
Youn, Norin serta Anisa telah bersiap hendak pergi ke lapangan golf setelah kedua wanita itu menyetujui syarat yang di ajukan oleh Youn agar dirinya bersedia mengantarkan mereka pulang ke rumah mereka masing masing.
"ladies...kalian tunggu di sini sebentar ya, ada yang ingin saya ambil dulu di dalam. sorry saya pelupa," ucap Youn sembari tersenyum nyengir. Youn menyuruh Norin dan Anisa menunggunya di garasi mobil mini dan mau tak mau mereka menuruti perintahnya meskipun Anisa sudah ingin cepat pergi ke lapangan golf yang dulu sering ia kunjungi bersama Norin.
"dia mau ngapain lagi sih? perasaan ribet banget dari tadi." Anisa kesal, dari tadi ada saja yang di lakukan oleh pria itu seperti sedang mengulur waktu.
"ngga tau, tunggu aja lah Nis."
Youn menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana kamar Shin berada. Kemudian ia membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan kebetulan pemilik kamar itu tidak menguncinya.
Setelah berada di dalam kamar, pandangan pria itu mengitari sekeliling kamar tersebut mencari keberadaan shin.
"Hoon....hoon, where are you?" teriak Youn.
Youn terus berjalan mencari keberadaan Shin hingga ia menemukan pintu balkon yang terbuka.
"oh, di sana rupanya." Youn berjalan kearah balkon dan tampak orang yang ia cari ada di sana tengah berdiam diri. Kemudian Youn mendekati orang itu lalu menepuk bahunya dan berdiri di samping pria yang tengah melamun.
Shin melirik sekilas."mau apa kau kemari?" tanya Shin dengan pandangan tidak beralih dari hamparan danau yang terlihat kecil.
"aku kemari untuk menyusul mu bro!" jawab Youn santai.
"untuk apa kau menyusul ku?"
"untuk ikut bersama kami ke lapangan golf. kau lupa selama aku tinggal disini kau belum pernah bermain golf denganku?"
"tidak penting, main saja sendiri!"
"kali ini aku tidak main sendiri tapi akan di temani oleh beautiful ladies, bukan kah hal itu menyenangkan....?"
Shin melirik malas pada temannya itu." jangan macam macam awas saja kau...!"
"ha ha ha......aku memang pria nakal tapi, aku masih memiliki rasa hormat pada wanita baik baik. aku hanya akan bermain dengan wanita nakal saja. tapi, seandainya kekasihmu itu tertarik padaku...dengan senang hati aku tidak akan menolaknya."
Shin mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya berubah menjadi merah. Kemudian menegak kan tubuhnya lalu mencengkram kaos yang di gunakan oleh Youn, mengangkat tangan yang terkepal bersiap meninju temannya itu.
"jangan macam macam kau pada kekasihku jika tidak ingin ku buat bonyok mukamu ini !" ucap Shin sambil menatap tajam pada pria yang tengah ketakutan pada tangannya yang sudah siap meninju wajahnya.
"wait....wait...be calm please. Im just joke, put your hand down, dude!"
Akhirnya Shin melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Kemudian ia berdiri lagi seperti semula.
"duh, bajuku hampir saja kau buat robek Hoon, kau tau baju ini sangat berharga dan limited edition, pemberian ibu ku yang dia beli dari Eropa?" ucap Youn sambil membenarkan kaos yang terlihat kusut oleh cengkraman Shin.
Shin mencebik kan bibirnya, ia tidak peduli lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Youn mengekor di belakang." sikapmu aneh sekali pagi ini, ada apa sebenarnya dengan mu Hoon? apa kau ada masalah dengan kekasihmu itu?" tanya youn sambil mengekori pria yang berjalan ke walk in closet.
Shin mengambil sebuah jaket hitam yang tergantung di lemari besar itu.
"bukan urusan mu!" jawab Shin sambil memakai jaket tersebut.
