Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
EXTRA PART II


__ADS_3

Pulang dari kantor Ali segera masuk ke dalam kamarnya dengan langkah terburu-buru. Di rumah dia tidak melihat Safira padahal biasanya Safira akan menyambut kepulangannya setiap pulang dari kantor.


Tidak hanya khawatir Ali juga heran karena tidak melihat siapa pun di rumah. Bahkan anak-anak yang biasanya berteriak nyaring setiap kali dia pulang kerja tidak ada di ruang tamu ataupun di ruang keluarga.


"Assalamualaikum, sayang?" Ali membuka pintu kamar mereka.


Di dalam Safira tampak terkejut melihat kepulangannya. Wajah cantiknya yang mulai agak gembil membentuk senyuman yang sangat indah dan langsung menghilangkan rasa paniknya.


Entah itu hanya perasaannya saja atau tidak, malam ini Safira sepertinya menggunakan sebuah riasan tipis dan baju tertutup yang menyenangkan mata.


"Waalaikumussalam." Dengan langkah ringan, Safira perlahan mendekati Ali.


Merentangkan tangannya untuk memeluk suami yang sudah seharian dia rindukan. Ah, jika bisa dia ingin berlari ke perusahaan untuk menempeli Ali sampai rindunya terobati. Namun, dia tidak melakukannya karena dia tahu suaminya pasti sangat sibuk bekerja.


"Mas Ali pulang." Bisik Safira sangat bersemangat.


Saking bersemangatnya dia tidak ragu melemparkan dirinya masuk ke dalam pelukan Ali. Membuat Ali tanpa persiapan mundur beberapa langkah mendapatkan pelukan dadakan dari istrinya.


"Pelukannya ditunda dulu yah, karena badan ku saat ini bau keringat." Ali ingin melepaskan Safira dari pelukannya. Tapi Safira menolak melepaskan.


Bukannya melepaskan dia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Ali. Menghirup wangi Ali yang masih harum dan tidak berbau sama sekali. Jujur, dia suka menghirup wangi Ali setiap kali pulang bekerja. Untuk beberapa alasan dia akan menunggu Ali di depan pintu rumah karena tidak sabar tapi khusus untuk malam ini, dia melewatkan kebiasaannya itu untuk hari penting suaminya.


"Mas Ali," Bisik Safira dari dalam pelukan suaminya.


"Hem?" Respon Ali lembut seraya menarik Safira masuk ke dalam pelukannya lebih erat lagi.


Safira sangat wangi malam ini. Wangi bunga mawar merah seperti di malam pertama mereka. Apa ini hanya perasaannya saja?


Karena seharian tidak bertemu dengan istrinya membuat Ali sangat merindukannya. Dia sepanjang hari di kantor berusaha bekerja cepat agar bisa segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang menemui anak-anak serta istrinya.


"Selamat ulang tahun." Bisik Safira dengan suara yang amat sangat lembut.


Sekarang Ali mengerti mengapa malam ini istrinya berkali-kali lipat mempesona. Bahkan, malam ini istrinya seolah seperti wanita cantik nan anggun yang duduk diam menunggunya ketika malam pertama 5 tahun yang lalu.


Ah, tidak terasa pernikahan mereka sudah berjalan 5 tahun dan telah dikaruniai 4 anak yang sangat luar biasa selalu menenangkan hatinya.


"Terimakasih, istriku. Aku bahkan lupa hari ini adalah hari ulang tahun ku." Ali sama sekali tidak mengingatnya.


Mungkin karena sekarang dia sudah punya anak dan istri, ditambah kedua orang tuanya masih lengkap mungkin membuatnya tidak memikirkan hal-hal yang tidak berarti.


Sama halnya seperti ulang tahun. Ini hanya bertambahnya usia satu tahun, benar, itu sama halnya dengan mengambil satu langkah lebih dekat dengan batas waktu tinggal di dunia persinggahan ini.


Safira tersenyum manis. Malam ini dia sangat manja dan manis.


"Aku punya hadiah untuk Mas Ali," Katanya seraya melepaskan pelukan mereka.


"Namun sebelum itu kita harus menikmati malam ini selayaknya pasangan kekasih yang sedang berkencan. Apa Mas Ali bersedia?" Tanyanya dengan ekspresi manis yang menggemaskan.


Ali tertawa kecil. Tangannya sangat gatal menyentuh pipi gembil Safira. Namun dia ingat masih belum mandi sehingga keinginannya ini harus dia tahan dulu.


