Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 6.6)


__ADS_3

"Um..apa di sini terlalu panas, Asri?" Mega tiba-tiba melemparkan ku sebuah pertanyaan yang aneh.


"Tidak, ini panas tapi tidak terlalu panas." Jelas-jelas di sini panas tapi sebenarnya tidak terlalu panas.


Yah, bisa dibilang ini masih biasa-biasa saja.


"Tapi kenapa wajahmu sangat merah?"


Astagfirullah!


Apa ini terlihat terlalu jelas?


"Ah..ini karena sinar matahari terlalu terik." Aku berbohong kepadanya, tapi hanya setengah! Karena faktanya aku juga kepanasan.


"Mega, bangunlah dan lihat Ai di sana!" Ketika aku memalingkan wajahku, kebetulan aku melihat Kak Tiara dan Kak Frida mendatangi Ai.


Mungkin Kak Tiara tidak akan menyakiti Ai tapi berbeda dengan Kak Frida. Karena sejak kemarin Kak Frida terus saja mengganggu Ai dan menyindirnya lewat kata-kata.


Aku tidak menyukainya!


"Ada apa dengan Ai?" Mega bangun dengan malas.


"Lihat, untuk apa Kak Tiara dan Kak Frida mendatangi Ai. Nah, perhatikan wajah menyebalkan Kak Frida. Dia menatap Ai dengan wajah jutek dan menjengkelkan." Aku tidak berbohong, sungguh!


Kak Frida dari jauh memang melihat Ai dengan tatapan itu. Siapapun jelas tahu tatapan Kak Frida tidak ramah dan mengandung niat buruk.


"Hem, senioritas di sini ternyata tidak ada bedanya dengan sekolah umum." Aku tahu Mega juga tidak menyukainya.


"Kalau begitu ayo kita ke sana dan bantu Ai. Kak Frida pasti ke sana ingin menjelek-jelekkan Ai!" Aku menarik tangannya tapi Mega menolak untuk pergi.


"Kamu tidak ingin membantu Ai?" Aku tidak percaya Mega sejahat itu.


"Dengan diam di sini kita sudah menyumbangkan bantuan besar kepada Ai." Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.


"Bantuan apa? Berbicaralah dengan bahasa manusia Mega."


Mega beralih menatap ku,"Asri, kamu harus tahu bahwa orang yang suka diam ketika diganggu bukan berarti dia adalah orang yang lemah. Bisa jadi dia diam tidak membalas karena dia tahu bahwa tidak ada gunanya membalas perbuatan buruk orang itu. Tapi meskipun begitu setiap orang pasti punya batas kesabaran. Dia pasti berpikir bahwa hanya berdiam diri tanpa membalas tidak akan merubah apapun. Apalagi dia harus melalui rasa sakit yang dalam untuk sampai pada batas kesabaran itu. Asri, ketahuilah Ai adalah orang yang seperti ini. Dia diluar lembut dan tampak lemah tapi dihatinya tentu saja dia adalah orang yang kuat. Apalagi pendidikan yang dia terima dari kedua orang tuanya di rumah, aku yakin Ai tidak selemah yang kita lihat. Jika kamu ragu dengan apa yang aku katakan maka mari kita buat pertaruhan. Bila Ai kembali dengan menangis atau matanya menjadi merah, maka apa yang aku katakan tadi itu pasti salah. Dia adalah Ai yang lemah lembut dan lebih suka diam. Namun jika dia kembali dengan kedua mata yang jernih tanpa menangis maka aku pasti benar. Ai jauh lebih kuat dan mampu dari yang kita lihat."

__ADS_1


Ah, aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ku tentang sisi Mega yang luar biasa. Aku kira dia hanya berteman biasa dengan Ai dulu dan tidak terlalu saling mengenal. Tapi siapa yang sangka jika nyatanya Mega sangat mengenal seperti apa Ai itu sebenarnya. Terlebih lagi Ai pernah mengatakan jika mereka hanya berteman di sekolah taman kanak-kanak saja dan tidak lebih.


Lalu beberapa menit kemudian Ai kembali dengan keranjang sayurnya. Dia memang terlihat linglung tapi kedua matanya masih jernih tanpa ada tanda-tanda akan menangis.


