
Akad telah selesai dilaksanakan dan resepsi pun sedang berjalan dengan lancarnya. Hampir pukul 10 malam, akad dan resepsi pun resmi ditutup. Semua tamu undangan pulang satu demi satu dengan souvernir unik di tangan masing-masing.
Ustad Azam dan Naga sepakat akan memberikan tamu undangan sebuah tasbih dengan warna hijau tua yang sangat cantik. Setiap butiran tasbih itu terdapat ukiran beraneka macam bunga yang sangat menarik.
Sehingga orang-orang tidak akan tidak tahan untuk menyentuhnya dan bahkan, pasangan pengantin itu berharap bila orang-orang itu tidak hanya asal menyentuh saja namun juga menggunakannya untuk berzikir melambungkan amal-amal kebaikan.
"Ma, Pa, Mega pamit dulu ya sama Ustad Azam. Inshaa Allah, Mega janji kok akan sering-sering berkunjung ke rumah dan bila ada waktu kami juga akan menginap." Suara lembut Mega yang tampak sangat pemalu membuat Mamanya tersenyum geli.
Mega masih menggunakan gaun pengantin putihnya, terbalut indah dengan make up tipis di wajahnya yang sangat indah. Dia sudah cantik alami tanpa make up sehingga perias pengantin mengatakan jika lebih baik menerapkan lapisan make up tipis di wajah Mega agar tidak menyembunyikan kecantikannya.
"Kamu ngomong apa sih, sayang? Panggil suami kamu 'Mas' atau 'suami' dong biar gak kaku lagi. Kalian kan sudah menikah, masa iya kamu manggilnya 'Pak Ustad' di rumah?" Goda Mama mengoreksi panggilan Mega kepada suaminya.
Pipi Mega kian merah. Dia sama sekali tidak berani menatap suaminya sekarang karena ia tahu suaminya pasti diam-diam menertawakannya di samping.
Tapi apa yang Mama katakan memang tidak salah. Dia harusnya mengganti panggilannya hanya saja...dia masih belum terbiasa.
__ADS_1
"Nanti...nanti Mega coba, deh!" Ujar Mega seraya menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan hangat Mama.
Mama membalas pelukan putrinya hangat, berulangkali ia mengecup puncak kepala putrinya untuk menenangkan rindu yang akan siap menggunung. Putrinya tidak akan tinggal di sini lagi, dan jujur Mama merasa kehilangan di samping ia juga bahagia bila putrinya mendapatkan laki-laki yang baik. Laki-laki yang mampu menuntun putrinya ke jalan yang Allah ridhoi. Jangan seperti ia dan suaminya dulu, karena bergelimpangan harta yang tidak seberapa menjadikan mereka berdua tamak dan serakah. Bertindak sombong di depan banyak orang mengatasnamakan kekayaan, padahal Allah tidak menyukai sikap sombong atau riya', namun mereka melakukannya karena tersesat tanpa mau menurunkan ego untuk menerima kebenaran.
"Anakku," Bisik Mama dengan kedua mata yang mulai memerah.
Muncul riak-riak tipis di dalam mata tuanya, penglihatan Mama menjadi buram karena air mata yang tiba-tiba sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Ma?" Panggil Mega ikut merasakan sedih.
"Anakku, jadilah istri yang baik, Nak. Tundukkan hatimu kepadanya dan tetaplah rendah hati. Jangan bantah kata-kata suamimu dan dengarkan apa yang ia katakan kepadamu. Karena apa, sayang? Karena surgamu sekarang sudah beralih menjadi ridho suamimu, bukan lagi menjadi ridho Mama dan Papa. Untuk itu kejarlah ridho suamimu, Nak. Jaga hubungan suamimu dengan kedua orang tuanya karena surga suamimu ada pada mereka. Jangan rusak hubungan suamimu dengan kedua orang tuanya, karena bila itu terjadi pintu surga akan tertutup rapat untuk kalian. Allah tidak akan ridho kamu dan suamimu mendekati surga apabila kamu merusak hubungan suamimu dengan kedua orang tuanya. Ingat, Nak, ridho Allah tergantung ridho suamimu, namun ridho suamimu tergantung pada ridho mertuamu. Oleh karena itu, jadilah jembatan penghubung untuk Suami dan mertuamu agar ridho Allah senantiasa mengiringi langkah kalian. Apakah kamu mengerti, Nak?" Nasihat Mama serius dengan nada yang masih lembut.
Beberapa kali, tangan bebasnya akan mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata. Ia tidak tahan untuk tidak menangis namun ia juga tidak tahan untuk menangis. Jujur, ia tidak ingin terlihat lemah di depan putrinya.
"Mega mengerti, Ma..." Mega menganggukkan kepalanya berulang kali di dalam pelukan Mama.
__ADS_1
Sama seperti Mama, ia juga tidak bisa menahan air mata di dalam matanya. Ia menangis tanpa suara tapi bukan berarti itu karena sebuah kesedihan- ah, dia memang sedih tapi kesedihannya ini bukanlah sesuatu yang diawali oleh sebuah masalah. Tidak, bukannya masalah yang ia dapatkan melainkan sebuah keberuntungan.
"Bagus, Mama harap kamu benar-benar menjadi istri yang baik untuk suami kamu." Kata Mama jauh lebih tenang.
Setelah puas memeluk Mama, Mega kemudian beralih memeluk Papanya. Memeluknya hangat untuk berbagi kehangatan.
Papa adalah cinta pertamanya di dunia ini, dan siapapun itu tidak akan bisa menampiknya. Tanpa sosok Papa yang menjadi tulang punggung keluarga, Mega mungkin tidak akan pernah bisa mengenal sosok seorang laki-laki dengan baik.
"Satu pesan Papa, Nak. Dengarkan apa yang Mama kamu katakan tadi dan berusahalah menjadi istri yang baik untuk suamimu. Ini demi kebaikan mu, Nak. Demi kebaikan kamu di dunia ini maupun di akhirat nanti." Pesan Papa singkat namun sangat berarti dalam untuk Mega.
Mega berulangkali menganggukkan kepalanya mengerti dengan kedua tangan yang memeluk erat punggung Papanya.
"Dan terakhir, bila suatu hari kamu memiliki masalah yang tidak bisa dipecahkan, jangan sungkan untuk menoleh ke belakang, Nak, karena ada Papa dan Mama yang selalu setia berdiri di belakang mu. Berbalik lah, katakan semuanya kepada kami dan lepaskan apa yang kamu rasakan, inshaa Allah kami akan membantumu menyelesaikan masalah itu, Nak. Kami akan membantumu keluar dari masalah itu." Bisik Papa memaksakan senyum di wajahnya.
Dia sungguh tidak ingin berpisah dari putrinya tapi ia juga tidak bisa menahan putrinya tetap di sini. Putri dan menantunya memiliki dunia sendiri sekarang, mereka sudah memiliki jalan yang harus ditempuh bersama-bersama tanpa perlu melibatkan mereka.
__ADS_1
Bahtera rumah tangga, putrinya kini telah memiliki sebuah bahtera. Penyempurna setengah agama dan inshaa Allah akan menjadi ladang amal yang melimpah.