"Aku tentu saja bersedia tapi badan ku bau keringat dan kotor saat ini jadi aku harus mandi lebih dulu agar bisa menikmati malam indah ini bersamamu." Kata Ali bersiap melepaskan tangan Safira tapi tidak diizinkan oleh Safira.


"Enggak, enggak boleh, Mas. Safira lebih suka Mas Ali seperti ini, lagipula.. Safira tidak mau menunggu jadi lebih baik Mas Ali ikutin aja kemauan Safira..ya? Inikan hari ulang tahun Mas Ali jadi mau ikutin permintaan Safira?" Pinta Safira seraya bergelayut manja di lengan Ali.


Melihat ini Ali hanya bisa menghela nafas panjang. Dia mengecup bibir Safira singkat karena tidak bisa menahan perasaan gemasnya.


"Baiklah, tapi biarkan aku mencuci tangan dan kaki ku dulu sebelum makan." Dia bernegosiasi.


Safira kali ini tidak protes. Dia menarik Ali masuk ke dalam kamar mandi dan menunggunya dengan sabar diluar.


Ali tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat betapa aktifnya Safira malam ini. Tapi ini juga hadiah terbaik untuk ulang tahunnya karena biasanya Safira adalah wanita yang pemalu di dalam hubungan mereka sekalipun usia pernikahan mereka sudah 5 tahun.


Wanita surganya sama sekali belum berubah.


"Mas Ali jangan mandi!" Panggil Safira dari luar khawatir Ali mandi.


Pasalnya dia lebih suka Ali dengan bau keringat daripada yang sudah bersih bau sabun mandi.

__ADS_1


Ali terkekeh di dalam. Dia membuka pintu kamar mandi agar Safira bisa melihat sendiri bahwa dia hanya mencuci kaki, tangan, dan wajahnya saja.


"Kemari, Mas." Safira menarik tangan Ali keluar.


Dia membawa Ali menuju balkon kamar mereka. Di sana sudah ada meja lengkap dengan makanan dan cahaya lilin merah yang tampak sangat romantis.


"Untuk malam ini apa semua orang sengaja menghilang dari rumah?" Tanya Ali merasa lucu.


Safira tidak menutupinya,"Iya, Mas. Mereka bilang ingin membiarkan kita menikmati malam yang indah ini hehe.." Katanya seraya menekan pundak Ali duduk di sebuah kursi.


"Seharusnya aku yang melakukan ini kepadamu." Kata Ali tidak berdaya.


Dimana-mana pihak laki-laki lah yang akan menyediakan kursi untuk wanita mereka. Tapi malam ini justru Safira yang melakukan itu untuknya.


"Tidak masalah, Mas. Lagipula ini adalah ulang tahun Mas Ali jadi malam ini sepenuhnya milik Mas Ali!" Katanya tidak mau ambil pusing.


Ali tertawa kecil. Dia benar-benar terhibur dengan tingkah laku istrinya malam ini. Manis dan manja, juga sangat aktif.


Setelah itu Safira melayani Ali dengan sepenuh hati. Dia menyiapkan makanan dan air minum untuk suaminya. Mengikuti adab Rasulullah ketika sedang makan, mereka sama sekali tidak berbincang-bincang sekalipun mereka berdua memperlakukan malam ini seperti kencan pasangan kekasih pada umumnya.


Meskipun tidak berbicara, suasana diantara mereka sangat manis. Kedua tangan mereka saling terjalin dan seringkali mereka saling memandang, berbagi tatapan hangat yang sangat lembut.


Setelah sekian lama Ali akhirnya menghabiskan waktu semalaman tanpa digangguin oleh anak-anak mereka. Biasanya, setiap kali mereka sedang memadu kasih si kembar pasti akan menerobos ke dalam kamar mengganggu acara manis-manis mereka.


Jadi, ketika mereka benar-benar dibiarkan berdua bukannya lega mereka malah merindukan suara anak-anak.


"Aku punya hadiah untuk Mas Ali. Aku harap Mas Ali menyukai hadiah ini." Katanya seraya mengeluarkan kotak persegi berwarna merah lengkap dengan pita berwarna biru ke atas meja.


Ali tanpa membuang waktu lama langsung menerimanya. Ini ringan dan dari bentuk kotaknya Ali menebak mungkin ini benda elektronik atau sesuatu yang bisa mereka akan kenang untuk selamanya.


"Apa ini?" Tanya Ali seraya menarik pita biru itu.


Safira tersenyum lembut, kedua matanya mulai memerah membentuk riak-riak tipis.


