Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.8)


__ADS_3

Pukul 8 malam, rumah Asri didatangi oleh banyak orang. Mereka sedang merapatkan kapan acara pernikahan bisa dilaksanakan.


Rapat berjalan sangat lancar dan menyenangkan. Semua orang bisa tertawa karena ini adalah acara yang membawa kebahagiaan tapi tidak dengan Asri yang sejak pulang hanya mengurung diri di dalam kamar.


Dia duduk bersimpuh menghadap kiblat dengan balutan mukena putih. Kedua matanya tidak pernah berhenti menangis namun bibirnya tidak pernah mengeluarkan sebuah kata-kata keluhan. Dengan rasa penghambaan dan pengharapan, kata-kata yang selalu keluar dari mulut Asri adalah kata-kata yang ia ucapkan berulangkali tanpa lelah ataupun jenuh.


"Ya Allah, bila memang ini adalah jalanku maka aku ikhlas, ya Allah. Bila memang ini adalah takdirku maka aku ikhlas, ya Allah. Bila memang ini adalah ketetapan-Mu maka aku ikhlas, ya Allah. Aku ikhlas ya Allahurabbi."


Asri Rahmawati Dewi, tiada daya dan upaya yang bisa dilakukan oleh gadis desa ini selain bersimpuh kepada Sang Maha Kuasa. Memohon ampun dan keridhoan untuk jalan hidup selanjutnya. Baik atau buruk jalan yang harus ia tapaki, hanya Allah yang mengetahui. Ia, hamba yang lemah dan tidak berdaya tanpa perlindungan dari Allah hanya bisa menyerahkan semua urusan kepada-Nya.


Asri yakin, akan ada hal baik yang menantinya dari pernikahan ini dan ia lebih yakin lagi jika hal baik itu mampu meredakan segala kesakitan atau keputus'asaannya. Allah'ualam Bishawab.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu kamarnya menarik Asri dari kesedihannya. Ia lantas bangun, mengusap wajahnya dengan kain mukena agar tidak terlihat pernah menangis sebelumnya.


"Siapa?" Katanya sambil membuka pintu, mengintip seseorang yang telah mengetuk pintu kamarnya.


"Ini aku, Kak." Ah, ini adalah adiknya, Fina.

__ADS_1


"Oh," Asri membuka pintu dan memberikannya jalan masuk.


"Masuk, dek."


Duduk di kasur, Asri tampak jauh lebih tenang dari waktu sebelumnya.


"Pernikahan Kakak sudah diputuskan. Dua hari lagi Kakak akan menikah dengan Mas Rodi." Kata Fina membawa sebuah kabar buruk- hanya untuk Asri seorang.


Asri terkejut, sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya mengerti.


"Lebih cepat lebih baik." Ini murni adalah sebuah kebohongan untuk dirinya sendiri.


Ia berusaha ikhlas menerima namun hanya Allah yang tahu betapa takutnya ia melangkah ke tahap itu bersama laki-laki yang jauh dari sentuhan agama. Ia takut namun hanya bisa memendamnya sendirian karena percuma memberitahu keluarganya, mereka tidak akan bisa menolongnya. Kecuali Allah, tidak akan ada yang bisa menolongnya.


Dia adalah penyebab semua ini terjadi namun dia enggan mengorbankan dirinya. Daripada mengorbankan dirinya untuk membayar hutang, ia malah melimpahkan semuanya kepada Asri, Kakaknya yang tidak memiliki harapan di masa depan kelak.


Hei, memangnya lulusan santri bisa apa?


Mereka hanya bisa menghafalkan Al-Qur'an, berakhlak baik, berucap sopan santun tapi tidak bisa menghasilkan uang!


Dengan kata lain mengorbankan Asri berarti menyelamatkan masa depannya. Apalagi di kota ia bisa mendapatkan semua yang ia inginkan, teman, kota yang maju, dan banyak laki-laki berjas putih yang tampan-tampan. Katakan, bagaimana mungkin Fina melepaskan kesempatan itu hanya untuk seorang laki-laki pemabuk?


Ia tidak akan pernah melakukannya!

__ADS_1


"Inshaa Allah, aku ikhlas." Jawab Asri mempertahankan senyuman di wajahnya.


Dia harus ikhlas. Mungkin pernikahan ini ada hikmahnya, dengan menikah ia bisa melupakan Kevin dan mulai belajar mencintai suaminya. Dan mungkin dengan pernikahan ini suaminya bisa menyentuh cahaya agama lagi, mulai memperbaiki diri untuk berjalan di jalan yang Allah ridhoi.


"Aku minta maaf, Kak. Tapi ini semua demi kebaikan kita bersama." Gaya bicara Fina agak berubah sejak tinggal di kota.


Tidak hanya gaya bicaranya saja namun pakaian yang ia gunakan pun lebih trendy dan fashionable daripada milik Asri.


"Aku tahu dan aku tidak mempermasalahkannya. Aku harap kamu di sana belajar yang rajin dan fokus belajar saja. Kakak yakin kamu pasti bisa berhasil di kota dan pulang dengan sukses ke desa." Asri berharap tulus untuk adiknya.


Pulang ke desa?


Ini adalah sebuah mimpi buruk pikir Fina. Dia tidak mungkin kembali ke desa bila sudah sukses nanti. Dia ingin menghasilkan banyak uang, menikah dengan seorang dokter tampan, dan membangun rumah di kota.


Mungkin suatu saat nanti sesekali ia akan datang ke desa bersama keluarga kecilnya untuk melihat keadaan kedua orang tua dan kehidupan suram Asri.


"Hem. Ya sudah, Kakak istirahat saja, aku tahu Kakak capek setelah menempuh perjalanan panjang. Dan satu lagi, tolong siapkan diri Kakak untuk malam pertama hihi... pasti itu sangat mendebarkan!" Goda Fina sebelum keluar dari kamar Asri.


Bila itu wanita lain, mungkin sudah ada warna merah muda di pipinya sekarang.Tapi tidak dengan Asri, dia hanya merasa sangat-sangat kosong.


"Yah, cepat atau lambat itu semua akan terjadi." Bisiknya mulai membaringkan diri di kasur. Menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan campur aduk.


Bersambung..

__ADS_1


Asri dan Mega akan up sampai tanggal 31 Oktober, dan pada bulan berikutnya versi Asri dan Ai akan saya publish, Inshaa Allah 🍃


__ADS_2