
"A...anu Neng, Mamang juga nggak tahu, tadi tiba-tiba Tuan Muda kasih surat ini, langsung pergi naik taksi, katanya Mamang nggak boleh ngejar dia, maafin Mamang yaa Neng."ucap Mang Ujang
Aku sudah gak bisa berpikir jernih, hanya yang aku tahu lebih baik sekarang aku mencari nya atau aku akan kehilangan dia selamanya. Aku nggak mau terlambat. Lalu aku memaksa Mang Ujang untuk mengantarkan aku kerumah Satrio, mungkin saja dia belum pergi.
"Mang , ayo antar aku kerumah Mas Satrio."ucapku memohon
"I..iyaa ayo Neng."kata Mamang terlihat sedih
"Pak, maaf Nadia belum bisa jelasin semua sekarang, soalnya Nadia harus segera mencari Mas Satrio, Nadia khawatir, takut terjadi apa-apa dengannya, apalagi kesehatan nya belum pulih."ucapku pada Bapak sambil mencium tangan Bapak
"Iyaa Nak, kamu nggak usah jelasin apa-apa, pergilah dan cari dia, dia laki-laki yang baik dan pantas mendampingi mu, jangan kamu sia-sia kan dia."ucap Bapak
Lalu aku dan Mang Ujang bergegas pergi menuju rumah Satrio, perjalanan ini mungkin memakan waktu yang lama, apalagi sekarang aku berada dirumah sakit Bogor, berarti aku harus cepat sampai ke Bandung.
Di perjalanan ternyata cukup macet, sulit sekali mobil untuk bergerak. Aku benar-benar bingung dan takut kehilangan Satrio.
Ah frustasi sekali rasanya dan aku nggak berhenti untuk mengeluarkan air mata meski pun tidak terdengar suara tangis ini.
Tiba-tiba langit di Bogor mendung dan turun hujan.
"Mang, aku kayaknya jalan kaki atau naik ojek online aja deh, ini macet banget."ucapku pasrah
"Atuh jangan Neng, diluar hujan deras, sudah gitu nanti pasti sampai nya 3 jam lebih kalau naik motor pas hujan gini, yang ada nanti Neng sakit, lebih baik Neng bersabar yaa, yakin aja kita bakalan ketemu Tuan Muda."ucap Mang Ujang menenangkan ku
"Tapi Mang, aku takut, takut nggak ketemu Mas Satrio lagi, aku nggak mau itu terjadi, aku khawatir sama dia."ucapku frustasi
"Neng, Tuan Muda itu orang nya setia banget, Mamang tahu dia begitu mencintai Neng Nadia, jadi mungkin ini yang terbaik sekarang untuk kalian, yang penting Neng Nadia harus jaga diri Neng baik-baik, itu aja yang Tuan Muda mau, jadi kalau terjadi apa-apa justru Tuan Muda yang akan bersedih.Cinta memang begitu Neng, tidak selamanya bisa kita genggam, ada saatnya kita lepas, saya pernah baca itu dikoran."ucap Mang Ujang
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa menangis sambil menatap kaca mobil yang semakin basah oleh tetesan hujan. Dan pipiku tak kalah basah oleh tangisan ini.
__ADS_1
Dulu aku berpikir, menyakitkan mencintai Pak Nathan yang sudah dimiliki orang lain. Tapi ternyata aku salah, yang menyakitkan sebenarnya adalah ditinggalkan oleh orang yang ternyata selama ini peduli dan begitu cinta padaku. Aku mungkin terlambat menyadari nya.
Aku harus menghubungi Satrio.
Lalu aku menelpon Satrio namun nomernya tidak aktif, sudah beberapa kali aku coba, namun tetap tak bisa.
Tiba-tiba Handphone ku bergetar."Ah mungkin ini Satrio."batinku
Ternyata Pak Nathan
Pak Nathan : Hallo Nad, kalian dimana? Koq pulang nggak ngabarin aku?