"Mas Ali akan tahu setelah membukanya." Jawabnya seraya meremat kedua tangannya menahan gugup.


Hatinya berdegup kencang, dan tanpa sadar dia sudah beberapa kali menahan nafas menunggu reaksi Ali.


Lalu perlahan dia menarik kotak persegi merah itu. Di dalam kotak itu ada sebuah amplop putih khas rumah sakit dan 3 batang tespek dari merek berbeda.


"Allah akbar.." Jantung Ali berdegup sangat kencang. Bahkan kedua tangannya kini mulai bergetar menyentuh 3 batang tespek dengan hasil 2 garis yang sangat mencolok.


"Ya Allah.." Dia kemudian menatap Safira dengan ekspresi terkejut dan suka cita.


"Ya Allah.. istriku hamil..Ya Allah, Engkau kembali mempercayakan kami sebuah amanah!" Katanya bahagia.


Dia menaruh 3 batang tespek itu dengan hati-hati dan beralih membuka amplop putih khas rumah sakit itu. Di sana tertulis dengan jelas bahwa Safira Sauqi sedang mengandung dengan usia kandungan 2 bulan.


Sudah 2 bulan!


"Safira.. sayang, terimakasih!" Ali bangun dari duduknya dengan tergesa-gesa. Memeluk erat istrinya namun berusaha agar jangan sampai membuat perut Safira terjepit.


"Terimakasih istriku, terimakasih ya Allah..ini adalah kado terindah yang pernah aku terima di hari ulang tahunku." Tidak terasa ada cairan hangat yang keluar dari sudut matanya.


Ali sungguh sangat bahagia. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain rasa terimakasihnya kepada Allah dan istrinya.


Dalam pernikahan ini dia telah memasrahkan semuanya kepada Allah. Bila Allah berkehendak mereka mempunyai keturunan maka itu akan terjadi namun bila Allah tidak berkehendak maka itu juga akan tidak terjadi. Semuanya Ali pasrahkan kepada Allah.


Tidak disangka di awal pernikahannya mereka sudah dikaruniai si kembar dan Ai. Lalu 4 tahun setelah kelahiran si kembar istriku kembali dipercayakan sebuah amanah.


Sungguh, hati mereka diliputi perasaan yang sangat bahagia malam ini. Mereka selalu mengatakan ingin mempunyai banyak keturunan untuk membuat Rasulullah bangga karena umatnya semakin bertambah banyak. Mereka pikir itu hanya mimpi tapi tidak disangka Allah mengabulkan doa mereka.


"Allah sangat mencintai kita, Mas. Allah sangat mencintai kita!" Bisik Safira mulai terisak di dalam pelukan Ali.


Ali berulang kali menganggukkan kepalanya. Mengecup kening dan puncak kepala Safira dengan rasa syukur yang tidak terkira.


"Alhamdulillah ya Allah.. Alhamdulillah..amanah ini kami akan menjaganya dengan bersungguh-sungguh. Kami akan membesarkan dan mendidiknya dengan agama Mu. Kami akan bersama-sama mendaki ridho Mu, membuat mereka jatuh cinta dan hanya Cinta kepada Mu. Ya Allah..ridhoi lah kami ya Allah. Ridhoi lah kami melangkah di jalan Mu. Tolong lindungi kami Ya Allah, jangan biarkan kami lengah dan jatuh tersesat. Amanah ini..kami akan menjaganya dengan sekuat tenaga maka tolong ridhoi kami Ya Allah dan lindungi kami Ya Allah dalam melangkah di jalan Mu."

__ADS_1


Di pelukannya Safira terus menerus menangis, mengaminkan setiap doa yang suaminya panjatkan dengan tulus dan penuh pengharapan. Hadiah ini dia berjanji akan menjaganya dengan sungguh-sungguh, bersama-sama mencari ridho Allah di masa depan kelak.


Ya Allah, betapa bahagia mereka malam ini.


Mereka adalah orang-orang yang dipertemukan karena rasa cinta mereka kepada Allah SWT. Keteguhan dan keyakinan hati mereka membuat Allah mempersatukan mereka lewat doa-doa yang di langitkan di sepertiga malam. Karena ketika Allah sudah jatuh cinta kepada hamba-Nya, percayalah, dia tidak akan membiarkan hamba tersebut kecewa. Allah akan pertemukan hamba tersebut dengan hamba yang mencintai Allah pula, sehingga hidup mereka selalu dalam lindungan dan ridho-Nya sampai hari dimana semua manusia dimasukkan ke dalam surga.


