
"Sungguh?" Ustad Azam tiba-tiba merasa tubuhnya memanas tanpa alasan.
Padahal sebelumnya ia baik-baik saja.
Mega menganggukkan kepalanya meyakinkan.
Ustad Azam masih tidak yakin. Pasalnya ia tidak ingin istrinya merasa tidak nyaman saat mereka melakukan ekhem... ibadah nantinya.
"Apa sebaiknya kita menunda malam pertama kita saja?" Tanya Ustad Azam tidak rela tapi kenyamanan istrinya adalah yang terpenting saat ini.
Mendengar ini Mega panik, ia sontak menggelengkan kepalanya kuat menolak gagasan ini- tapi beberapa detik kemudian ia tersadar dengan apa yang ia lakukan. Malu, wajahnya kembali menunduk tidak berani menatap wajah sang suami yang kini sedang menertawakannya.
"Istriku...aku tidak menyangka kamu orang yang seperti ini--"
"Kalau Mas Azam gak mau, ya udah, Mega gak akan maksa. Asal jangan menyesal aja besok terus menuntut Mega untuk menunaikan kewajiban yang Mas Azam tolak sendiri." Ancam Mega cemberut dengan rasa malu yang telah menggunung.
Pertama ia terjatuh berlutut di depan suaminya, kedua ia mempermalukan dirinya sendiri dengan menolak untuk- oh ayolah, Mega tidak bisa memikirkan semua ini!
Ia sungguh sabda malu dan memiliki keinginan untuk memutar waktu!
"Aku bercanda, sayang." Ustad Azam telah berhenti tertawa.
"Aku tidak mungkin melewatkan malam ibadah kita, apalagi ini adalah yang pertama untuk kita berdua. Bukankah ini sangat mendebarkan?" Bisik Ustad Azam dengan suaranya yang semakin serak.
Mega cemberut,"Tadi bilangnya mau nunda.." Ia jelas sedang merajuk.
Ustad Azam gemas, kali ini dia tidak menahan dirinya lagi saat menyentuh pipi lembut istrinya. Menyentuhnya ringan tanpa tenaga yang bisa saja membuat istrinya terluka.
"Ustad Azam, ih!" Mega buru-buru melindungi pipinya yang dicubit Ustad Azam.
__ADS_1
Sejujurnya ini tidak sakit, malah Mega merasa ia dimanjakan oleh sang suami.
"Maafkan aku, apakah pipimu sakit?" Tanyanya khawatir.
Mega lagi-lagi menggelengkan kepalanya malu,"Enggak sakit kok, Mas."
Ustad Azam menghela nafas lega. Dia lalu meraih tangan kiri istrinya, menyentuh cincin putih mas kawin mereka dengan perasaan manis.
"Aku mengkhawatirkan kamu, sayang. Aku takut kamu akan merasa tidak nyaman jika kita tetap melakukannya. Namun, bila kamu baik-baik saja maka alangkah baiknya kita segera melakukan ibadah sembari mengharapkan ridho dari Allah, maukah kamu?"
Mega meremat kuat tangan suaminya. Beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Aku mau, Mas." Jawabnya malu.
Setelah itu, Ustad Azam membantu Mega melepaskan jilbab panjang yang telah melilit istrinya sepanjang hari. Menyembunyikan rambut hitam panjangnya yang memiliki wangi buah strawberry. Ini sangat manis.
Jilbab telah dilepaskan dan langkah selanjutnya mereka harus mandi. Orang yang pertama mandi adalah Mega. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, menghapus make up tipis dan terakhir mengganti pakaian pengantinnya dengan mukena putih yang langsung dibeli sendiri oleh suaminya.
"Aku sudah selesai." Kata Mega sembari berjalan menjauh dari kamar mandi.
Ustad Azam dibuat terpesona lagi melihat betapa cantiknya Mega tanpa menggunakan make up seperti sebelumnya.
"Mas Azam?" Panggil Mega gugup.
"Oh..aku akan segera mandi." Dia menjawab gelagapan, buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
"Tunggu aku...dan duduk yang manis di atas sajadah kita." Pesannya sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Ya Allah!" Setelah Ustad Azam benar-benar hilang dari pandangannya, Mega buru-buru mencari kopernya.
__ADS_1
Mengeluarkan lipstik halal dengan rasa buah strawberry, bedak tipis dari merk tertentu, dan sebotol parfum.
Ia menggunakan lipstik dengan cepat, mengolesi wajahnya dengan bedak tipis, setelah itu menyemprotkan parfum dengan tergesa-gesa.
Tidak sampai tiga menit dia telah menyelesaikan semuanya, duduk manis di atas sajadah yang telah Ustad Azam gelar sebelumnya.
Tujuh menit kemudian Ustad Azam keluar dari kamar mandi dengan baju koko putih dan sarung berwarna coklat. Wajah tampannya berlipat-lipat ganda ketampanannya karena masih basah dan jauh lebih menyegarkan dari sebelumnya.
"Kita akan mulai sholat sunah dua rakaat." Ucap Ustad Azam kepada istrinya sebelum menggemakan takbir pertama untuk mengawali sholat sunah mereka.
Mega yang kini telah sah menjadi makmum Ustad Azam di belakang, mengikuti dengan serius pula. Mereka berdua sholat menghadap kiblat, melambungkan ayat-ayat cinta Allah yang menyentuh kalbu terdalam. Tidak terasa, air mata mengalir lembut dari sudut mata mereka, menjadi saksi bisu betapa besar nikmat yang Allah berikan kepada mereka dan betapa bersyukurnya hati mereka dalam nikmat tersebut.
Hanya Allah yang tahu betapa lembut apa yang mereka rasakan saat ini dan hanya Allah pula yang tahu, bahwa hati mereka dipenuhi oleh rasa syukur yang tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata.
10 menit kemudian, mereka akhirnya telah selesai melaksanakan sholat sunah dua rakaat. Duduk di atas sajadah, sejenak mereka mulai melantunkan zikir-zikir singkat yang amat sangat berat timbangannya di akhirat kelak, Allah'ualam bishawab.
"Assalamualaikum, istriku?" Berbalik ke belakang, Ustad Azam mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh Mega.
Mega meraih tangan Ustad Azam, menciumnya hangat seraya menjawab lembut,"Waalaikumussalam, wahai suamiku."
"Kita..." Ustad Azam perlahan mendekati istrinya, merengkuh pinggang ramping istrinya agar mereka bisa lebih dekat.
Entah darimana Ustad Azam mendapatkan keberanian, namun setelah sholat sunah tadi Ustad Azam tiba-tiba menjadi berani dan suka mengambil inisiatif terlebih dahulu.
"Apakah kita bisa... melakukannya?" Bisik Ustad Azam sembari mengelus lembut pipi merah istrinya.
Mega menjadi lebih malu lagi, hanya saja melihat keberanian suaminya membuat Mega menumbuhkan keberanian untuk maju pula.
Ia menggenggam tangan suaminya yang ada di wajahnya, menggenggamnya lembut dan menciumnya penuh kasih.
__ADS_1
"Wahai suamiku, mulai malam ini dan waktu-waktu selanjutnya, aku adalah milikmu. Kamu tidak perlu bertanya kepadaku bila menginginkannya karena ini adalah kewajiban ku sebagai seorang istri sekaligus menjadi ladang amal untukku di akhirat kelak."