kalau gitu saya permisi pulang dulu ya Bu dan dek Norin, assalamualaikum."


"wa'alaikum salam, terima kasih ya mas!" ucap Norin.


"sama sama dek!"


Norin dan Bu Aminah menatap kepergian mobil hitam Rio. Setelah mobil tersebut tak nampak lagi dari pandangan mereka masuk ke dalam rumahnya.


"kamu abis dibawa main kemana aja Rin sama pak Rio ?" tanya sang ibu yang tengah mengekor di belakang.


"ke pantai Bu, terus makan di restouran," jawab Norin sambil berjalan menuju dapur.


"terus apa pak Rio ada bilang sesuatu sama kamu Rin?" Rasa penasaran sang ibu mulai meronta.


Norin berhenti dan berdiri di samping meja makan.


"Ada Bu!"


"pak Rio ngomong apa Rin? tanya sang ibu lagi semakin penasaran.


Norin berbalik lalu menatap pada ibunya.


"mas Rio bilang dia mau kemari besok malam bersama keluarganya Bu!"


"maksud kamu, pak Rio mau melamar kamu? apa kamu serius Rin?"


Norin mengangguk."iya Bu!"


Bu Aminah melebarkan matanya lalu menutup mulutnya. Ia merasa terharu sekali mendengar pengakuan dari anak gadisnya itu.


Kemudian Bu Aminah menghambur memeluk Norin.


" ibu senang sekali akhirnya doa ibu terkabul Rin, akhirnya anak ibu akan dilamar oleh pria sebaik pak Rio, menantu yang ibu harapkan," ucap ibu sembari menangis dalam pelukan Norin.


"bagaimana aku bisa menolak pak Rio, jika Sumber kebahagian ibu ada padanya," Norin bermonolog.


Bu Aminah melepaskan diri dari pelukan Norin lalu ia mengusap air matanya.


"besok ibu mau ijin ngga ngajar, mau belanja ke pasar untuk mempersiapkan acara lamaran kamu Rin."


"ibu ngajar aja, biar Norin yang ke pasar. Kasian kalau anak didik ibu harus di abaikan."


Bu Aminah diam sejenak.


"apa ngga apa apa kalau kamu belanja sendiri?"


"ngga apa apa Bu, Norin bisa kok."


"yaudah kalau gitu, ibu mau menghubungi kakak serta adikmu dulu biar besok mereka pulang."


Bu Aminah beranjak masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Norin yang tengah berdiri mematung.

__ADS_1


__ADS_2