Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 5.3)


__ADS_3

Ketika sampai di kamar mereka langsung dikelilingi oleh teman-teman yang lain. Mereka ditanyai dengan berbagai macam pertanyaan yang anehnya terdengar lucu dan tidak canggung sama sekali. Ai , Asri, dan Mega dengan sabar melayani semua rasa ingin tahu mereka sampai benar-benar puas.


Di samping itu Sari tidak punya teman sama sekali di sampingnya. Sejak pertengkaran tadi, teman-teman yang lain menatap Sari dengan kesan yang buruk dan secara sadar menjaga jarak darinya. Itu bukan hanya karena dia terlalu serakah tapi itu juga karena Dari nama baik kamar mereka akhirnya tercoreng di hari pertama!


Bukankah keberuntungan mereka sangat buruk?


Tapi Sari tidak perduli. Dia mengambil makanan dari dalam lemari dan memakannya dengan santai seolah mengatakan kepada mereka semua bahwa dia tidak membutuhkan mereka semua.


Ini jelas bukan sikap yang baik sehingga kesan mereka kepada Sari semakin buruk.


Ai menghela nafas panjang tidak mau perduli. Dia duduk di ranjangnya akan beristirahat karena sebentar lagi lampu akan dipadamkan pada pukul 10 malam. Tapi sebelum tidur dia minum vitamin terlebih dahulu dan membongkar tas punggungnya mencari sesuatu.


Lemari tidak muat menampung semua barang-barang yang dia bawa maka jadilah dia membiarkan tas punggungnya untuk sementara waktu di samping ranjang dan belum memindahnya ke dalam koper yang lebih aman.


"Astagfirullah.. kenapa foto itu tidak ada sini?" Ai sangat ketakutan ketika melihat foto masa kecilnya dengan Ustad Vano menghilang.


Padahal dia yakin menaruhnya di dalam tas bagian terdalam tadi pagi.


"Aku yakin menaruhnya di sini." Ai sangat yakin dengan ingatannya.


Jika Ustad Vano saja tidak bisa dilupakan setelah 12 tahun tidak bertemu maka, maka barang berharga yang menyangkut tentang Ustad Vano pun tidak akan pernah dia lupakan karena ini sangat berharga.


Ini adalah satu-satunya kenangan yang Ustad Vano tinggalkan di dalam hidupnya kecuali perasaan dan Ai tidak mau kehilangan foto itu.


"Ya Allah, apa Ustad Vano yang mengambilnya ketika menyita tas punggung ku tadi siang? Lalu..jika dia yang mengambilnya maka bukankah Ustad Vano mengenaliku?" Dia sungguh tidak berani memikirkannya!


Dia tidak ingin Ustad Vano mengenalinya tapi disaat yang bersamaan Ai juga sangat ingin. Dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini ataukah sebenarnya dia lupa menaruh foto itu ke dalam tasnya?


"Ada apa, Ai? Apa kamu kehilangan sesuatu?" Asri yang sedang membersihkan tempat tidurnya tiba-tiba teralihkan ketika melihat wajah panik Ai.


Ai menggelengkan kepalanya tidak mau memberitahu Asri akan kekhawatirannya. Dia tidak ingin mengungkapkan bahwa dia adalah teman kecil Ustad Vano dulu. Dia tidak ingin mencemarkan nama baik Ustad Vano di sini.


"Aku hanya..lupa menaruh foto keluargaku." Katanya berbohong.

__ADS_1


Asri ikut duduk di samping ingin membantu tapi segera dihentikan oleh Ai.


"Apakah kamu sudah mencarinya baik-baik-"


"Aku sepertinya meninggalkan barang itu di rumah. Yah, besok aku akan menelpon Bunda dan Ayah untuk memberitahu jadi kamu tidak perlu khawatir." Ai buru-buru menutup kembali tasnya.


Dia kemudian menaruh tas itu di samping kepala ranjang.


"Nah, aku akan menemani mu besok untuk meminta izin kepada staf pondok pesantren setelah kita menyelesaikan hukuman." Ah, teringat akan hukuman besok hati Asri tiba-tiba menjadi kesal.


Seandainya Sari tidak membuat masalah mungkin mereka tidak akan terdampar di sawah besok.


"Terimakasih, Asri." Ai mencoba tersenyum tipis.


Asri mengangguk ringan sebelum kembali ke ranjangnya untuk tidur. Sementara itu Ai mencoba menenangkan kegelisahan hatinya. Dia menyentuh dada datarnya sekali lagi, merasakan debaran manis bercampur panik yang kian mengganggu ketenangan Ai.


"Tidur adalah obat terbaik." Bisiknya tidak punya cara lain.


Namun, ketika dia akan merebahkan tubuhnya di atas ranjang Ai tiba-tiba melihat secarik kertas kecil berwarna hijau muda di dalam kantong kecil tasnya.


Ini kecil, tampak tidak mencolok dan mencuri perhatian. Ai memegangnya, membuka lipatan kertas hijau muda itu dan melihat sebuah tulisan Arab gundul yang sudah tidak asing lagi untuknya karena Ayah selalu mengajarinya menulis dan membaca tulisan Arab gundul bila ada waktu luang.


Di sana tertulis,


أوه ، أيشي حميرة.


Wahai, Aishi Humaira.


Dug


Dug


Dug

__ADS_1


Jantung Ai segera berdetak cepat. Dia memegang kertas hijau muda itu dengan berbagai macam pikiran yang menakutkan.


"Ini bukan tulisan Ayah.." Dia sangat yakin, ini bukan tulisan Ayah.


Tulisan ini indah tapi menunjukkan sisi tegas yang menggetarkan jiwa. Ai tidak bisa tidak mengelus tulisan itu dengan hati-hati.


Ini adalah namanya, ada seseorang yang memanggilnya namanya.


"Hem.." Di timpa oleh rasa ketidakpercayaan dan harapan, Ai mencium wangi yang sangat sering memasuki rongga hidungnya hari ini.


"Ustad Vano... mungkinkah ini kamu?" Bisiknya sangat berharap.


Kedua matanya bahkan memerah dan memunculkan riak-riak hangat di dalam.


Wahai Ustad, sudahkah kamu mengenaliku?


Sudahkah kamu mengenaliku wahai, Ustad?


Panggilan ini, tulisan indah ini, dan wangi yang tersemat di atas permukaan kertas tipis hijau muda ini.. apakah semua itu adalah milikmu?


Wahai Ustad...


Dia tiba-tiba memikirkan sebuah kemungkinan menjebak jantungnya dalam kegelisahan yang mendebarkan.


Mungkinkah kamu yang mengambil foto kenangan kita dulu?


Bersambung.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf saya gak bisa tepati janji. Untuk saat ini saya baru bisa nulis dua chapter. Inshaa Allah jika ada waktu luang saya akan update banyak 🍁


Alhamdulillah terimakasih untuk doa-doa semuanya. Doa adalah hadiah terbaik yang pernah ada di dunia ini karena dengan doa kita merayu Sang Pencipta. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk doa-doanya dan saya berdoa semoga doa-doa itu juga untuk kalian semua. Aamiin Allahumma Aamin.


Btw, ini adalah hari pertama Ai di pondok pesantren dan cukup panjang. Hem.. mungkin akan membosankan jadi saya harap reader memaklumi kekurangan saya dalam penulisan.

__ADS_1


Lanjut?


__ADS_2