Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 5.5)


__ADS_3

Hah..


Setelah hari itu Mega menyadari bahwa dia sudah kalah dan tidak punya harapan lagi. Harapannya sudah hilang sejak Azam perlahan-lahan berubah. Menggunakan alasan agama untuk menjaga jarak darinya padahal itu semua bohong!


"Itu semua kamu lakukan untuk menjauhiku." Bisik Mega di keheningan malam.


Dia mengusap wajah lelahnya yang masih belum mengantuk, menyingkirkan air mata yang telah mengenang di dalam pelupuk matanya.


"Bodohnya, kenapa aku memilih masuk ke dalam pondok pesantren ini? Meskipun bisa melihat kamu tapi aku juga akan melihat gadis beruntung yang telah memenangkan hatimu. Hah.." Menghela nafas panjang, hatinya saat ini terus saja berdenyut sakit.


Itu sangat tidak tertahankan.


"Kak Sasa sangat beruntung. Dia dicintai oleh laki-laki yang telah ku cintai sejak kecil. Hem.." Dia menarik selimut untuk menutupi setengah wajahnya.


Mengingat kembali foto cantik Sasa yang terpampang jelas di dalam ponsel Azam sebagai wallpaper utama, Mega merasa sesak.

__ADS_1


"Aku sangat menyedihkan." Gumamnya lemah.


Satu tahun belakangan ini setelah pertunangan dibatalkan Mega menjadi lebih pendiam karena sibuk memikirkan tahun-tahun harapan kosongnya. Dia ternyata baru menyadari jika sejak kecil Azam memang sudah dingin kepadanya sedangkan kepada anak yang lain dia biasa-biasa saja. Selain itu Mega selalu menunjukkan ketertarikannya kepada Azam secara terbuka namun Azam sendiri tidak pernah menunjukkannya. Bukannya menunjukkan Azam malah menjaga jarak darinya dengan berbagai macam alasan yang langsung ditolerir oleh Mega. Dan terakhir, Azam tidak pernah membalas ungkapan kasih sayangnya entah itu secara langsung atau lewat ponsel.


Mega selalu berbicara terbuka dan memperlakukan Azam dengan tulus tapi dia tidak pernah mendapatkan balasan yang selalu dia harapkan.


Nyatanya, ini hanya cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang dengan bodohnya dia pupuk semenjak belum mengenal dunia.


Sekarang setelah semua yang terjadi dia tidak tahu harus melakukan apa-apa selain menyiksa diri dalam kesepian dan harapan yang tidak sampai.


Ini bukanlah dia yang sebenarnya tapi karena luka dia belajar untuk menyamarkan diri agar orang-orang tidak menyadari bahwa hatinya sedang sakit.


"Ya Allah, aku merindukan Mama dan Papa." Bisiknya sebelum menenggelamkan diri di dalam selimut sepenuhnya.


Dia memaksakan diri untuk tidur untuk persiapan besok kalau-kalau hatinya diiris-iris lagi.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Pukul 3 pagi mereka dibangunkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Petugas kedisiplinan asrama putri masuk ke dalam kamar untuk membangunkan mereka yang masih terjebak di dalam dunia mimpi.


Bagi yang tidak terbiasa bangun malam, mereka akan sangat sulit dibangunkan bahkan marah-marah. Tapi bagi yang sudah terbiasa, mereka langsung bangun begitu mendengar suara.


"Selamat pagi, Ai." Sapa Asri setelah menguap, dia masih ngantuk tapi tidak berani tidur karena takut dihukum.


Angin malam yang dingin dan sejuk masuk menerobos melewati pintu masuk, menyapa mereka yang masih terbaring di ranjang untuk semakin mengeratkan selimut untuk melanjutkan tidur mereka. Sedangkan mereka yang sudah bangun menggigil kedinginan dan perlahan mulai berpikir jernih.


"Pagi. Apa tidur mu nyenyak?" Ai telah melipat selimut tidur dan merapikannya di atas kepala ranjang.


Setelah itu dia mengeluarkan sebuah cairan merah terang dari dalam lemari. Dari bentuknya itu seperti parfum.


"Sangat nyenyak." Kemudian dia melihat Ai menyemprotkan cairan merah itu ke atas ranjang.

__ADS_1


"Kamu pakai parfum, Ai? Kita kan dilarang bawa parfum ke sini."


__ADS_2