
"kenapa Alesa bicara seperti itu? papa sama mama Reni tidak mungkin bersatu lagi nak!"
"bukankah papa tadi bilang kalau papa sayang sama Alesa dan mau mengabulkan permintaan Alesa?"
"tapi bukan untuk kembali bersama dengan mama Reni nak!"
"kalau papa ngga mau kembali sama mama lebih baik Alesa mati aja!"
"Alesa jangan bicara seperti itu."
"tuh kan anakmu aja ngga mau nerima dia jadi mama sambungnya. Dia tau mana yang baik dan mana wanita yang akan membawa pengaruh buruk untuknya." wanita bertubuh gemuk menimpali dengan sengit.
Sementara orang tua Rio tidak bisa berbicara apa apa mengenai masalah anaknya karena berhubungan langsung dengan cucunya.
Norin memejamkan matanya menetralisir perasaannya yang campur aduk.
Norin menggenggam tangan gadis kecil itu.
"Alesa, Tante janji, Tante tidak akan merebut papa Alesa. Tante juga tidak akan memisahkan papa Alesa dengan mama Alesa. Alesa cepat sembuh ya." Norin tersenyum pada gadis kecil itu.
Rio diam membeku mendengar pernyataan wanita yang ingin ia jadikan istri.
Sementara Reni tersenyum puas melihatnya.
"saya permisi dulu, assalamualaikum!" Norin bergegas meninggalkan ruang rawat tersebut.
"dek, dek Norin tunggu! teriak Rio lalu menyusul Norin keluar.
"papa jangan pergi...," teriak Alesa. Namun, tak di harau kan oleh Rio.
Norin mempercepat langkahnya, air mata mulai turun ke dasar pipinya. Ia tidak menghiraukan teriakan Rio yang memanggil namanya. Ia ingin segera pergi dari pria yang membuat dirinya sangat kecewa.
Namun, langkahnya kalah cepat dengan pria tinggi itu. Segera Rio mencekal lengan Norin.
"dek, tunggu dek, jangan seperti ini saya mohon dek!"
"tolong mas lepaskan saya, saya mau pulang!"
"saya akan tetap menikahi kamu dek meskipun tanpa restu dari Alesa."
Norin terdiam, ia berhenti berontak lalu menatap tajam pada pemilik mata teduh itu.
"apa mas bilang? menikahi saya setelah apa yang mas lakukan pada saya! saya benar benar kecewa pada ketidakjujuran mas dari awal. Bahkan mas membawa saya kesini hanya untuk di hina ,di permalukan bahkan di tolak sama anak kandung mas Rio sendiri. Benar kata mertua mas Rio, saya ini cuma sebuah batu yang ga ada harganya, lebih baik mas kembali aja pada mantan istri mas."
"tapi saya sayang kamu dek, saya udah ngga punya perasaan apa apa lagi sama Reni. saya cuma menghargai dia aja sebagai ibunya Alesa. saya benar benar ingin nikahi kamu dek membangun rumah tangga baru denganmu dek."
"maaf mas, saya ngga bisa. saya ngga bisa menikah dengan mas. kalau di paksakan untuk menikah akan banyak hati yang tersakiti mas. Harus mas ketahui, alasan apapun mas bercerai dengan mantan istri mas, tapi saya yakin mba Reni masih mencintai dan mengharapkan mas Rio dan juga Alesa menginginkan orang tuanya bersama lagi. saya ngga apa apa mas, saya ikhlas."
"dek Norin menolak saya?"
Norin mengangguk.
"saya permisi dulu mas!" Norin kembali melangkahkan kakinya.
"dek, biar saya antar kamu pulang." teriak Rio.
Norin menghentikan langkahnya lalu menoleh pada pria tersebut." tidak perlu mas, terima kasih."
__ADS_1
Norin melanjutkan lagi langkahnya dengan cepat meninggalkan pria yang menatapnya sedih sampai di kejauhan.
Norin berjalan menyusuri tepi jalan tanpa arah. Lelah ia berjalan kaki lalu duduk di sebuah bangku panjang.
"begini amat ya nasibku !" Norin bergumam lalu tersenyum getir.
Norin tiba di rumah ibunya menjelang malam hari. Bu Aminah dan Rizal menyambut kedatangannya dengan cemas.
"Rin, apa benar kamu abis ikut dengan pak Rio?" tanya sang ibu.
Norin yang baru saja merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa mengangguk.
"pak Rio, bawa kamu kemana Rin? terus apa alasan pak Rio membatalkan acara lamarannya?"
"ke rumah sakit Bu, anaknya sakit."
"apa? pak Rio udah punya anak?"
"kok ibu balik tanya? apa ibu ngga tau kalau pak Rio seorang duda dan memiliki anak umur enam tahun?"
Bu Aminah menggelengkan kepalanya.
"kok ibu bisa ngga tau? bukannya dia kerja di sekolahan yang sama dengan ibu ya?" tanya Rizal.
