
"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa menghubungi Roy?" Dia menggigit bibirnya gugup, memandangi kontak Roy yang sudah dia hubungi untuk kesekian kalinya.
Dia takut telah terjadi sesuatu karena tadi siang Roy tiba-tiba memberitahu bila Ali dan Safira datang ke sekolah untuk menyelesaikan permasalahan Ai. Roy bilang Mega membuat masalah kepada Ai dan Rina sehingga mau tidak mau sekolah mengundang orang tua mereka.
"Ini semua gara-gara anak manja dan sombong itu! Bila aku tahu akhirnya akan begini lebih baik aku tidak akan melibatkannya!" Gerutunya karena Roy masih belum bisa dihubungi.
"Ah..Roy! Kenapa kamu masih tidak bisa dihubungi? Padahal aku sangat penasaran dengan hasil pertemuan mereka. Semoga saja mereka tidak mendapatkan rekaman cctv itu karena bila itu terjadi Mega akan mengakui bahwa akulah yang memintanya mengucilkan Ai di kelas..tidak mungkin!" Dia berdiri dari duduknya, berjalan mondar-mandir untuk mengenyahkan pikiran itu.
"Anak itu memang manja dan sombong ditambah lagi dia bodoh. Jadi, dia tidak mungkin mengatakan bahwa akulah yang memulai semua ini. Benar, lagipula dia masih kecil dan tidak mengerti apa-apa!" Pikirnya berusaha menenangkan diri sendiri.
Dia mungkin lupa atau lebih tepatnya berpura-pura lupa bila anak kecil sejatinya polos. Apalagi bila dalam keadaan terpojok dan terintimidasi, mereka tidak akan ragu mengungkapkan kebenaran.
"Dinda! Kamu di kamar, dek?" Suara teriakan panik Mama menariknya dari lamunan.
"Iya, Ma." Dinda membuka pintu kamar dan melihat wajah pucat Mama di depannya.
"Ada apa, Ma? Wajah Mama kok pucat banget?" Tanya Dinda ikut khawatir, untuk sementara masalah Ai dia lemparkan ke belakang dulu karena yang terpenting sekarang adalah Mamanya.
"Masuk dulu," Mama menarik Dinda masuk ke dalam kamar.
Menutup pintu, dia lalu duduk di ranjang Dinda sembari mencoba menghubungi seseorang.
"Mama lagi telpon siapa?" Dinda ikut duduk di sampingnya.
"Papa." Jawab Mama tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
Setelah itu Dinda diam tidak bertanya lagi. Situasinya saat ini tidak baik sehingga dia lebih baik dia tutup mulut dan menunggu Mama berbicara. Tentang masalah apa itu Dinda tidak bisa menebaknya, namun yang pasti dia berharap ini tidak akan mengganggu rencananya.
"Dek, kapan Mas Olan terakhir kali menghubungi kamu?" Tanya Mama tampak frustasi.
Dia mematikan ponselnya dan melemparnya ke belakang tampak frustasi. Kedua tangannya yang menua terlihat gemetaran dan kerutan yang terbentuk di wajahnya karena usia malam ini terlihat lebih dalam dari biasanya.
"Mas Olan.." Dia teringat dengan Kakak laki-lakinya yang sudah lama tidak pulang ke rumah.
__ADS_1
Olan, dia bukanlah Kakak kandungnya melainkan sepupunya. Kedua orang tua Olan sudah meninggal karena kecelakaan ketika Olan masih kecil. Kedua orang tua Dinda merasa bahwa itu adalah tugas mereka membesarkan keponakan mereka. Sehingga mereka memutuskan untuk menjadikan Olan sebagai anak sebelum Dinda benar-benar lahir ke dunia.
"Mas Olan terakhir kali hubungi aku 1 bulan yang lalu. Dia bilang sedang sibuk di pondok pesantren jadi masih belum punya waktu pulang ke rumah." Katanya mulai meragukan tebakannya.
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Kakaknya?
"Dia benar-benar mengatakan itu?" Tanya Mama semakin frustasi.
"Iya, Ma. Memangnya Kak Olan kenapa? Dia buat masalah lagi di pondok?" Tanyanya mulai mewanti-wanti.
Pasalnya dia sangat menyayangi Olan. Dia takut terjadi sesuatu dengan Kakaknya itu.
"Bukan masalah lagi namanya. Tapi Kakak kamu itu sudah membuat bencana besar untuk kita semua! Kakak kamu akan mati!" Teriak Mama marah bercampur panik.
