
"Umi.." Panggil Safira seraya menatap wajah pucat itu kini sudah sepenuhnya terpejam tanpa ada cahaya kehidupan lagi.
Bibir pucat Umi yang mulai membiru membentuk sebuah senyuman yang tipis. Tanpa perlu dikatakan mereka tahu bila tempat Umi seharusnya sangat baik di alam sana.
"Innalilahi waa innailaihi raji'un.." Bisik Safira sebelum berteriak keras meluapkan kesedihannya.
"Umi..ya Allah..Umi pergi hiks..Umi sudah meninggal!" Teriaknya tidak kuasa menahan kesedihan.
Annisa merosot lemah ketika menatap wajah kaku Umi yang berada tepat di depannya. Tangan kanannya bergetar hebat ingin menyentuh wajah kaku itu tapi hatinya sangat takut sehingga dia tidak bisa benar-benar menyentuhnya.
"Bagaimana mungkin secepat itu.. bagaimana?" Bisiknya tidak percaya.
Perlahan isak tangisnya yang sempat terhenti tadi mulai terdengar lagi. Semakin dia terisak maka semakin keras pula suara tangisannya.
Mereka tidak tahu bila suara tangisan mereka menarik perhatian Gio, Tio, dan Ali. Mereka memutuskan untuk menitipkan anak-anak kepada Khadijah dan Aisyah sebelum pergi menemui istri masing-masing.
__ADS_1
"Innalilahi wa innailaihi raji'un." Ucap Ali ketika dia melihat wajah pucat Umi yang masih dipeluk oleh istri dan kedua Kakak iparnya.
Dia tidak pernah berpikir bahwa telpon dari Umi semalam meminta mereka semua untuk berkumpul di sini adalah karena alasan ini. Itu karena Umi sudah punya firasat akan segera pulang ke tempat yang seharusnya.
"Istriku, ikhlaskan lah kepergian Umi. Kita semua cepat atau lambat akan menyusulnya, ini hanya masalah waktu saja." Bisik Ali ikut merasa sedih sambil menarik Safira masuk ke dalam pelukannya.
Safira dengan pasrah masuk ke dalam pelukan Ali, menangis sekencang-kencangnya di sana untuk menumpahkan rasa sakit dihatinya.
"Aku tahu, Mas..aku tahu. Tapi tetap saja rasanya sakit. Aku masih tidak percaya jika Umi pergi secepat ini..aku masih belum bisa mempercayainya." Katanya sambil menangis.
Ali mengangguk ringan, mengecup puncak kepala Safira berulangkali seraya mengelus punggungnya.
"Safira tahu, Mas. Tapi..saya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Umi juga pergi setelah Abi.. mereka pergi meninggalkan kami sendirian di dunia ini hiks.. rasanya sakit, Mas! Rasanya sakit!" Keluh Safira sembari memukul-mukul jantungnya yang kini berdenyut sakit.
Ali semakin sakit melihat istrinya. Dia lalu memegang tangan istrinya agar jangan menyakiti dadanya lagi. Dia sungguh sakit melihat betapa hancur istrinya sekarang.
__ADS_1
Kepergian Abi sudah membuatnya seringkali menangis dalam tidurnya apalagi ditambah dengan kepergian Umi kali ini. Dua orang hebat yang telah melahirkan dan membesarkannya kini telah pergi ke tempat yang jauh.
Meninggalkan luka dan rasa sakit yang tidak berujung untuk ketiga putri-putri mereka yang luar biasa.
"Ini sakit, ini memang sakit, istriku. Tapi sekuat apapun kamu mengeluh dan sekuat apapun kamu menangis ketetapan Allah tidak akan pernah bisa dirubah. Lapangkan hatimu wahai istriku, lapangkan lah hatimu. Rasa sakit ini sesungguhnya membuktikan bahwa kamu memang mencintainya tapi janganlah kamu berlarut-larut istriku. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang menangisi dengan keras kepergian orang-orang yang kembali kepada-Nya. Sebab hamba tersebut seolah-olah menentang garis yang sudah Allah tetapkan untuk mereka. Istriku, apa kamu mau menjadi bagian dari orang-orang yang tidak disukai oleh Allah?"
Hanya suara isak tangis Safira saja yang terdengar. Ali pikir Safira tidak akan merespon apapun tapi tidak berselang lama Safira menggelengkan kepalanya.
"Safira tidak mau.." Jawabnya dengan suara yang serak dan tangisan yang mulai mengecil.
"Alhamdulillah, ayo bangun, istriku. Kita harus mengurus jenazah Umi sebelum dikuburkan. Ketika seseorang yang beriman meninggal, jasad itu akan berdoa kepada Allah agar segera dikebumikan. Bahkan para penghuni langit akan saling berebutan ingin melihat siapakah hamba yang membuat langit bergetar karena kepulangannya? Allah'ualam Bishawab."
Setelah berusaha meyakinkan Safira, Ali lalu membantu Safira bangun untuk menyelesaikan segala urusan sebelum menguburkan jenazah Umi. Badan Safira sangat lemas, lututnya bahkan terasa mati rasa tidak bisa digerakkan. Dia sangat kesulitan berdiri apa lagi berjalan, jadi dengan dibantu suaminya Safira mencoba menjadi kuat. Akan tetapi semua usahanya sia-sia tatkala melihat wajah kaku Umi yang masih tersenyum tipis duduk di atas bangku tangan.
Seketika kekuatannya langsung hilang dan dia tanpa bisa dicegah jatuh ke tanah. Untungnya Ali bertindak cepat. Dia segera meraih pinggang istrinya sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Dia tahu bila istrinya tidak akan bisa berdiri atau pun berjalan jadi dia memutuskan untuk membopong istrinya.
__ADS_1
Mengucapkan sesuatu kepada Gio dan Tio sebelum masuk ke dalam rumah. Dia membawa Safira masuk ke dalam kamarnya di lantai dua. Merebahkan istrinya sebelum mulai menghubungi kerabat keluarga yang lain tentang kepergian Umi.
Hari itu sekali lagi mereka berduka. Kerabat jauh yang berbeda daerah berbondong-bondong datang ke rumah untuk mengkonfirmasi apakah berita duka itu benar adanya. Setelah mereka tahu bahwa kepergian Umi bukanlah sebuah kebohongan, banyak orang yang menangis mengenang Umi. Mereka tidak pernah berharap bila Umi akan pergi secepat ini, sama seperti kepergian Abi yang mengejutkan banyak orang.