"alright, jadi kau akan ikut bersama kami?"
__ADS_1
Shin tidak menjawab pertanyaan temannya itu, melainkan ngeloyor pergi begitu saja melewati Youn yang tengah terbengong melihatnya. Shin menuruni anak tangga di ekori oleh youn dari belakang menuju garasi khusus mobil mini.
Sementara di garasi. Anisa menyenggol bahu Norin yang tengah memainkan kukunya sambil menunduk.
"ada apa sih Nis?" tanya Norin.
"itu liat siapa yang datang ?"
Norin mengikuti arah telunjuk Anisa. Nampak Shin tengah berjalan ke arah garasi."apa dia mau ikut ke lapangan golf?" Norin bermonolog.
Shin menaiki salah satu mobil mini yang terparkir di garasi khusus. Lalu, ia mengemudikannya dengan pelan dan berhenti tepat di depan Norin serta Anisa.
"cepat masuk !"ucap Shin dengan pandangan lurus ke depan.
Norin dan Anisa saling pandang. Mereka bingung siapa yang di suruh masuk ke dalam mobilnya oleh pria itu? sementara kapasitas mobil itu hanya untuk dua orang saja.
"maaf tuan, siapa yang tuan maksud untuk masuk ke dalam mobil tuan?"tanya Norin pelan.
Shin menoleh ke samping kiri dimana dua wanita cantik itu berdiri."apa kau mau aku menyuruh teman mu itu yang ikut denganku?"
Norin melirik pada Anisa." ya silahkan saja, saya tidak keberatan. Saya bisa ikut dengan tuan Youn," jawab Norin sambil menoleh pada Youn yang baru saja datang mengemudikan mobil mini yang lainnya.
Anisa yang mengerti maksud dari ucapan dari pria itu segera menghindar."aku mau ikut dengan tuan Youn aja Rin, daahh!" ucap Anisa sambil berjalan ke arah mobil mini Youn.
"cepat masuk !" perintah Shin lagi dengan sedikit keras. Norin tersentak Lalu menuruti perintah pria itu.
Sepanjang jalan tidak ada obrolan di antara Shin dan Norin. Mereka terdiam, sibuk dengan pikirannya masing masing hingga mobil mini yang mereka tumpangi tak terasa telah memasuki area padang rumput hijau yang sangat luas.
"waw, keren sekali!" celetuk Anisa setelah ia turun dari mobil tersebut. Ia menatap takjub pada lapangan golf yang terlihat keren sambil memutar mutar tubuhnya. Sementara Norin hanya tersenyum saja melihat tingkah sahabatnya itu.
"dasar wanita aneh, melihat padang rumput saja sudah putar putar seperti gangsing, bagaimana kalau aku membawa dia ke gurun pasir yang ada di Maroko sana? mungkin dia akan loncat loncat seperti kodok," celetuk Youn yang tengah berdiri di samping Shin sambil melipatkan kedua tangannya di atas dada dan matanya tak lepas dari wanita yang terus menerus tersenyum sambil memutar mutar tubuhnya.
"jangan samakan kebahagiaan mereka dengan kebahagiaan para wanita mu itu !"
Ucapan ambigu Shin menarik perhatian pria di sampingnya. Youn menoleh pada pria yang di anggap patung olehnya karena diam saja.
"kau berbicara? aku fikir kau itu patung....ha ha ha." Youn tertawa keras membuat dua wanita itu menoleh padanya.
Tak selang lama, seorang pria muda menghampiri mereka.
"selamat pagi tuan? apa tuan akan bermain golf? tanya pria tersebut.
"kau pikir kami kesini mau apa?"tanya Shin dengan sinis.
"ba...baik tuan saya akan mempersiapkannya." kemudian pria itu beranjak pergi.
"kau bikin orang takut hoon!"
"I don't care !"
Shin dan youn mulai bermain golf, sementara dua wanita itu hanya menjadi penonton saja.
