
Norin mengejap perlahan setelah sinar matahari menembus tirai kamar dan menyilaukan mata bulatnya.
Dengan rasa malas ia menyeret kedua kakinya menuju dapur. Namun sampai di dapur ia di kejutkan oleh kedatangan sang kakak pertama dan ke dua anaknya yang tengah makan goreng ayam.
" kak divaaa!" teriak Norin lalu berlari kecil menuju kakaknya dan hendak memeluknya.
Namun sang kakak menolak di peluk sang adik.
" kakak ngga mau di peluk, kamu belum mandi masih bauuu," ucap sang kakak sembari menghindari pelukan sang adik.
Norin memajukan bibirnya. "emang kakak ngga kangen sama aku?"
" eenggaa," jawab sang kakak lalu tertawa lebar.
" lagi pula kamu itu anak gadis bangunnya kok siang."
" kalah sama Hasbi ya ma, Hasbi aja bangunnya subuh terus," seorang bocah laki laki berusia tujuh tahun yang tengah menyantap ayam goreng di atas meja menimpali ucapan mamanya.
" iya kak, kalah juga sama aku. aku juga bangun nya subuh terus, masa tante kalah sama anak kecil ya kak ?" seorang bocah perempuan berusia lima tahun menimpali ucapan kakak laki lakinya.
Norin baru sadar keponakannya itu sudah tumbuh besar dan cerewet seperti mamanya.
" tuh denger anak anak ku aja bangun nya subuh terus masa kamu yang udah tua bangunnya siang, gimana mau cepat dapat jodohnya coba."
" ada apa ini berisik sekali?" tanya sang ibu yang baru saja datang sambil membawa kantong kresek di tangannya.
" itu lho Bu, anak ke sayangan ibu masa udah siang gini baru bangun, padahal kami udah dari dua jam lalu ada di sini."
" kirain ada apa Div, adik mu itu udah bangun dari subuh udah sholat tidur lagi, mungkin dia masih kecapean abis perjalanan jauh makannya tidur lagi."
" bela aja terus anak kesayangan ibu ini," ucap diva dengan wajah cemberut.
" ibu, itu bawa apa banyak bener," tanya Norin mengalihkan pembicaraan.
" oh, ini ibu abis belanja dari pasar."
" kok ibu ngga ngajak aku belanjanya ?"
" kamu kan lagi tidur Rin, ibu ngga tega banguninnya. udah sana kamu mandi dulu, ini ibu juga beliin bubur untuk kamu."
" nek, kami di beliin bubur ayam juga kan ?" tanya Hasbi tiba tiba.
" ya engga, nenek kan ngga tau kalau Hasbi sama Naya mau ke rumahnya pagi gini, biasanya kan siang atau sore. jadi nenek belinya cuma satu buat Tante Norin,"
" yahhh !" ucap kedua anak itu berbarengan.
" Buburnya buat kalian aja, Tante ngga doyan bubur. Tante mau mandi dulu ya ! nanti kalau Tante udah mandi kita main okey."
" sip sip Tante, cepetan mandinya ya !" ucap Naya.
Norin merupakan anak kebanggaan ibunya. kerap kali ibunya memuji kepintaran dan kemandirian bahkan kecantikannya ketika ia pulang ke rumah sehingga membuat diva merasa cemburu dengan perlakuan ibunya itu.
Norin yang memiliki otak pintar, gigih dan tulus. Setelah lulus SMA memilih untuk merantau ke kota mencari kerja, meskipun saat itu ada beberapa laki laki yang ingin memperistrinya.
Sementara diva setelah lulus SMA memilih untuk menikah dengan pacarnya yang saat itu usianya masih terbilang sangat muda. Dan ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya dunia kerja. hidupnya hanya di habiskan di rumah mengurus suami dan kedua anaknya.
Setengah jam berlalu. Norin sudah mandi dan cantik lalu ia menghampiri kedua anak kakaknya dan mengajak mereka jalan jalan menggunakan sepeda motor.
" kalian mau kemana ? kamu kan belum sarapan Rin ? tanya sang ibu.
" mau ngajak anak anak jalan Bu, boleh ya ? nanti mau nyari sarapan di luar aja."
__ADS_1
" jangan jauh jauh perginya, kakak ngga lama di sini soalnya papa mereka bentar lagi pulang." diva yang tengah duduk di kursi sambil bermain ponsel menimpalinya.
" siap boss." ucap Norin lalu beranjak pergi sembari menggiring kedua bocah itu.
Diva mendelik kan matanya, "dasar perawan tua," umpatnya dengan lirih namun masih terdengar oleh ibunya.
Bu Aminah menatap serius pada anak pertamanya itu.
" Divaa, ibu ngga suka sama ucapan mu itu."
" emang dia perawan tua Bu, umur udah tiga puluh belum nikah. lagian kenapa sih ibu membiarkan dia melajang terus? jodohin aja napa kalau dia memang ngga bisa nyari pacar. makannya jangan nyari duit aja yang di fikirin tapi nyari laki juga perlu, buat apa banyak duit kalau ngga punya laki sama anak. terus duitnya kalau udah banyak buat apa coba?"
Bu Aminah memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan anak pertamanya itu. Ia tidak menyangka anaknya itu memiliki lidah yang sangat tajam, bahkan berani menghina saudaranya sendiri.
