
"Hei, dia ini adalah anak monster." Kepala Ai tertunduk dalam diam mendengarkan bisikan-bisikan keras di belakangnya.
Tangan yang menegang memegang pensil warna dia paksakan tetap bergerak mewarnai sebuah pohon buatan yang tidak terlalu menarik.
"Apa maksudmu, kenapa kamu mengatakan Ai adalah anak monster?-"
"Hustt..." kata-kata anak laki-laki itu dipotong oleh teman sepermainannya.
"Jangan keras-keras menyebut namanya, bila dia dengar apa kamu mau monster-monster di rumahnya mendatangi kamu?" Katanya menginterupsi.
Anak laki-laki itu tidak percaya tapi karena temannya sudah melarang maka dia terpaksa menutup mulutnya.
"Ai bukanlah monster karena wajah monster sangat jelek sedangkan Ai adalah gadis yang cantik!" Anak laki-laki yang lain membela Ai.
Dia senang berteman dengan Ai karena Ai adalah gadis yang baik dan tidak nakal seperti anak-anak lainnya.
"Hei, justru karena cantik dia disebut sebagai monster. Jika kamu tidak percaya coba tanya langsung ke dia apa jenis kelaminnya!" Anak gadis itu tampak percaya diri dan keras kepala.
__ADS_1
"Kamu bodoh, apa hubungannya monster dengan jenis kelamin!" Anak gadis yang berambut keriting lebat itu marah karena teman bermainnya di sebut sebagai monster.
Padahal jelas-jelas Ai adalah manusia.
"Kamu yang bodoh! bu guru Dinda pernah mengatakan kepadaku bila monster mempunyai dua alat kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan manusia biasa hanya mempunyai satu alat kelamin saja!" Anak gadis yang suka bergosip itu tidak senang dianggap bodoh.
Malah dia berpikir bila merekalah yang bodoh karena tidak bisa melihat wajah Ai yang sebenarnya.
"Bohong, Ai adalah gadis yang baik dan dia tidak mungkin menjadi monster!" Kata anak gadis berambut keriting itu masih keras kepala.
"Aku bilang tanya saja kepadanya jika kamu tidak percaya! Tanya berapa alat kelamin yang dia punya!" Anak gadis itu menantang teman-temannya yang tidak percaya.
"Biar aku saja. Aku sudah lama ingin berburu monster seperti yang ada di tv Ibuku." Kata anak laki-laki itu seraya berjalan mendekati Ai yang masih menunduk memaksakan diri menggambar.
Padahal hatinya sangat sedih mendengar semua tuduhan teman-teman kepadanya.
"Hei, apa benar yang dikatakan mereka bila kamu adalah anak monster?" Tanya anak laki-laki itu langsung.
__ADS_1
Ai terkejut, dia menundukkan kepalanya semakin dalam mengingat kembali pengalaman pahit yang dia rasakan di panti asuhan.
Di sana entah anak-anak atau para pengurus panti memanggilnya sebagai anak monster. Mereka mencacinya, mengucilkannya, dan terkadang dia mendapatkan luka ditubuhnya hanya karena pengurus panti ingin meluapkan amarahnya.
Ai kesakitan, dia takut anak-anak di sekolahnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anak panti. Dia takut ditinggalkan dan kesepian.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak mendengar pertanyaan ku?" Anak laki-laki itu menendang kaki meja Ai mulai kesal.
"Aku tidak.." Bisik Ai menahan isak tangisnya.
"Jadi bukan, tapi bisakah kamu memberitahu kami berapa alat kelamin yang di dalam tubuh mu?" Anak laki-laki itu masih belum percaya dengan jawaban singkat Ai.
Ai sekali lagi terdiam, tangannya yang memegang pensil kini telah berada di bawah meja memegang erat rok sekolahnya.
"Kenapa kamu tidak menjawab?" Anak gadis yang memulai gosip datang menghampiri Ai.
Dia sudah sangat tidak menyukai Ai semenjak perhatian teman-teman maupun guru-gurunya jatuh kepada Ai. Semua orang menyayangi Ai dan dia tidak suka itu karena dia kaya, dia cantik, dia lebih pintar dari Ai.
__ADS_1
Intinya dia lebih mampu dari Ai!