
Sesaat dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia malu, tidak perlu ditanyakan lagi. Jika bisa dia ingin memutar waktu, kembali ke momen beberapa detik yang lalu ketika dia berbisik kepada dirinya sendiri. Volume suaranya terlalu besar, saat itu dia ingin tutup mulut saja agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"Jadi, mengapa kamu tidak masuk ke dalam dan malah berdiri di luar sini?" Tanya Kevin di seberang sana.
Asri mengambil nafas panjang, mengendalikan suaranya agar tidak cempreng atau bervolume tinggi. Dia harus menjaga citra lembutnya sebagai seorang perempuan desa yang ayu.
"Ini..Kak Kevin..aku sedang menunggu temanku yang masih berada di dalam kamar mandi. Aku sudah berjanji menunggunya di sini." Jawabnya tidak sepenuhnya benar.
Hanya Allah yang tahu perjalanan hatinya tadi bagaikan menaiki roller coaster yang berliku-liku. Dalam waktu yang berdekatan dia harus menerima berbagai macam serangan dari situasi Mega dan Ai. Tapi untungnya setelah tersesat di gurun pasir dia menemukan sebuah sumber mata air yang sangat menyejukkan.
Em, malam ini dia terlalu beruntung.
"Kalau Kak Kevin sendiri.. kenapa-"
"Assalamualaikum." Suara Mega menginterupsi kata-kata Asri.
Mega berjalan menunduk mendekati Asri tanpa memperhatikan ada sesuatu yang salah dengan Asri.
"Teman mu sudah datang maka segeralah masuk. Di sini dingin dan tidak pantas perempuan berada diluar rumah diwaktu selarut ini."
Kevin melihat teman Asri sudah kembali maka dia meminta mereka berdua untuk segera masuk ke dalam. Ini sudah jam 11 malam, tidak ada satupun wanita di sini kecuali mereka berdua dan aturan pondok pesantren sangatlah jelas bahwa para wanita seharusnya masuk ke dalam asrama pukul 9 malam dan kemudian pada 10 malam mereka diwajibkan tidur.
__ADS_1
Di samping itu banyak santri laki-laki yang berpatroli di dalam pondok pesantren. Kevin tidak mau keberadaan Asri dan Mega memberikan setan celah untuk memasang perangkap. Maka dari itu ada baiknya jika Asri dan Mega segera masuk ke dalam untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
"Iya, Kak Kevin. Kami akan masuk dulu, assalamualaikum." Asri memang kecewa tapi itu bukan berarti dia marah.
Ini hanya cinta monyet pikirnya, akan segera hilang jika mereka tidak bertemu lagi.
"Silakan, waalaikumussalam." Kevin masih berdiri di tempatnya.
Memperhatikan Asri dan Mega masuk ke dalam ruangan medis sebelum melanjutkan lagi kegiatannya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada pula yang berkesan. Baginya, Asri sama seperti santriwati-santriwati yang dia temui di sini.
Mereka hanyalah orang asing dan menjalin persaudaraan karena iman. Dan Kevin, dia tidak pernah punya pikiran sama sekali untuk menemukan gadis lain di sini kecuali dia yang sudah lama Kevin sukai.
Flash Back Off
"Kenapa kamu tidak memanggilku ke kamar mandi?" Tanya Mega ikut-ikutan berbisik.
Asri mengerjap ringan, dia teringat kembali pertemuannya dengan Kevin tadi. Itu sungguh tidak disengaja dan tidak terencana sama sekali. Dia tidak tahu ada Kevin di sana dan dia tidak pernah berharap bisa bertemu Kevin di malam yang selarut itu.
"Itu.. bukankah tadi kamu melihatnya sendiri? Aku ingin pergi memanggilmu tapi tidak sengaja bertemu dengan itu..senior kita dari santri laki-laki." Jawab Asri dengan senyuman tertahan di wajahnya.
"Dia lumayan tampan," Tanpa sadar topik pembicaraan mereka bergeser.
__ADS_1
Asri menyentuh hidungnya pura-pura tidak terganggu.
"Tapi aku pikir Ustad Azam lebih tampan."
Mega langsung mendengus, tapi tidak ada lagi tatapan muak dan benci dimatanya. Karena pembicaraan tadi dia menjadi lebih santai dan tidak setajam biasanya.
"Jangan pikirkan tentang dia." Bisik Mega dengan semburat merah diwajahnya.
Asri jadi terpancing menggodanya.
"Eh, Ai, apa kamu tahu tadi Ustad Azam ingin-"
"Jangan katakan itu!" Potong Mega tidak tahan.
Asri pikir dia marah. Tapi nyatanya tidak.
"Masalah ini aku akan menceritakannya kepada kalian diwaktu yang tepat asal kalian berjanji untuk merahasiakannya." Sambung Mega membuat Asri langsung bisa bernafas lega.
Ai berpikir sejenak. Setelah mendengar kata-kata tulus Mega, dia tiba-tiba berpikir bahwa mereka seharusnya saling berbagi perasaan satu sama lain. Karena mereka akan berteman tidak hanya satu atau dua bulan, melainkan bertahun-tahun. Selain itu Mega ingin menceritakan masalah pribadinya adalah bukti bahwa Mega mempercayainya sebagai teman.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada kalian. Masalah ini..aku juga ingin menceritakannya di waktu yang tepat. Waktu dimana aku benar-benar siap menceritakannya."
__ADS_1
Mereka bertiga kembali termenung. Asri ikut terinfeksi oleh rasa nyaman ini. Mereka berteman dan setelah malam ini mungkin mereka adalah sahabat. Mereka akan menjadi saudara untuk satu sama lain.
Jadi, dia juga ingin menceritakan apa yang dia ceritakan kepada saudara-saudaranya tercinta. Saudara yang dia harapkan sampai di Jannah Allah.