Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.12)


__ADS_3

"Nak, hari itu kamu pernah bertanya apakah Bapak ridho melepas mu menikah dengan laki-laki itu?" Bapak membawa kembali percakapan mereka hari itu di pondok pesantren.


Asri menggelengkan kepalanya tidak mau mendengarkan. Wajahnya sudah basah oleh air mata, membuat make up tebal di wajahnya menjadi luntur.


"Dengarkan baik-baik," Kata Bapak dengan air mata yang sudah mulai mengalir dari sudut matanya.


"Bapak...Asri tidak mau dengar hiks..." Tolak Asri seraya memeluk tubuh tua Bapak yang masih kokoh berdiri di depannya.


"Bapak tidak ridho, Nak. Bapak tidak ridho kamu menikah dengan laki-laki yang buruk, Bapak tidak ridho kamu melepaskan kamu bersama laki-laki itu karena Bapak tidak mau kamu hancur dan menderita, Nak. Bapak tidak ingin kehilangan putri Bapak yang selalu suka tersenyum dan baik akhlaknya, Bapak tidak ikhlas, Nak. Jadi Bapak mohon, pergilah, Nak. Pergi ke tempat yang jauh dan jangan kembali ke desa ini lagi. Demi Bapak, Nak, demi kebahagiaan kamu." Pinta Bapak memohon.


Asri masih menggelengkan kepalanya tidak mau mendengarkan. Bila dia pergi, kemana ia harus melarikan diri?


Bila dia pergi, lalu bagaimana dengan nasib kedua orang tuanya?


Mereka akan dijebloskan ke penjara karena telah mengingkari kontrak perjanjian dan adiknya, Fina, dia akan putus sekolah dan gagal mengejar mimpi.


Asri tidak mau itu semua terjadi. Asri tidak mau egois.


"Asri tidak mau pergi hiks... Asri tidak mau Bapak dan Ibu masuk penjara."


Bapak mengelus puncak kepala putrinya penuh akan kasih sayang.


"Ini adalah kesalahan Bapak dan Ibu, jadi tidak seharusnya kamu yang menanggung semua ini, Nak. Kamu harus mendapatkan apa yang kamu mau dan apa yang bisa membuat kamu bahagia, tapi bukan dengan mengorbankan diri sendiri, Nak." Kata Bapak sambil menghapus air mata di wajah Bapak.


"Ayo pergi, Nak. Bapak akan membantu kamu melarikan diri dari desa ini." Kata Bapak serius.

__ADS_1


Asri ragu melangkah karena keluarganya akan dikorbankan di sini.


"Lalu, bagaimana dengan, Ibu?" Tanya Asri bimbang.


"Lihat Ibumu, Nak." Kata Bapak sambil membawa pandangannya menatap Ibu yang kini tengah berdiri di barisan yang paling belakang.


Ketika Asri membawa pandangannya melihat Ibu, wanita paruh baya yang telah berjasa besar melahirkan dan membesarkannya itu sekarang sedang menatapnya dengan sebuah senyum keibuan yang hangat.


"Ibu," Bisik Asri terenyuh.


Kedua mata Ibu memerah menatap putrinya, lalu Ibu mengangguk pelan sebelum berbalik pergi tanpa disadari oleh orang-orang.


"Kemana Ibu, pergi?" Tanyanya kepada Bapak.


Bapak menggenggam erat tangan putrinya bertekad.


"Ayo Asri, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Panggil laki-laki paruh dari balik semak-semak.


Asri menoleh sangat terkejut ketika melihat Pamannya juga ikut andil dalam rencana pelariannya. Ya Allah, betapa hangat hatinya saat ini melihat keluarganya berjuang melepaskannya dari jerat pernikahan paksa.


"Apa Bapak ridho, Asri pergi?" Tanya Asri telah membuat keputusan.


Tidak seperti hari itu, Bapak hari ini langsung menjawab pertanyaan putrinya.


"Bapak ridho, Nak. Bapak, Ibu, dan semua keluarga kita ridho kamu pergi dari desa ini." Kata Bapak meyakinkan.

__ADS_1


Asri menutup matanya menahan sakit juga perasaan hangat. Untuk kebahagiaannya, Bapak dan Ibu harus mengorbankan hidup mereka mendekam di penjara.


Sakit memang,


Tapi ini adalah permintaan kedua orang tuanya dan Asri tidak bisa menolaknya lagi di samping ia memang ingin melarikan diri.


"Ayo, Pak.." Kata Asri dengan air mata yang semakin deras keluar.


"Asri ingin bahagia, tolong bawa Asri pergi."


Bapak menghela nafas panjang karena lega. Sebelum pergi ia merobek rok pengantin putrinya agar bisa leluasa berlari. Setelah itu ia membawa putrinya melarikan diri dari semak-semak yang dibantu oleh para Paman Asri yang telah menunggu.


Mereka membawa Asri berlari sekuat tenaga menjauh dari rumah saudagar Romlah.


Tindakan Bapak merobek rok pengantin Asri telah menarik perhatian banyak orang, timbul sebuah kecurigaan di hati mereka. Tidak berselang lama kecurigaan mereka terbukti ketika melihat Bapak membawa Asri berlari menuju semak-semak untuk melarikan diri.


Sontak saja tindakan ini memancing keributan. Saudagar Romlah bahkan berteriak-teriak marah menyuruh orang-orang desa mengejar Asri dan berjanji akan memberikan uang bila mereka berhasil membawa Asri kembali.


"Mak, Asri melarikan diri dengan Bapaknya!" Teriak Rodi naik pitam.


Saudagar Romlah juga tidak kalah marahnya dengan Rodi. Ia berdiri di depan banyak orang-orang desa sambil berseru,"Siapapun yang berhasil membawa Asri kembali ke sini akan aku berikan uang sebanyak 1 juta di muka dan satu kwintal beras!"


Sayembara dadakan ini langsung membuat orang-orang desa bersemangat. Tanpa menunggu waktu lama lagi mereka segera berlari mengejar Asri dan keluarganya yang sudah berlari jauh.


Bahkan, pengantin pria yang terkenal berand*l dan bertato tidak tinggal diam melihat calon istrinya melarikan diri. Dia ikut mengejar bersama orang-orang desa.

__ADS_1


"Beraninya kamu bermain-main dengan ku!" Teriaknya dipenuhi amarah.


__ADS_2