Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.14)


__ADS_3

"Ustad tidak boleh memberikan kami hukuman karena Ustad sendiri juga berbuat salah. Aku bisa saja melaporkan Ustad kepada Pak Kyai karena telah bersentuhan dengan lawan jenis dan bahkan berduaan di tempat yang gelap-gelap!" Hana melawan, dia tidak terima dihukum oleh Ustad Vano.


Sementara itu di samping, teman-teman kamar Ai menatap Hana dengan tatapan ngeri. Mereka tidak tahu jika Ustad Vano adalah Kakak sepupu Hana sehingga ia mempunyai keberanian untuk melawan Ustad Vano. Bagi teman-teman kamar Ai, ini adalah satu-satunya momentum menegangkan yang mereka lihat di pondok pesantren bahwa ada santri yang berani mengancam Ustad Vano, si kulkas berjalan tingkat akut.


Ai juga tidak kalah paniknya. Dia menjadi pucat pasi, takut Hana benar-benar nekat melaporkan Ustad Vano kepada Pak Kyai. Bisa-bisa nama baik Ustad Vano tercemar karena dirinya.


"Oh, laporkan saja, aku tidak akan takut. Bukannya takut aku malah senang karena dengan begitu aku dan Aishi bisa dinikahkan tanpa perlu menunggu waktu lama." Ustad Vano menjawab dengan amat sangat enteng tanpa ada raut panik diwajahnya.


Dengan kata lain Ustad Vano memanfaatkan hukuman ini sebagai sebuah terobosan agar bisa menghalalkan Ai dengan cepat!


13 tahun!


13 tahun menunggu agar bisa bertemu dan menghalalkan Ai bukanlah waktu yang mudah untuk ia lewati. Segala lelah dan letih sudah seringkali menghinggapi tubuh serta hatinya. Adapun ketakutan, diam-diam ia menyimpan rasa takut bila Ai sudah berpindah hati memikirkan laki-laki lain. Laki-laki yang jauh lebih baik dari dirinya.


Semua orang,"...." Yah, Ustad Vano terlalu manis, ah!


Hana gelagapan. Dia lupa jika sepupunya ini adalah orang yang nekat bila menyangkut tentang Ai. Mampu bertahan lama di pondok pesantren ini adalah salah satu bukti terkuat bahwa Kakak sepupunya ini sungguh sangat serius kepada Ai.

__ADS_1


"Kalian semua adalah saksinya. Aku menyentuh Ai, memegang tangannya, bermain mata dengannya, dan berbicara di tempat yang gelap-gelap. Sesuai aturan pondok kami sudah melewati atau melanggar terlalu banyak aturan dan solusi terbaik untuk kami adalah pondok pesantren harusnya menikahkan kami untuk mencegah zinah di masa depan. Jadi, kalian bisa melaporkan kami kepada Pak Kyai dan aku berjanji tidak akan marah, ini adalah kesalahan yang aku buat sendiri jadi aku tidak keberatan untuk mempertanggungjawabkannya." Ustad Vano adalah ahlinya bila menyangkut soal aturan di pondok pesantren dan semua yang dikatakan oleh Ustad Vano memang benar, dia tidak mengada-ada soal pernikahan yang ia katakan tadi.


Atas semua perbuatan yang dilakukan, pernikahan adalah jalan keluarnya. Tapi...ini terlalu menguntungkan untuk Ustad Vano, ah!


Niatnya ingin selamat dari hukuman malah melemparkan diri ke dalam lubang buaya.


"Maaf Ustad, kami salah." Hana dengan berat hati mengakui.


Dia tentu tidak mau melaporkan Kakak sepupunya ke pihak pondok, bukan berarti dia tidak ingin melihat Ustad Vano bahagia tapi lebih tepatnya dia tidak ingin merusak nama baik Ustad Vano. Di samping itu ia takut jika orang tua Ai menganggap Ustad Vano telah gagal menunaikan janjinya, dan hasil akhirnya adalah semua usaha Ustad Vano selama 13 tahun ini akan sia-sia.


"Kalian tidak mau melaporkan aku?" Ustad Vano jelas kecewa.


Hana dan yang lainnya memaksakan senyum,"Kami tidak akan berani."


Ustad Vano mengangkat alisnya tidak senang."Kalian tidak mau artinya kalian bungkam terhadap pelanggaran yang kami lakukan." Kata Ustad Vano menambahkan poin baru lagi yang dilanggar oleh Hana dan teman-teman kamar Ai.


Hana,"...." Tolong maafkan aku karena menambah masalah!

__ADS_1


"Jadi aku memutuskan untuk memberikan kalian sebuah hukuman yang cukup pantas. Besok, pukul 9 siang, kalian semua harus membersihkan sawah bagian kangkung yang baru saja dipanen beberapa hari ini. Sawahnya harus segera dibersihkan agar bisa menanam sayuran selanjutnya." Ustad Vano menjatuhkan sebuah hukuman yang tidak main-main untuk mereka.


Sejenak, ketika mendengar kata 'sawah kangkung' mereka akan langsung teringat dengan kejadian dimana Ai, Mega, dan Asri jatuh tercebur ke dalam. Pemandangan itu sangat mengerikan dan sulit dilupakan. Pasalnya tubuh mereka semua dibaluti oleh air berlumpur dan parahnya lagi, itu terjadi saat sinar matahari sedang panas-panasnya!


Ugh, itu adalah siksaan untuk kaum perempuan.


Sekarang mereka terpaksa harus mencicipi apa yang juga Ai, Mega, dan Asri rasakan beberapa hari lalu. Masuk ke dalam lumpur di bawah sinar matahari siang adalah hukuman yang paling kejam untuk perempuan. Mereka sangat melindungi kulit mereka, okay!


Mereka tentu saja tidak menginginkan kulit mereka mendapatkan masalah dengan berendam di dalam lumpur, ah!


Mega yang sangat mencintai dirinya mencoba bernegosiasi,"Ustad, sebaiknya kami membersihkan dapur umum saja dan membantunya staf memasak. Bantuan kami pasti sangat berguna untuk para staf di dapur."


Penawaran ini cukup bagus tapi sayang, Ustad Vano sudah terlanjur dibuat kecewa oleh mereka semua sehingga dia tidak akan mengubah keputusannya begitu saja.


"Keputusan ku sudah final, tidak bisa dirubah. Ingat, besok pukul 9 siang aku sudah harus melihat kalian di sawah!" Ustad Vano tidak menerima protes, bantahan, ataupun negosiasi.


Mereka semua mau tidak mau harus menjalankan hukuman ini di bawah pengawasan Ustad Vano secara langsung!

__ADS_1


__ADS_2