"pak Rio baru lima bulan kerja di sekolah yang sama dengan ibu zal, ibu ngga tau kalau dia seorang duda."
"pantes aja, untung dia duda bukan pria beristri," celetuk Rizal.
"terus apa keputusanmu Rin? apa mau menerima atau.....!"
Norin menggelengkan kepalanya.
"iya Bu!"
"kenapa? apa kamu ngga bisa nerima masa lalunya Rin?"
"bukan aku yang ngga bisa nerima masa lalunya Bu, tapi masa lalunya yang ngga bisa nerima kehadiranku."
"maksudnya Rin?"
Norin menghembuskan nafas berat.
"anaknya mas Rio ngga nerima aku Bu, dan dia menginginkan mas Rio untuk kembali bersama dengan mantan istrinya."
Bu Aminah langsung menghambur memeluk norin dengan mata berkaca kaca.
"maafin ibu ya Rin, maafin ibu!" ucap sang ibu sembari terisak.
Norin mengelus punggung ibunya.
"ngga usah merasa bersalah gitu Bu, ngga apa apa, aku baik baik aja kok. aku juga ngga sedih."
Bu Aminah melepaskan pelukannya."kok kamu bisa ngga sedih Rin?"
"ya karena aku ngga memiliki perasaan apa apa sama pak Rio Bu, meskipun aku sempat kecewa karena menantu yang ibu harapkan batal meminang ku. justru aku lebih sedih melihat ibu bukan sedih melihat diriku sendiri."
"bagus mba, hilang satu tumbuh seribu. Rizal yakin di luar sana pasti ada sosok penggantinya yang jauh lebih baik." ucap Rizal.
__ADS_1
Norin tersenyum.
"aku gerah Bu, mau mandi dulu." Norin beranjak pergi menuju kamar mandi.
Bu Aminah menatap punggung anaknya dengan sedih." kasian kamu Rin?"
"mba Norin itu ngga butuh belas kasihan Bu, doakan aja smoga kelak mba Norin mendapatkan jodoh yang terbaik."
"amiiin....."
Sementara di sebuah bandara. Pria tampan khas Korea baru mendaratkan kakinya di Indonesia setelah kepulangannya dari Vietnam.
Kemudian ia memasuki mobil yang sudah menunggunya.
"apa kita akan langsung pulang tuan?" tanya seorang sopir pribadi.
"ya !"
Sopir tersebut mulai melajukan kendaraan roda empat meninggalkan bandara tersebut.
"untung saja masalah kebakaran tidak terlalu parah dan bisa di atasi dalam satu hari."
Shin menyenderkan tubuhnya lalu memejamkan matanya, hari ini ia merasa benar benar lelah sekali. Bagai mana tidak, terbang ke Vietnam pagi hari langsung ke lokasi pabrik yang terbakar dan seharian mengatasi masalah tersebut. Dan sore hari ia harus kembali terbang lagi ke Indonesia.
Seharian sibuk membuat dirinya melupakan wanita bermata bulat sesaat. Namun, tiba tiba ia teringat kembali.
Shin mengeluarkan dompetnya lalu mengambil kartu identitas Norin yang ia temukan tanpa sengaja di dalam tas miliknya.
Shin menatap dalam pada kartu identitas tersebut.
"menunggumu dua minggu lagi untuk kembali rasanya seperti menunggu dalam satu tahun. Lebih baik aku menyusul mu saja lalu menyeret mu kembali dan aku tidak akan melepaskan mu lagi." Shin bermonolog.
"apa anda tau alamat ini ?" Shin memberikan kartu itu pada sang sopir setelah mereka tiba di mansion.
Sopir itu mengambil kartu tersebut lalu memperhatikannya.
"saya tidak tau tuan, ini sepertinya jauh sekali."
"apa anda hidup di jaman dulu? apa anda lupa jika sekarang teknologi sudah canggih? saya tidak mau tau, anda harus mencari tau alamat itu dan antar kan saya ke sana besok. bila perlu kau cari tau apa lokasinya bisa mendaratkan pesawat di sana?"
"ba baik tuan!" sang sopir tidak bisa membantah perintah tuannya.
Malam menjelang pagi. Shin sudah rapih dengan penampilannya karena hari ini ia akan mencari keberadaan dimana pujaan hatinya berada.
Seorang pria tergopoh gopoh menghampirinya." tuan Hoon!"
"apa anda sudah mendapatkan apa yang saya suruh tadi malam ?"
" sudah tuan, saya sudah tau tempatnya tapi di sana tidak ada lapangan untuk mendaratkan pesawat dan daerah itu tidak memiliki bandara tuan."
"lalu apa yang ada ?"
"hanya ada stasiun kereta tuan!"
"what?" apa tempat itu terlalu terpencil ?"
"iya tuan!"
__ADS_1
"kalau begitu antar kan saya naik mobil saja sekarang."
Sang sopir menggaruk tengkuknya." apes banget dah, masa aku harus nyetir delapan jam.