...💚💚💚...


7 Tahun Kemudian


Hari ini Ai resmi masuk ke dalam pondok pesantren tempat Ayah sekolah dulu. Jujur, dia takut karena ini adalah pengalaman pertamanya jauh dari keluarga dan harus terjebak dengan banyak orang asing yang tidak dikenal.


"Aishi Humaira?" Ada panggilan untuknya dari dalam.


Ai terkejut, dengan panik dia membawa tas punggungnya masuk ke dalam beserta dokumen masuknya.


"Silakan duduk." Ujar wanita berkacamata itu.


"Terimakasih, Bu." Ucap Ai sopan.


Wanita berkacamata mata itu tersenyum ramah."Panggil saja saya Ustazah Nur. Hidup di pondok pesantren mungkin akan sedikit sulit tapi yakinlah di masa depan nanti kamu bisa merasakan manisnya tinggal di sini. Baiklah Aishi, mulai hari ini kamu harus membiasakan diri memanggil orang yang lebih tua atau guru kamu dengan sebutan Ustadzah atau Ustad." Dia lalu mengambil dokumen masuk Ai dan mencatatnya di sebuah buku tebal.


Ai mengangguk dengan cepat, sejujurnya dia tidak terlalu memikirkannya karena Ayah dan Bunda sudah mengajarinya di rumah bagaimana pola hidup di pondok pesantren.


"Baiklah, kamu sekarang sudah resmi terdaftar di pondok pesantren. Aishi Humaira, selamat datang di pondok pesantren Abu Hurairah. Saya harap kamu bisa cepat beradaptasi dan belajar dengan nyaman." Ucapnya ramah sembari mengembalikan dokumen masuk Ai.


Ai mengambilnya dengan sopan pula seraya membalas senyuman Ustadzah Nur dengan ramah.


"Terimakasih, Ustazah."


"Ya, sekarang bawa dokumen ini kepada Ustad Vano." Katanya seraya menunjuk punggung lurus dan tegap di ujung lorong.


"Setelah memberikannya dokumen Ustad Vano akan memberikan mu sebuah kartu santri pondok pesantren kita. Jadi setelah mendapatkan kartu itu tolong di simpan baik-baik dan jangan sampai dihilangkan." Katanya memberi arahan.


Ai sekali lagi menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah mengucapkan terimakasih kepada Ustadzah Nur, dia lalu membawa tas punggungnya berjalan menuju Ustad Vano yang sudah dipenuhi antrian dari santri baru sama seperti dirinya.


"Vano.." Mendengar nama ini membuatnya teringat pada sosok anak laki-laki yang telah berjanji akan menemui dan menemaninya bermain. Namun, sudah 12 tahun berlalu tapi Vano tidak pernah datang mencarinya.


Hah..


Ai tidak tahu mengapa dia sebodoh ini mengharapkan laki-laki yang mungkin sudah lama melupakannya.


"Aishi Humaira?"


Deg


Suara ini?


"Aishi Humaira, tolong berikan dokumen mu." Suara ini meskipun sudah terdengar berat dan serak tapi masih diingat dengan samar oleh Ai.


Perlahan dia mengangkat kepalanya menatap langsung pada orang-


"Kak Vano?"


...END...


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ini adalah bab terakhir dari Novel ini. Terimakasih saya ucapkan untuk semua pembaca karena telah menemani novel ini sampai pada akhirnya. Jujur, perjalanan saya menulis novel ini dilalui suka dan duka. Tapi Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan pembaca yang baik sehingga semangat saya menulis novel ini tidak pernah mundur.


Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.


Lalu untuk novel selanjutnya saya memutuskan untuk menulis tentang Kayana tapi waktu publis nya saya undur 1 minggu karena yah, saya butuh waktu untuk santai sejenak hehehe..


Baiklah hanya ini yang saya sampaikan. Mohon maaf apabila saat dalam penulisan novel ini saya pernah menyakiti atau menyinggung kalian, atau dalam penulisan novel ini ada salah kata atau sumber ilmu yang tidak jelas (Apabila ditemukan tolong jangan sungkan untuk mengingatkan saya), sungguh saya adalah manusia yang tidak sempurna dan dipenuhi kekurangan.


Jadi, saya sekali lagi mohon maaf untuk semua kehilafan yang pernah saya lakukan.


Baiklah, sampai jumpa lagi di karya selanjutnya 💚

__ADS_1


Salam hangat, Author.


Sabtu, 31 Juli 2021.


__ADS_2