Masalah ini sudah beberapa bulan dia sembunyikan dari Dinda karena dia tahu betul bagaimana hubungan Kakak beradik itu. Tidak sampai sekarang, ketika situasi sudah mulai runyam dia mau memberitahu Dinda.
"Mati? Mama jangan asal ngomong, dong! Ucapan Mama itu adalah doa buat Mas Olan!" Dinda jelas tidak terima.
"Mama gak asal ngomong, Dinda! Kakak kamu sudah 5 bulan jadi buronan polisi karena kasus pembunuhan berencana dan percobaan pemerkosaan di kota A!" Kali ini Mama berbicara serius.
"Mama bohong..Mas Olan bukan orang yang seperti itu.. bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan jahat ini? Lagipula.. lagipula siapa yang dia bunuh dan coba perkosa? Ini sama sekali tidak masuk akal!" Teriak Dinda histeris.
Tidak, dia sangat mengenali siapa Kakaknya itu jadi bagaimana mungkin semua tuduhan kejam itu di arahkan kepada Kakaknya!
"Siapa yang dia bunuh Mama masih belum yakin karena Papa masih menyelidikinya. Tapi orang yang dia coba perkosa adalah wanita yang menolak lamarannya 1 tahun lalu!"
1tahun lalu, Olan pernah putus cinta karena wanita yang dia pinang sudah dijodohkan dengan laki-laki lain?
"Kayana?"
...🍚🍚🍚...
"Aku tidak bisa datang ke sana karena ada masalah keluarga. Masa cuti ku juga sebentar lagi akan habis jadi sisanya akan aku serahkan kepadamu." Katanya sambil menatap sayu hamparan luas langit di depannya.
__ADS_1
"Hem, Kakakku buronan polisi. Bila kamu melihatnya jangan ragu untuk menghubungi ku." Dia juga berusaha keras ingin menyelamatkan Kakaknya.
Bagaimanapun caranya asalkan dia bisa lolos dari pengejaran.
"Apa? Jadi Papa sudah meminta bantuan kepadamu? Lalu, kenapa kamu menolak membantunya, apa ini karena uang?" Mereka kaya dan tidak kekurangan uang, jadi uang seharusnya tidak bisa menghambat.
"Ada orang besar dibelakangnya?" Dinda menatap gusar ke sembarang arah.
Menarik gorden jendelanya, dia lalu melemparkan dirinya ke atas ranjang.
Bila Papa tidak bisa berkutik maka masalah Mas Olan sulit untuk dilepaskan. Hah, apa yang harus aku lakukan?. Batinnya putus asa.
"Baiklah.. Baiklah." Untuk saat ini dia akan mengesampingkan masalah Kakaknya dulu dan fokus kembali ke rencana awalnya.
"Bagaimana? Apa mereka mau membawa Ai pulang kembali?" Tanya Dinda mengalihkan topik pembicaraan.
Laki-laki di seberang sana tampak mengerutkan keningnya. Dia sulit mengatakan bila orang-orang itu sulit diajak kerjasama bahkan di saat dia menawarkan sejumlah uang yang tidak main-main banyaknya.
"Aku pikir mereka mau bekerjasama.." Dan dia memilih untuk berbohong.
Dinda menghela nafas panjang.
"Baguslah, atur mereka menculik Ai sesegera mungkin dan membawanya ke tempat yang jauh." Perintah Dinda sebelum menutup sambungan mereka.
Dia kemudian menatap langit-langit kamarnya yang selalu tampak monoton dan membosankan. Berulangkali dia melihat kearahnya tidak ada yang berbeda.
Itu sama, sama seperti hatinya saat ini yang lelah berjalan mencari tempat untuk beristirahat atau bernaung.
"Tidak apa-apa..aku harus menyelesaikan Ai dulu sebelum membantu Papa dan Mama.." Bisiknya ragu tidak seambisius beberapa waktu lalu.
Bersambung..
Assalamualaikum, semaunya. Maaf cuma bisa update ini aja karena kebetulan hari ini jaringan WiFi saya gangguan dari pagi sampai malam dan baru bisa sekarang.
__ADS_1
Oh iya, ini adalah bocoran untuk novel Kayana yah. Insha Allah rencananya saya akan update bab pertama dari tanggal 1 Agustus 2021 dengan judul... RAHASIA DULU YAH..wkwkwk..