Aku : Hallo Pak, iyaa saya sekarang diperjalanan dengan Mang Ujang, maaf Pak saya tadi buru-buru , karena saya sedang mencari Mas Satrio, dia pergi Pak dari rumah sakit, kami nggak ada yang tahu dia dimana.
Pak Nathan : Hah ? pergi kemana? kamu udah telpon nomernya atau nomer Om Heru? mungkin dia dijemput Om Heru?
Aku : Sudah saya hubungi Pak, nomer mereka nggak aktif, sekarang saya mau kerumah Mas Satrio Pak. Nanti saya kabari lagi yaa Pak.
Aku : Iyaa Pak
Lalu aku mematikan handphone ku.
Sekarang perjalanan sudah mulai lancar, namun hujan belum juga reda, semakin hujan deras dan semakin hatiku sakit.
Aku teringat senyumnya, gombalannya, teringat ulahnya, teringat ketika dia sakit dan ketakutan, wajahnya sekarang memenuhi seluruh pikiran ku.
"Satrio , kamu bodoh banget sih, bisa-bisa nya kamu mengira aku memilih Pak Nathan, padahal asal kamu tahu, sejak kamu masuk ke hidup aku, cuma kamu yang selalu ada di hati aku, aku menyadari sejak lama, hanya saja aku menyembunyikannya."batinku berteriak
Perjalanan sudah 2 jam lewat 50 menit, akhirnya sebentar lagi sampai kerumah Satrio.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan aku hanya melamun, aku benar-benar merasa kosong dan hampa, terlalu banyak ketakutan memasuki hatiku.
"Neng Nadia, kita udah sampai, Neng jangan sedih gitu ah, Mamang jadi ikutan sedih, percaya sama Mamang, Tuan Muda pasti baik-baik aja."ucap Mamang menoleh ke arahku
"I...iyaa Mang, makasih sudah menguatnya."ucapku sambil menghapus air mata
Lalu aku turun dan berlari , untungnya di Bandung tidak hujan, hanya mendung saja, lalu aku memasuki rumah Satrio. Aku segera membunyikan bel.
Ting tong...
Ting tong...
Akhirnya pintu dibuka oleh Om Heru.
"Om Heru, Satrio mana Om?"tanyaku panik
"Nadia, tenang Nad, Satrio pasti baik-baik aja kamu jangan cemas."ucapnya
"Tapi Om, Satrio dimana? tolong kasih tahu aku, please Om, aku harus ketemu dan menyelesaikan kesalahan pahaman ini."ucapku memohon sambil bersimpuh lemah
"Nad, bangun. Maafin Om , Om juga nggak tahu Satrio pergi kemana. Dia hanya menitipkan surat dan sertifikat-sertifikat ke Pak Satpam. Tadi Om ditelpon Pak Satpam, makanya Om buru-buru pulang, hanya ketika Om sudah sampai , Satrio sudah tidak ada. Dan tidak ada yang tahu keberadaannya."ucap Om Heru sedih
Aku pun tidak bisa bangun, aku malah duduk lemas dilantai.
"Lalu Om, kemana kita harus mencari nya? aku khawatir Om?". tanyaku lemas
Om Heru lalu ikut duduk disebelah ku.
"Nad, sudahlah, biarkan Satrio pergi, dia butuh ketenangan saat ini, dengan semua masalah yang terjadi, dia pasti ingin memiliki waktu merenung, baiknya kita biarkan dulu, suatu saat dia pasti akan pulang, dia sudah berpesan pada Om, agar Om menjaga semua hal berharga dalam hidup nya dan yang terutama itu adalah kamu Nad, jadi kamu jangan sedih Nad, Satrio pasti akan sedih juga, jika tahu kamu seperti sekarang, nanti Om janji, akan mencari keberadaan Satrio."ucap Om Heru
__ADS_1
Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya, tangisan paling pecah selama hidup ku, tangisan yang benar-benar paling aku benci. Tiba-tiba dadaku terasa makin sesak , lalu aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.