Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.5)


__ADS_3

Sasa adalah gadis yang baik dan Asri tidak akan mungkin menghancurkan hatinya. Di samping itu ia juga cukup tahu diri, dari kelas sosial sampai perasaan, Kevin jauh dari jangkauannya. Kevin adalah laki-laki terhormat yang berasal dari keluarga kaya dan Sasa pun tidak ada bedanya, selain itu Kevin dan Sasa telah bertunangan, mereka saling menyukai jadi bagaimana mungkin Asri memaksakan kehadirannya di antara mereka berdua?


Dia bukankah gadis yang seperti itu. Dia tidak bisa menjadi egois bahkan sekalipun itu menyangkut hatinya.


Khanza menatap wajah canggung Asri yang kini sedang tertunduk menatap tanah. Sebagai seorang wanita, sejujurnya ia juga tidak enak hati meminta Asri menjauhi Kevin. Apalagi Asri adalah gadis yang baik, dia terbuka kepada semua orang dan yang lebih penting lagi, dia tidak keras kepala seperti Tiara dan Almaira.


Tapi jika mengingat wajah sendu Sasa kemarin, Khanza semakin tidak enak hati lagi jika tidak mengungkapkannya kepada Asri. Ia ingin Asri menjauhi Kevin sejauh-jauhnya demi Sasa dan demi kebahagiaan Sasa.


"Kak Sasa sangat mencintai Kak Kevin. Perasaan itu sudah ada sejak mereka masih di bangku SMP. Jadi, aku sangat berharap kamu menghargai perasaan Kakakku. Meskipun kamu sudah bertekad untuk menjauh dari Kak Kevin, tapi menjaga jarak saja tidak cukup. Aku ingin kamu mulai mengabaikannya setiap kali bertemu dan jika kamu mau, carilah santri laki-laki lain untuk menciptakan sebuah rumor atau apa agar Kak Sasa tidak berburuk sangka lagi kepadamu."


Mengapa harus melakukan ini?


Asri merasa ini agak tidak adil untuknya. Sekalipun ia menjauhi Kevin, ia tidak akan pernah menjatuhkan dirinya sendiri dengan menciptakan rumor atau apapun yang bisa merusak nama kedua belah pihak.


Asri tidak mau melakukan itu, dia sudah memutuskan untuk menjauh maka itu artinya dia akan benar-benar menjauh. Jadi, kenapa harus menciptakan sebuah rumor?

__ADS_1


"Maafkan aku, Kak, aku tidak bisa." Asri menolak dengan tegas.


"Aku memang menyukai Kak Kevin tapi rasaku ini tidak hina, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa mengganggu hubungan Kak Sasa dan Kak Kevin. Aku sangat menghargai mereka dan aku bahkan sangat menghargai Kak Sasa. Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk melupakan Kak Kevin daripada terus mengejarnya. Dan satu lagi," Asri lalu berdiri dari duduknya dengan ekspresi yang sangat serius.


Hari ini dia terlihat sangat berbeda dengan Asri biasanya.


"Aku sudah berjanji untuk menjaga jarak maka aku akan melakukannya. Kak Khanza tidak perlu memintaku membuat rumor untuk membuat hati Kak Sasa tenang karena aku tidak akan pernah mengingkari janji yang aku buat sendiri. Aku mungkin orang desa dan sangat jauh dari kehidupan kota. Namun, meskipun berasal dari desa bukan berarti hatiku tidak memiliki rasa kesopanan, aku sama seperti santri-santri di sini. Hatiku masih bisa melihat cahaya kebenaran jadi bagaimana mungkin aku tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?"


Khanza terdiam, untuk sesaat dia tidak bisa membalas semua yang Asri katakan karena itu semua benar. Tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak berguna dan seharusnya ia juga menghormati perasaan Asri.


Tersenyum lembut,"Aku pikir pembicaraan kita sampai di sini saja, assalamualaikum."


"Sekarang aku mengerti apa yang Ai dan Mega rasakan." Bisiknya tidak berdaya, mulai membaringkan tubuhnya di ranjang sebelum menutup matanya untuk memaksakan diri tertidur.


Hah, tiba-tiba ia merindukan hujan segera turun. Bila hujan turun hatinya sedikit lebih tenang dan perlahan ia juga bisa mengantuk, lalu jatuh tertidur bersama perasaan tidak nyaman yang sedang menggerogoti hatinya beberapa hari ini.

__ADS_1


"Asri, apa kamu tidur?" Suara Ratna segera menarik Asri dari kekosongan.


Enggan, ia membuka matanya perlahan. Menatap Ratna yang kini sedang berdiri di dekat ranjangnya.


"Ada apa?" Tanya Asri tidak mau bangun dari acara baringnya.


"Ustazah Nur memanggilmu. Dia bilang Bapak mu ada di kantor dan sekarang sedang menunggu kamu." Kata Ratna memberitahu.


"Bapak datang!" Asri langsung bangun dari acara baringnya.


"Kapan Bapakku datang?" Tanyanya sambil mengambil jilbab baru di dalam lemari dan memakainya dengan tergesa-gesa.


Ia sungguh senang Bapak datang berkunjung lagi ke pondok pesantren. Terakhir kali Bapak ke sini adalah hari ketika Bapak mengirim berbagai macam sayuran hasil panen sawah mereka.


"Aku gak tahu, As. Aku cuma menyampaikan pesan dari Ustazah Nur saja agar kamu segera ke kantor sekarang." Kata Ratna jujur.

__ADS_1


Asri akhirnya bisa tersenyum lega lagi. Ia sangat senang Bapak di sini dan sudah tidak sabar menemuinya.


"Makasih ya, Rat. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Salamnya buru-buru keluar dari kamar.


__ADS_2