Youn menoleh pada dua gadis yang berdiri memperhatikan mereka." ladies......apa kalian hanya akan berdiri di situ saja tidak mau ikut bermain?"
__ADS_1
"tidak tuan, kami tidak bisa memainkannya?" jawab Norin dengan suara sedikit keras karena jarak yang sedikit jauh.
Youn menoleh pada pria yang hendak memukul bola dengan stik."bagaimana kamu ini Hoon! kau tidak pernah mengajari kekasih mu itu bermain golf? apa kau hanya mengajarinya bermain di tempat tidur saja hah?"
"f u c k i n s h i t, aku tidak pernah menidurinya!" jawab Shin dengan mata tetap fokus pada bola yang hendak ia pukul.
"what? are you serious? bagaimana bisa kau tidur satu kamar dengan wanita secantik itu tidak tertarik? apa tongkatmu itu tidak bisa berdiri tegak Hoon?" ejek Youn.
Shin memukul bola itu dengan keras lalu melirik pada pria yang telah mengejeknya.
"apa kau mau ku buat seperti bola itu?"ucap shin. Ia kesal sekali atas ucapan temannya itu.
"wait wait...aku hanya penasaran saja padamu Hoon! kau belum pernah melakukan itu dengan wanita, apa kau tidak ingin merasakan betapa nikmatnya meniduri wanita? apa lagi.....jika wanita itu masih virgin. Apa kau tidak memiliki hasrat pada wanita mu yang cantik itu Hoon?"
"aku bukan kamu youn, aku tidak ingin merusak wanitaku."
"what, lantas apa tujuanmu memacarinya kalau kau sendiri saja tidak ingin menyentuhnya?"
"karena aku mencintai dan menyayanginya," ucap Shin lalu menatap pada wanita yang tengah berdiri dan juga sedang menatap padanya.
"bukan kah making love itu sebagai ungkapan dua kata cinta dan sayang?"
"aku rasa making love tidak butuh cinta dan sayang.....apa kamu meniduri puluhan wanita itu karena cinta dan sayang pada mereka?"
Youn terperangah lalu menggaruk tengkuknya." aku......aku hanya sekedar ingin saja. tapi, aku berharap suatu hari nanti aku bisa mencintai satu orang wanita yang baik dan dia juga bisa mencintaiku."
"ck, kalau kau tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruk mu itu bagaimana kau bisa mendapatkan wanita yang baik, dude? wanita baik itu akan mikir terlebih dahulu, mana mungkin mereka mau pada pria Casanova seperti mu. by the way....bukan kah kau bilang sudah memiliki tunangan di Korea ? kenapa kau berharap cinta dari wanita lain?"
"sebenarnya.....aku sudah break jauh sebelum datang ke negara ini."
"are serious?"
Youn mengangguk."dia memilih pria pengusaha kaya daripada pria yang hanya seorang dokter sepertiku."
"jadi karena itu kau sering meniduri banyak wanita?"
"itu salah satu alasannya. tapi selain itu, aku kesepian Hoon, aku juga butuh wanita untuk menemani hari hariku yang sepi ini!"
"what.....ha ha ha," Shin tertawa terbahak bahak mengundang perhatian Norin dan Anisa.
"apa yang sedang mereka bicarakan? tumben banget Shin ketawa lepas kayak gitu?" Norin bermonolog.
"mereka ngomongin apa sih Rin, apa ngomongin kita?" tanya Anisa tak kalah penasaran.
Norin mengedik kan bahunya. Ia sendiri pun tidak mengetahuinya.
"Rin, daripada bete nungguin mereka, mending ke sungai itu aja yuk?" tunjuk Anisa pada sebuah sungai di tepi lapangan golf."
"apa di bolehin sama mereka?"tanya Norin.
"ngga usah bilang, kita pergi diam diam aja."
"Ayok lah." kemudian mereka berdua berjalan menuju sungai itu tanpa sepengetahuan dua pria yang tengah asik bermain golf.
__ADS_1