
"Kak Adit?" Asri tubuh bisa menahan keterkejutannya.
Dia tidak menyangka jika idola kampungnya sekolah di sini. Pantas saja beberapa tahun yang lalu dia tidak pernah melihat Adit padahal biasanya Adit selalu ikut ke sawah untuk ngawasin panen.
"Mashaa Allah, kamu masih ingat sama aku?" Adit senang Asri masih mengingatnya.
Ia pikir hanya ia seorang yang mengingat Asri-eh, tunggu! Surat itu sebelumnya ingin Asri berikan kepadanya. Itu artinya Asri sebelumnya sudah mengenalnya terlebih dahulu?
Ya Allah, jika ia tahu itu dari Asri, mungkin ia tidak akan bengong saja tadi dan segera mengambilnya sebelum terjadi keributan.
Asri menyentuh hidungnya yang kotor agak malu.
"Inshaa Allah masih ingat kok, malah aku bingung Kak Adit masih bisa mengenaliku dengan keadaan kotor begini."
Adit menggelengkan kepalanya mulai bernostalgia,"Dulu pertama kali kita ketemu keadaan kamu juga berlumpur-"
"Ekhem," Potong Kevin entah sejak kapan sudah berdiri di samping Adit.
Asri malu, dia segera menundukkan kepala dan menutup rapat mulutnya.
"Aku hanya ingin memberikannya jaket ku." Kata Adit sambil menunjukkan jaket hitam miliknya yang baru saja ia lepas dan ingin diberikan kepada Asri.
"Tidak perlu." Kata Kevin tidak menerima bantahan.
Asri pikir Kevin sangat marah kepadanya karena telah menciptakan masalah untuk Adit, tapi siapa yang akan mengira jika Kevin melepaskan sarung yang sedang melingkari pundaknya, kemudian memberikannya kepada Asri dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Pakai ini, tubuhmu tidak akan berbentuk jika menggunakan sarung."
Asri tercengang, dia menatap sarung yang ada di tangan Kevin. Besar sekali keinginan hatinya ingin menerima sarung itu tapi dia sungguh tidak bisa. Dia tidak melanjutkan semua ini karena dia tahu posisinya di sini salah. Dia tidak ingin menghancurkan hubungan siapapun walaupun kebenarannya masih belum pasti.
Akan tetapi dia yakin dengan apa yang ia rasakan jika Kevin dan Sasa lebih dari seorang teman.
Asri menutup matanya membuat keputusan.
"Maaf, Kak. Aku pikir tidak baik menolak kebaikan Kak Adit." Katanya dengan suara mencicit, mengambil jaket Adit secepat yang ia bisa dan segera mundur ke belakang untuk menjaga jarak.
Kevin yang tiba-tiba ditolak untuk beberapa waktu tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia menatap linglung sarung yang ada di tangannya lalu beralih menatap jaket Adit yang sudah ada di dalam pelukan Asri.
Rasanya sungguh tidak nyaman. Dia kesal dan ingin memarahi Asri, bila bisa dia ingin membuang jaket Adit ke dalam lumpur dan menggantinya dengan sarung miliknya. Dengan begitu Kevin akan sangat puas.
"Tapi baik menolak kebaikan ku?" Tanya Kevin tanpa sadar.
Asri kesulitan menjawab.
Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa mengatakannya. Bukankah sudah jelas? Dia telah memutuskan untuk menjaga jarak dari Kevin dan mulai melupakannya!
Hei bila jatuh cinta itu mudah maka melupakan juga rasanya tidak sulit. Dia hanya perlu pindah ke lain hati yang lebih baik dari Kevin pokoknya!
"Bukan maksud Asri begitu, Kak. Dia tidak enak menolak kebaikan Kak Adit karena orang yang pertama menawarkan bantuan adalah Kak Adit." Mega mengambil inisiatif untuk menjelaskan situasi Asri kepada Kevin.
Meskipun tidak mengatakannya secara langsung Mega tahu ada sesuatu yang salah dengan Asri. Ia pikir masalah ini harus mereka bicarakan nanti setelah pulang ke asrama- dan yah, itu hanya terjadi setelah mereka menyelesaikan hukuman.
__ADS_1
"Oh," Kevin tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dia diam mengamati Asri yang patuh menundukkan kepalanya. Di dalam hati ia bertanya-tanya kemana perginya pengakuan semalam?
"Eh, Kevin itu siapa?" Tanya Mega berbisik, dia tidak tahu atau lebih tepatnya tidak menyadari jika suaranya bisa di dengar oleh Kevin dan Adit.
Entah disengaja atau tidak, Kevin dan Adit berdiri di tempat yang sama. Jarak mereka praktis lebih dekat dari duo kulkas berjalan yang sedang merunding di belakang hukuman apa yang akan mereka bertiga terima nanti.
Asri menjawab dengan suara hati-hati,"Kak Adit itu idola di kampung ku. Dia adalah anak dari saudagar beras dan cabe di desa." Kata Asri bangga.
Keluarga Adit adalah yang terkaya di desanya. Banyak orang desa bekerja dibawah pengawasan mereka dan luar biasanya, keluarga Adit terkenal sangat dermawan dan rendah hati. Itulah mengapa para gadis di desa menjadikan Adit sebagai idola mereka.
"Wah anak saudagar ternyata, dia pasti kaya, Asri." Mega tidak sengaja melihat ekspresi Kevin dan dia tiba-tiba punya ide.
"Kata banget, Ga. Di desaku keluarganya adalah yang terkaya." Asri anehnya tidak menyadari tujuan Mega.
"Oh ya, berarti enak dong kalau nikah sama dia. Beras dan cabe melimpah jadi gak perlu beli, udah gitu warisan tanahnya pasti banyak ada dimana-mana."
Asri juga berpikiran yang sama.
"Iya lah, lha wong dia anak saudagar beras dan cabe jadi uangnya pasti banyak."
Mega asal nyeletuk,"Nah, kenapa kamu gak deketin dia aja? Lumayan kan jadi menantu saudagar beras dan cabe. Uang melimpah dan tanah tersebar dimana-"
"Ekhem," Potong Kevin datar.
__ADS_1
"Jangan berbicara, tunggu keputusan dari Ustad Vano dan Ustad Azam." Peringat Kevin terdengar marah.