Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Janji Nadia Pada Bapak


__ADS_3

Kami pun mengantarkan Jenazah Bapak pada peristirahatan terakhir nya. Aku menggandeng tangan Ibu bersama Adik-adik ku, ku lihat wajah Ibu yang begitu pucat, matanya sembab bekas menangis dan benar-benar ini adalah kondisi terburuk yang pernah aku lihat dari Ibu.


Begitupun Adik-adik tak henti-hentinya menangis. Mereka terlihat sangat sedih dan takut.


Proses pemakaman dilakukan.


Hanya ada kesedihan dan kesedihan yang kami rasa sepanjang proses.


Pemakaman pun selesai.


Dan sekarang pembacaan do'a.


Jujur ini hari terberat ku dalam melangkah, bahkan mulut ini sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun, tapi aku ingat pesan guruku, jangan pernah menangis di pemakaman, karena akan memberatkan almarhum. Maka ku usahakan tegar tanpa meneteskan air mata. Demi ketenangan Bapak.


Tetangga pun satu persatu meninggalkan kami. Sekarang disini hanya tinggal kami berempat. Tapi Ibu sudah sangat terlihat pucat dan tak bergairah. Terlihat seperti akan pingsan. Sebelum ku tinggalkan makam Bapak, ku bacakan doa dan pesan terakhir untuk Bapak. Aku janji akan merawat keluarga ku dengan baik sebagai anak sulung.


"Bu, sudah yaa jangan nangis lagi, kasihan Bapak, yuk kita pulang."ajakku pada Ibu


Akhirnya Ibu mau, sebelum Ibu meninggalkan makam Bapak Ibu mengucapkan pesannya pada Bapak.


"Pak, Bapak yang tenang yaa disana, tunggu Ibu, suatu saat Ibu akan menyusul Bapak, Bapak jangan takut, Ibu akan menjaga anak-anak, maafin Ibu selama ini belum jadi istri yang baik, masih suka mengeluh dan marah-marah, maafin Ibu yaa Pak. Bapak yang tenang."ucap Ibu sambil bersedih


Sementara adik-adik tidak ada yang sanggup berbicara lagi, semua hanya menangis pilu. Bagaimana tidak ?


Bapak adalah orang yang paling dekat dengan Anak-anak nya, Bapak adalah tempat curhat terbaik bagi Anak-anak nya.


Lalu kami meninggalkan pemakaman dengan hati pilu dan sakit. Kami kembali dirumah, sudah banyak tetangga datang untuk mengucapkan turut berdukacita dan banyak yang akan membantu persiapan pengajian.

__ADS_1


Tiba-tiba Om Heru datang bersama Mang Ujang.


"Assalamualaikum."ucap Om Heru


"Waalaikumsalam."ucapku


Lalu aku menghampiri Om Heru dan mengajak nya mengobrol di bangku luar.


"Silakan Om dan Mang Ujang duduk dulu."ucapku


Lalu kami duduk bersama.


"Maaf Nadia, ini kenapa ramai-ramai, terus ada bendera kuning? siapa yang meninggal?."tanya Om Heru


"Bapak yang meninggal Om."ucapku singkat


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, padahal si Bapak teh orang nya baik dan ramah banget, sakitnya kambuh yaa Neng?."ucap Mang Ujang


Lalu aku menceritakan kronologis kejadian hari ini pada mereka, dari mulai kedatangan keluarga Nathan, perdebatan yang terjadi dan Bapak yang tiba-tiba pingsan ternyata Bapak sudah tidak ada.


"Ya Tuhan, ternyata Bapak kamu adalah Pak Dahlan. Sahabat baik Wibowo , yang dulu pernah kerja di perusahaan kami dan ..."ucap Om Heru terputus


Dan aku mulai mengerti apa lanjutan dari kalimat Om Heru. Pasti Om menuduh Bapak korupsi, karena kan Bapak saat itu dituduh dan dipecat.


