
Merah?
Ai langsung tersipu ketika mengingat suara dingin nan berat Ustad Vano masuk ke dalam pendengarannya tadi. Itu.. rasanya sangat hangat.. mungkin panas!
Yah, dia tidak pernah merasakan sensasi ini sebelumnya.
"Apa kamu sungguh baik-baik saja? Kenapa aku merasa jika wajahmu semakin merah?" Tanya Asri sekali lagi.
Ai segera menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah yang kian panas saja rasanya.
"Tidak apa-apa, Asri. Aku baik-baik saja." Dia tidak berbohong.
Sebenarnya, jantung Ai saat ini berdebar sangat kencang. Dia merasakan perasaan gugup bercampur rindu yang sudah lama dia dambakan. Rasa manis dan hangat ini terus meluap di dalam hati. Membuat jantungnya berdegup sangat kencang untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Mengalirkan perasaan manis yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
Ustad Vano. Batinnya berbisik.
"Tapi Asri," Ai mengalihkan pembicaraan agar rona merah di wajahnya segera menghilang.
"Ustad Vano bilang tadi, kita harus datang ke masjid setelah selesai makan siang." Kata Ai kembali gugup memikirkan hukuman apa yang akan mereka dapatkan nanti.
"Eh, benarkah?" Asri tampak bingung.
"Iya, bukankah Ustad Vano tadi mengatakannya?" Karena Ai menunduk dia tidak tahu jika saat ini Asri menatapnya dengan kebingungan yang semakin menjadi-jadi.
"Kapan? Kenapa aku tidak mendengarnya mengatakan itu?" Asri ingat, bahkan sangat ingat jika dia sudah menundukkan kepalanya untuk mematuhi apa yang dikatakan Ustad Vano dan bahkan menajamkan kedua pendengarannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Tapi dari bawah sampai lantai dua, tidak pernah sekalipun dia mendengar Ustad Vano meminta mereka ke masjid.
__ADS_1
"Bukankah..dia mengatakannya ketika kita akan menaiki tangga?" Suaranya kian kecil ketika mengatakan ini karena lagi-lagi dia teringat dengan suara dingin nan berat Ustad Vano yang selalu bergema di dalam kepalanya.
"Apa kamu yakin?" Asri ragu karena dia yakin tidak mendengarnya sama sekali.
Ai mengangguk dengan yakin tapi tidak berani menatap wajah Asri. Panas yang coba dia padamkan di wajahnya entah mengapa rasanya kian panas saja.
"Dia mengatakan itu." Ai jelas-jelas mendengarnya.
"Hah.. mungkin saat itu aku terlalu fokus dengan dengan sekeliling sehingga aku tidak fokus ketika Ustad Vano mengatakan itu." Katanya berpikir positif.
Ini mungkin kelalaiannya karena terlalu sibuk memikirkan pendapat orang sehingga tanpa sadar tidak mendengarkan apa yang Ustad Vano katakan.
Tapi, sejujurnya dia ragu akan hal itu karena dia yakin selalu menajamkan telinganya agar bisa mendengar semua yang dikatakan Ustad Vano.
Bukankah ini aneh hanya Ai saja yang mendengarnya?
Atau mungkin Ai salah dengar mengingat tadi dia sempat linglung di tangga?
"Ai," Panggil Asri tiba-tiba ingin memberitahu Ai tentang apa yang sedang menghantui pikirannya sejak tadi.
"Ya?" Ai mengangkat kepalanya menoleh ke Asri.
"Entah mengapa aku pikir Ustad Vano sering memperhatikan ka-"
"Huss." Potong suara ringan di sampingnya.
Ai dan Asri kompak menoleh ke arah asal suara. Ternyata itu adalah senior mereka di sini.
__ADS_1
"Biasakan berzikir ketika berada di dalam masjid daripada membicarakan hal-hal yang tidak penting." Bisiknya memberitahu dengan sopan.
Ai dan Asri langsung meminta maaf kepadanya. Mereka malu dan tidak punya keberanian berbicara lagi. Jadi, selama di dalam masjid mereka diam-diam berzikir di dalam hati mereka.
...🍁🍁🍁...
"Wah, hari ini Ustad Vano sangat romantis!" Mereka sudah menyelesaikan sholat dan seharusnya bisa turun. Tapi Ai tidak mengerti kenapa mereka masih belum turun juga.
Tapi meskipun begitu dia suka mendengarkan tentang Ustad Vano. Jadi, dia di sini diam-diam menundukkan kepalanya untuk mendengarkan mereka membicarakan tentang pujaan hatinya.
"Ya Allah, kamu benar. Ustad Vano hari ini mengulang sebanyak tiga kali ayat ke 21 Ar-Rum. Membuat ku bertanya-tanya sepanjang sholat apakah Ustad Vano mengulanginya untuk seseorang atau dia hanya ingin melakukannya saja tanpa alasan."
Ai tanpa sadar melihat ke pagar pembatas di lantai dua. Untuk yang kesekian kalinya jantung ini berdebar kencang memikirkan tentang Ustad Vano. Apalagi ketika sholat tadi, suara indah dan lantang itu..Ai menerka-nerka apakah itu adalah Ustad Vano?
Faktanya itu memang suara Ustad Vano. Dia terkejut, tidak pernah dia bayangkan sebelumnya bisa mendengarkan Ustad Vano membaca Al-Qur'an. Apalagi ayat yang Vano ulangi tadi adalah ayat yang menekankan tentang cinta.
"Surat Ar-Rum ayat 21.." Bisiknya.
Dia memalingkan wajahnya, menatap lantai seraya membaca ayat romantis yang Ustad Vano baca tadi.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Wa min aayaatihiii an kholaqo lakum min angfusikum azwaajal litaskunuuu ilaihaa wa ja'ala bainakum mawaddataw wa rohmah, inna fii zaalika la-aayaatil liqoumiy yatafakkaruun.
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara mu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)
Bukankah maknanya sangat romantis?
__ADS_1
Ai bertanya-tanya untuk siapa ayat romantis ini. Dia tidak berani berharap bahwa orang yang Ustad Vano pikirkan saat membaca ayat ini adalah dirinya karena dia tahu betul seberapa rendah kualitasnya.
Dia tidak sempurna, ingat?