Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.1)


__ADS_3

... وَّلَمْ اَكُنْ بِۢدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا...


..."....Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."...


...(QS. Maryam 19: Ayat 4)...


...🍃🍃🍃...


Pukul 9 malam, sebuah mobil hitam masuk ke dalam halaman pondok pesantren. Dari mobil hitam itu keluar sepasang suami-istri dengan ekspresi wajah yang berbeda di masing-masing wajah. Jika laki-laki tampan nan tinggi itu memakai ekspresi datar nan meneduhkan, maka wanita cantik yang kini sedang berjalan di sampingnya memiliki ekspresi dingin bercampur dengan perasaan panik.


Benar, dia adalah seorang Ibu dan seorang Ibu itu kini tidak bisa menghilangkan kecemasan dari sisi wajahnya yang dingin.


"Kita datang terlalu malam." Ujar suaminya meraih tangan wanita cantik itu, menggenggamnya lembut untuk menenangkan kecemasan yang dirasakan oleh wanita itu.


"Aku tidak perduli, Mas. Aku hanya ingin mendapatkan keadilan untuk putriku." Wanita itu menjawab keras kepala.


Laki-laki itu mengeratkan genggaman tangan mereka,"Kita pasti bisa mendapatkan keadilan untuk putri kita."


Wanita itu menganggukkan kepalanya panik. Membalas erat genggaman tangan suaminya sebagai perlindungan untuk kecemasan di dalam hatinya saat ini.


Mereka lalu masuk ke dalam kantor kecil di depan halaman pondok pesantren untuk melapor. Kebetulan ada seseorang yang sudah menunggu mereka di sana, dari jauh orang itu tampak berjalan tergesa-gesa mendekati mereka berdua.


"Assalamualaikum Pak, Bu. Pak Kyai meminta saya mengantarkan kalian menuju ruang tamu."


Orang itu adalah seorang laki-laki muda, dari id card yang menggantung di lehernya mereka mengetahui jika laki-laki muda itu adalah seorang petugas kedisiplinan asrama laki-laki. Dia masih pelajar dan berada di tahun keempat, tahun terakhir di pondok.


"Waalaikumussalam, tolong bawa kami bertemu dengan mereka." Sang suami menjawab sopan.

__ADS_1


"Mari, Pak." Petugas kedisiplinan asrama laki-laki itu segera memimpin jalan.


Berjalan dengan pundak agak rendah untuk menghormati orang yang lebih tua atau seorang tamu. Ini adalah adab yang paling dasar di dalam sebuah pondok.


Dengan dipimpin laki-laki itu, pasangan suami-istri mengikuti langkahnya dengan patuh dari belakang. Mereka berjalan beriringan, melewati koridor kantor pondok yang diterangi oleh cahaya lampu yang sangat terang. Tidak ada satupun bagian dari lorong-lorong ini yang memiliki cahaya lampu redup.


Suasana tenang nan sunyi ini tidak bertahan lama karena mereka tiba-tiba mendengar suara perdebatan dan tangisan. Dari suaranya, mereka tahu jika ini adalah milik para santri perempuan tapi agak aneh juga karena pondok pesantren jarang menyelesaikan masalah di malam hari.


"Pak Kyai sepertinya sedang sibuk." Kata wanita itu menebak ketika melihat ruang tamu yang akan mereka datangi tampak ramai dan hidup.


Laki-laki itu berjalan menyamping,"Benar, Bu. Beberapa menit yang lalu ada sebuah pertengkaran di dalam asrama putri. Pertengkaran ini terjadi karena dipicu oleh rumor buruk yang pagi-pagi ini telah menyebar di pondok."


Wanita itu terkejut, ia memegang erat lengan suaminya menahan gugup.


"Rumor buruk apa?" Tanyanya kepada laki-laki muda itu.


Laki-laki itu menggaruk kepalanya tidak nyaman,"Maaf, Bu. Saya tidak bisa mengatakannya kepada Ibu karena ini adalah masalah pribadi orang lain"


"Apa rumor ini berkaitan dengan Aishi-"


"Umi, aku tidak berbohong! Aishi Humaira adalah seorang laki-laki pada awalnya. Dia pernah melakukan transgender, Umi! Lihat saja dadanya, dia tidak ada bedanya dengan laki-laki."


Deg


Tubuh wanita itu menegang. Langkahnya tiba-tiba berhenti, membuat laki-laki itu kebingungan.


"Kita datang diwaktu yang tepat, istriku." Bisik suaminya di samping.

__ADS_1


Wanita itu memejamkan matanya yang mulai memerah. Dari sikapnya yang tenang, suaminya tahu bila wanita ini pasti sangat marah dan terluka sekarang.


"Mas Ali, aku pikir keputusanku mengirim Ai ke tempat ini salah." Katanya menahan penyesalan.


Ali- laki-laki yang sedari tadi menggenggam tangan Safira- wanita cantik nan anggun yang tidak terpengaruh oleh usianya yang sudah masuk kepala empat, mencoba menenangkan istrinya.


Mendengar suara teriakan tidak berperasaan tadi suasana hatinya tidak kalah hancur seperti Safira, namun dia adalah seorang laki-laki dan seorang Ayah, ia harus mempertahankan pikirannya agar tetap jernih dan berkepala dingin.


"Tidak, istriku. Aku yakin keputusan kita mengirim Ai ke sini adalah langkah yang tepat. Karena tempat ini adalah satu-satunya tempat yang akan memberikan jawaban atas semua pertanyaan dan kekhawatiran kita." Ali menenangkannya dengan lembut.


Safira menatap suaminya bingung.


"Apa yang Mas Ali maksud?" Dia tidak mengerti.


Ali tersenyum, mengusap puncak kepala istrinya tanpa niat memberi tahu.


"Kamu akan tahu nanti." Ia menjawab tanpa niat menjawab kebingungan istrinya.


9 tahun telah berlalu, selama waktu ini apakah dia menepati janjinya?. Batin Ali mengenang.


Mengenang pembicaraannya dengan seorang anak remaja keras kepala yang telah ia uji berkali-kali kesabarannya. Ia bertanya-tanya apakah kesabaran remaja itu masih ada sampai dengan hari ini untuk putrinya, Aishi Humaira.


"Pak, Bu, apa kalian ingin menunggu-"


"Kami ingin masuk." Potong Safira cepat.


"Maaf telah memotong ucapan mu tapi aku dan suamiku sedang buru-buru. Gadis yang dibicarakan oleh rumor itu adalah putriku, Aishi Humaira." Ucap Safira membuat laki-laki itu terkejut.

__ADS_1


Laki-laki itu melihat Safira dan Ali gugup, ia lalu mundur beberapa langkah memberikan mereka berdua jalan.


"Putri kalian pasti sudah menunggu di dalam." Ujar laki-laki itu sopan.


__ADS_2