Untuk sesaat aku tidak bisa mengatakan apa-apa dan menilai secara diam-diam sikap Ai selama berbicara dengan kami. Bahkan di perjalanan kembali ke asrama pun dia masih saja berperilaku seolah tidak ada yang terjadi. Membuat ku enggan bertanya karena aku pikir dia pasti tidak mau membahasnya.


Sampai akhirnya kami selesai membersihkan diri di dalam kamar mandi. Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku langsung terpana melihat kedua mata Ai dan Mega yang terlihat merah seperti habis menangis.


Sebenarnya, ada apa dengan mereka berdua?


"Ai, Mega, apa kalian bertengkar dengan Ustad Vano dan Ustad Azam?" Kali ini aku benar-benar gatal bertanya.


"Aku tidak menangis!"


"Aku tidak bertengkar!"


Mereka berdua membantah dengan kompak. Baiklah, aku sekarang benar-benar yakin jika ini pasti ada hubungannya dengan duo kulkas berjalan itu.


"Hah..aku pikir kita seharusnya fokus belajar di sini dan bukannya mengurusi tentang cinta-cintaan-"


"Aku tidak sedang jatuh cinta!" Ini adalah jawaban Mega.


"Baiklah.." Apa mereka tidak menyadari penolakan mereka saat ini telah memperjelas semuanya?


"Kita harus segera ke kantor staf sebelum masuk waktu sholat Zuhur." Aku harus membiarkan mereka waktu untuk menenangkan diri.


"Aku ingin berubah." Kata Ai tiba-tiba.


"Aku juga ingin berubah." Dan disusul oleh Mega.


"Maka dari itu kita harus memperbaiki niat kita di sini. Jauhi laki-laki agar kita bisa menimba ilmu dengan tenang-"


"Ini bukan soal cinta!" Lagi-lagi mereka membantahku.


Hah..


"Tapi..aku pikir kamu benar. Aku harus memperbaiki niatku di sini agar bisa menuntut ilmu." Kata terdengar ironis.

__ADS_1


"Aku ingin menjadi penghafal Al-Qur'an." Gumam Mega berharap.


"Yah, aku juga." Kataku berpikir sama.


Laki-laki.. lupakan tentang mereka. Kami masih kecil dan belum saatnya memikirkan laki-laki.


"Kita masih 17 tahun dan sedang menimba ilmu jadi belum saatnya memikirkan tentang dunia dewasa. Kecuali.."


Kami,


"Kita menikah muda." Kata Ai tiba-tiba.


Sontak kami bertiga saling pandang, beberapa detik kemudian kami menertawakan khayalan tinggi kami yang cukup mustahil untuk diraih.


"Hei, jangan bercanda. Memangnya siapa laki-laki yang menikahi kita diusia kita semuda ini? Bukankah mereka bodoh jika benar-benar ada!" Mega sama sekali tidak mempercayai ini.


"Aku tahu..aku tahu.." Ai tertawa kecil sampai air matanya keluar.


Tidak, mereka sebenarnya sedang menumpahkan perasaan mereka saat ini. Aku tahu hati mereka tidak baik-baik saja.


Ya Allah, aku harap setelah ini Engkau tangguhkan hati kami dalam mengejar ridho-Mu. Lindungi hatiku dan hati mereka berdua dalam langkah ini. Jangan Kau palingkan kami dari jalan-Mu ya Allah.


Untuk sebuah kebahagiaan yang Engkau janjikan, tolong teguhkan hati Kami kepada Mu ya Allah.


POV Asri END.


Mereka bertiga meneguhkan kembali alasan mereka berada di tempat yang penuh akan ilmu ini. Rasa sakit mengajarkan mereka bahwa segala sesuatu langkah yang mereka ambil akan membutuhkan sebuah harga atau pembayaran.


Bahkan hati yang telah menetapkan penghuninya pun tidak bisa mengelak dari luka sebuah pengharapan..


Itu sakit sehingga mereka tidak ingin merasakannya kembali untuk yang kedua kalinya, kecuali akan ada hari dimana mereka mengabaikan rasa sakit itu sendiri dan bertahan dalam keras kepala.


Hem, bukankah cinta itu rumit?


Bersambung..


Berbelit-belit emang karena saya menulis sudut pandang Ai, Mega, dan Asri di waktu yang bersamaan. Kalau ini kurang nyaman, fine..saya tidak akan mengulanginya lagi.

__ADS_1


Chapter selanjutnya always Author P. O. V


Lanjut..


__ADS_2