"kamu bilang uangnya untuk apa? kamu liat rumah ini, dia merenovasi rumah ini sampe berdiri tegak seperti ini, kamu liat kebun dan sawah yang sedang di garap oleh suamimu hasilnya untuk siapa ? untuk kalian. kamu liat si Rizal bisa sampe kuliah dan sebentar lagi mau lulus, siapa yang biayain? adikmu Norin. dan uang yang setiap kamu butuh dan minta ke ibu itu uang siapa yang ibu kasih ke kamu ? uang adikmu, Norin. Ibu punya uang dari mana buat memenuhi kebutuhan kalian kalau bukan dari adikmu, Norin. gaji ibu yang hanya seorang honorer mana cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian. kalau norin mau memperkaya diri dia bisa saja beli mobil, beli perhiasan tapi dia ngga pernah memikirkan untuk hidupnya, yang dia fikirin cuma hidup keluarganya. bahkan sekarang aja dia ngga punya hp. tapi masih aja kamu menghina adikmu yang ngga punya salah apa apa sama kamu."
Norin yang hendak masuk ke rumahnya lagi untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan ia urungkan setelah mendengar perdebatan antara ibu dan anak pertamanya tentang dirinya.
Lalu ia kembali ke dua bocah yang tengah menunggunya di bawah motor.
" yuk, kita berangkat."
" horee....!" lalu mereka menaiki motor tersebut satu persatu.
Kemudian Norin melajukan motornya dengan pelan dan tak tau arah mau membawa anak anak main ke mana. Otaknya berputar putar di sekitaran tentang perdebatan antara ibu dan kakaknya.
" kenapa banyak orang yang mempermasalahkan tentang status ku? apa statusku ini merupakan aib bagi mereka? kakak kandung ku sendiri aja memandangku seperti itu." gumam Norin dalam hati.
" Tante kita mau kemana ?"
Pertanyaan Hasbi membuyarkan lamunannya.
" oh, terserah kalian maunya kemana ?"
" pantai itu kan jauh kak, kata mama ngga boleh main jauh jauh," ucap naya.
" ke taman yang ada di kampung tetangga mau ngga ?" tanya Norin.
" iya Tante mauu."
Norin membelok kan motornya ke kampung tetangga yang bisa di bilang sedikit kota karena di kampung tersebut sudah masuk mini market serta toko toko besar. tidak seperti di kampungnya yang masih benar benar kampung.
Dan tibalah mereka di sebuah taman kecil yang cukup ramai oleh pengunjung.
Norin memegang tangan dua bocah itu di kanan dan kirinya lalu memasuki taman tersebut yang rata rata pengunjungnya adalah anak anak.
" Tante, boleh ngga kita main ke sana ?" ucap Hasbi sambil menunjuk sebuah mainan."
" boleh, asal jangan jauh jauh ya ?"
Dan dua bocah itu pun menghampiri permainan tersebut.
Norin duduk melamun di sebuah bangku panjang taman tersebut. otaknya masih saja mengingat pada ucapan kakak pertamanya. Namun tanpa ia sadari sepasang mata teduh tengah memperhatikannya dari jauh.
" ada bidadari di taman," ucap nya lalu tersenyum.
Kemudian pemilik mata teduh itu menghampiri wanita cantik yang tengah duduk sendirian.
" ehem!"
Norin mendongakkan wajahnya ke samping kanan. Nampak pria tinggi tegap memakai kaos hitam, celana pendek dan sepatu olah raga. Dengan penampilannya seperti itu ia terlihat lebih muda dari usianya yang hampir memasuki usia kepala empat.
__ADS_1
Norin terperangah.
"pak Rio!"
" iya dek, ini saya Rio," ucap nya sembari tersenyum.
" Pak Rio kok bisa ada di sini ?"
" mestinya saya yang bertanya, dek Norin kenapa bisa ada di sini? kalau saya memang tinggal di kampung ini dek."
" oh, kalau saya lagi nemenin keponakan main pak!"
" oh begitu, hmm apa boleh saya duduk di kursi ini dek?"
Norin tersenyum. "silahkan pak !"
" terima kasih ya dek !" kemudian Rio duduk di samping Norin dengan jarak satu meter.
" apa pak Rio asli orang sini ?"
Rio tersenyum. "sebenarnya saya cuma numpang di kampung ini dek, selama saya tugas di sini. dan saya sendiri berasal dari kabupaten."
" o gitu ya pak."
Rio mengangguk kecil.
Tak lama kemudian dua bocah kembali.
" Tante..Tante Naya mau es krim itu ?" ucap Naya sambil menunjuk tukang es krim.
" Hasbi juga Tante !"
Norin menggaruk tengkuknya. "aduh ini dua bocah, mana aku ngga bawa dompet lagi," Norin bermonolog.
" hm gimana kalau beli es krimnya pulang dari sini aja? dompet Tante ketinggalan."
" tapi kami ingin makan es krimnya sekarang Tante bukan nanti," celoteh Naya.
Norin memijit kecil keningnya, ia bingung nyari duit kemana untuk beli es krim.
" kalian mau makan es krim ?" tanya Rio tiba tiba.
" iya ooom," jawab mereka bersamaan.
" ya udah yuk, om traktirin."
" asikkkk !" teriak mereka kegirangan.
" ngga usah pak, biar nanti beli di luar aja," Norin menolaknya karena Ia merasa tidak enak hati pada pria tersebut.
" ngga apa apa dek, kasian mereka ingin makan es krimnya sekarang."
Lalu mereka pun beranjak pergi menuju tukang es krim itu.
Hasbi dan Naya kembali main sambil membawa es krim mereka ke tempat dimana mereka main tadi.
Sementara Rio kembali ke bangku panjang dimana Norin tengah duduk. Setelah tiba di tempat Norin duduk Ia menyodorkan satu es krim padanya.
" ini untuk dek Norin !"
Norin terdiam menatap heran pada es krim yang tengah di sodorkan padanya oleh pria gagah itu.
__ADS_1
" kenapa? apa dek Norin lagi diet biar ngga gemuk?" tanya Rio lalu tersenyum lebar.