"Om sebelumnya saya mohon maaf, pasti Om ngira kalau Bapak itu adalah orang yang korupsi di kantor Ayahnya Satrio, tapi Om sumpah saya yakin Bapak itu tidak bersalah, Bapak hanya korban fitnah saja, sebelumnya Bapak pernah cerita ke saya bahwa Bapak itu difitnah oleh Om Panji dan Om Hartono, karena Bapak tidak mau mengikuti perintah mereka untuk mencelakai keluarga Om, aku janji akan mencari cara agar kasus itu terbongkar dan membuktikan ucapan ku benar Om."ucapku menjelaskan


"A...apa ? kamu benar Nad ? pelakunya mereka? sudah Om duga dari dulu kalau mereka yang melakukan, tapi apa Almarhum Bapak mu pernah cerita kenapa mereka melakukan itu?."tanya Om

__ADS_1


"Iyaa Om, motif nya adalah percintaan antara Ayah Nathan, Ayah Satrio dan Ibu Satrio. Bermula dari cinta Om Hartono yang bertepuk sebelah tangan dan ternyata Om Wibowo lah yang mendapatkan cinta itu, itu awal mula dendam ada menurut Bapak, dilanjutkan karena harta, mereka mengincar harta keluarga Om."ucapku melanjutkan


"Kurang ajar, mereka benar-benar jahat dan licik, terimakasih Nadia atas informasi yang kamu berikan ke Om, Om juga akan segera mencari bukti agar mereka dipenjara, mereka layak dihukum seumur hidup. Memang Om dulu sudah menebak hal itu, hanya Om kurang bukti ditambah Hartono pergi ke Jakarta, jadi sulit menemukan bukti."ucap Om


"Iyaa Om, hari ini aku nggak nyangka banget, lamaran ini hanya membuat aku bersedih, aku nggak nyangka pembunuh orang tua Satrio adalah Ayahnya Nathan, aku nggak nyangka kalau semua ini berhubungan, mungkin memang sudah waktunya ini terbongkar, betapa rencana Tuhan tidak ada yang tahu."ucapku bersedih


"Kamu yang sabar yaa Nad, kamu nggak boleh patah semangat, Om yakin kamu perempuan hebat dan bisa kembali bangkit, percaya sama Om kalau akan ada hikmah di balik kejadian ini."ucap Om Heru


"Iyaa makasih Om, mudah-mudahan aku kuat."ucapku


"Nad, Om sebagai perwakilan keluarga juga minta maaf telah menuduh Almarhum Bapak mu korupsi, sungguh dulu kami nggak tahu jika Bapakmu difitnah, karena kejadian nya begitu cepat, Kami salah tidak mendengarkan penjelasan Bapak mu."ucap Om menyesal


"Sudahlah Om, yang lalu biarlah berlalu, aku dan keluarga sudah memaafkan, tapi aku berharap mereka yang keji harus dihukum secepatnya."ucapku


"Iyaa kamu tenang Nad, Om akan segera menangkap mereka semua. Oh ya sebagai permintaan maaf, semua biaya pengajian dan kebutuhan keluarga kalian akan Om tanggung, Om janji."ucap Om Heru


"Nggak usah Om, makasih banyak, aku masih bisa bekerja untuk menafkahi keluarga ku, aku nggak mau merepotkan siapapun termasuk Om, biar aku yang berusaha."ucapku


"Baiklah Nad, Om tidak memaksa, hanya jika kamu butuhkan bantuan Om, kamu nggak perlu sungkan untuk menghubungi Om, anggap Om sebagai keluarga mu."ucap Om


"Iyaa baik Om, yasudah kita masuk yuk Om dan Mang Ujang."ucapku


Lalu kami masuk ke dalam rumah, Om Heru mengucapkan bela sungkawa nya pada Ibu.


Sungguh hari paling berat bagi kami.


7 hari berlalu...

__ADS_1


Kami sudah melaksanakan pengajian dirumah dengan dibantu oleh Om Heru, karena diam-diam Om memberikan bantuan ke Ibu dan Ibu terima. Sementara aku hari ini berniat ke Bandung untuk bertemu Nathan dan menyelesaikan segalanya, kemungkinan aku akan mengambil barang-barang ku dirumahnya dan kembali ke Bogor, bahkan aku akan berhenti kerja dari Kafe. Aku nggak mau berhubungan lagi dengan Nathan, aku khawatir keluarga Nathan akan mencelakai ku apabila aku masih berhubungan dengan Nathan.


__ADS_2