Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 4.4)


__ADS_3

Untuk yang kesekian kalinya Ai mendesah tidak berdaya.


"Kalian berhentilah bertengkar! Kita akan dihukum jika ketahuan nanti. Lihat!" Ai berdiri untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja dan kepalaku juga baik-baik saja! Jadi berhentilah bertengkar!" Teriak Ai menarik perhatian mereka bertiga.


Dia sangat khawatir ada Ustazah, Ustad, atau bahkan petugas kedisiplinan yang mengetahui keributan ini.


"Aku sudah bilang kepala Ai mengalami masalah!" Asri bersikukuh ada yang salah dengan kepala Ai.


"Aku tahu! Sejak kecil dia adalah orang yang tidak suka berbicara banyak apalagi berteriak. Tapi lihat tadi, dia berbicara banyak bahkan berteriak!" Mega juga mencurigai jika kepala Ai mengalami masalah saat terjatuh tadi di lantai.


Sari yang masih mengukuhkan segenap tenaganya untuk menahan mereka menyempatkan diri untuk memutar kedua matanya malas.


"Alah dasar manja! Kalian mengkhawatirkannya seolah-olah dia jatuh dari gedung tinggi saja!" Sari meminta masalah.


"Apa yang kamu bilang!" Mega menarik kuat rambut berantakan Sari.


"Dia bilang Ai manja!" Teriak Asri mengompori.


"Ya Allah, kalian.." Ai tahu berbicara tidak ada gunanya.

__ADS_1


Jadi dia berdiri bingung melihat sekelilingnya memikirkan cara melerai mereka bertiga.


"Aku tidak punya cara lain!" Ai melihat bantal yang ada di kasurnya.


Dia mengambil dan memeluknya seerat mungkin."Ya Allah, tolong bantu aku!" Bisik Ai sebelum berlari ke arah mereka bertiga.


Menempatkan bantal tidurnya di tengah-tengah agar mereka segera melepaskan cengkeramannya tangan masing-masing.


"Berhentilah..." Kata Ai menasehati.


"Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik!" Dia masih berbicara.


"Jangan di sini Ai, nanti kepalamu bermasalah lagi!" Kata Asri tidak mau melepaskan Sari.


Mega kemudian menatap Ai rumit. Wajahnya mulai berkeringat dan menjadi merah karena terlalu banyak menghabiskan tenaga.


"Kepalamu benar-benar bermasalah!" Katanya masih keras kepala.


Ai tidak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan mereka berdua bahwa dia baik-baik saja. Dia berteriak dan banyak bicara saat ini karena mereka bertiga bertengkar!


Oh ayolah, jika mereka tidak seperti ini maka dia tidak akan pernah mau mengeluarkan banyak suara apalagi sampai berteriak. Bukankah itu sangat canggung?

__ADS_1


"Menyingkir Ai, aku tidak mau berurusan dengan orang yang lemah!" Sari semakin menambah bahan bakar.


"Kamu barusan bilang apa?" Mega tanpa ampun menarik kepala Sari karena marah.


Asri juga marah, dia ikut menarik rambut Sari sehingga terdengar suara ringisan. Sari meringis kesakitan karena rambutnya ditarik kiri kanan. Sejujurnya dia tidak bisa terus seperti ini karena dia pasti akan kalah telak.


Di samping itu, ini adalah pengalaman pertama Asri bertengkar sampai menggunakan kontak fisik. Dia awalnya takut tapi ternyata menikmati sensasi ini. Apalagi ketika dia melihat wajah menyebalkan Sari yang meringis kesakitan membuatnya sangat puas!


"Ayolah! Kalian jangan bertengkar lagi!" Ai lalu membuang bantal tidurnya karena berubah pikiran. Dia beralih memeluk Sari dari belakang karena mencoba menariknya dari cengkeraman tangan Asri dan Mega.


Tapi sekali lagi, bukannya membantu Ai malah memperkeruh keadaan. Sari berteriak nyaring kesakitan karena ditarik dari depan dan belakang. Kedua matanya mulai memerah ingin menangis tapi dia sekuat tenaga menahannya sampai sebuah suara berat membuat waktu seolah membeku.


"Astagfirullah, apa yang sedang kalian semua lakukan!" Itu adalah suara berat dari laki-laki paruh baya.


Mendengar ini, mereka berempat sontak bergerak berpisah. Ai secara naluri berdiri di dekat Mega dan Asri sedangkan Sari secara tahu diri menjaga jarak dari mereka.


Di depan pintu kamar Fatimah RA berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan peci putih di kepala yang tampak berwibawa dan terhormat, di belakangnya ada Ustad Vano yang berwajah datar dan seorang laki-laki muda yang sebelumnya tidak pernah Ai lihat tapi tidak dengan seseorang di sampingnya. Mega langsung berubah menjadi pucat pasi ketika melihat laki-laki itu tapi langsung berpaling untuk menyembunyikan betapa terkejutnya dia saat ini.


Bagaimana mungkin kami dipertemukan di waktu yang tidak tepat?. Batinnya kesal.


Di belakang Ustad Vano dan laki-laki itu, ada beberapa petugas kedisiplinan putri salah satunya adalah Sasa dan Tiara. Tentu saja keributan ini mengundang banyak pasang mata ingin tahu yang terus mengintip ke arah mereka berempat untuk melihat siapa pembuat keributan yang menggemparkan asrama putri.

__ADS_1


Sari melihat kedatangan mereka semua, otaknya yang terlalu cerdas langsung berpikir cepat. Dia menganalisis saat ini jilbabnya sudah terbuang entah kemana dan rambutnya juga acak-acakan karena perbuatan mereka. Tampilan ini seharusnya sudah cukup untuk membuat orang-orang berpikir bahwa dia sedang di buli oleh mereka berempat!


"Hiks.. Ustad, tolong aku.." Dia tiba-tiba menangis terisak, membuat Asri dan Mega menatapnya heran sekaligus marah.


__ADS_2