
Setelah membereskan alat-alat kebersihan dan menyelesaikan makanan yang Ustad Vano berikan, Ai dan Asri lalu berjalan beriringan akan kembali ke pondok pesantren. Tapi langkah mereka terpaksa harus macet di tengah jalan ketika melihat Frida dan rekan-rekannya yang lain datang dari arah berlawanan.
"Santri baru tahun ini banyak yang berulah. Di hari pertama masuk saja mereka sudah berani menggoda anak laki-laki bahkan Ustad kita yang terhormat." Sindir Frida ketika melewati mereka berdua.
Teman-teman Frida tidak tahu jika orang yang disindir ada di depan mereka.
"Mungkin mereka masih belum bisa melupakan kebiasaan mereka di luar sana." Yang lain ikut menimpali.
"Hem, mungkin karena inilah kedua orang tuanya mengirim dia ke sini." Kata Frida diselingi tawa kecil.
"Dia? Siapa yang kamu maksud?" Tanya temannya penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan gadis sok lemah yang telah membuat banyak kesalahan di hari pertamanya masuk." Entah disengaja atau tidak, Frida memberikan Ai tatapan mengejek ketika mengatakan ini.
Ai segera menundukkan kepalanya, menghindari tatapan provokasi dari Frida. Entah, sampai kapan Frida akan terus seperti ini kepadanya. Membenci Ai selayaknya musuh yang telah mendarah daging di dalam kehidupan Frida.
"Apa kehidupan pondok pesantren juga seperti ini? Aku pikir di sini berbeda dengan di luar sana. Tapi ternyata semuanya sama saja. Entah diluar atau di sini akan ada beberapa orang yang suka membicarakan orang lain. Menyebut-nyebut kesalahan orang lain seolah-olah mereka adalah yang paling suci. Astagfirullah..aku tidak menyangka hidup di sini juga tidak terlepas dari penyakit hati." Gumam Asri di samping Ai.
__ADS_1
Ai pun sama terkejutnya dengan Asri, tapi dia memilih memendam semua keterkejutannya dalam diam. Dalam masalah apapun itu selama tidak melukai fisiknya, Bunda dan Ayah menasehatinya agar lebih banyak diam. Urusan luka hati sudah ada Allah yang akan menyembuhkan jadi cukup lapangkan dada agar hidup ini dipermudah oleh Allah.
"Ayo, Ai. Kita harus segera pulang ke asrama agar bisa beristirahat sebentar saja sebelum pergi ke masjid." Ajak Asri menarik tangan Ai agar ikut bersamanya.
"Hem, ayo kembali." Bisik Ai mulai merasa lelah, dia hanya ingin tidur.
...🍁🍁🍁...
"Assalamualaikum?" Salam Ai dan Asri ketika masuk ke dalam kamar asrama mereka.
"Waalaikumussalam. Nah ini orangnya." Salah satu gadis yang Ai kenal bernama Sulastri menghampiri.
"Ya, namaku adalah Ai." Kata Ai malu bercampur canggung.
"Ai tas sama koper mu sudah diantarkan oleh Kak Sasa dan Kak Tiara. Mereka bilang Ustad Vano berpesan kepada mu agar jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama. Jika tidak kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi di masa depan." Ini adalah Herlina yang berbicara.
Gadis tinggi dengan kaca mata minus itu berbicara dengan nada kekanak-kanakan tapi tidak ada niat untuk mengejek Ai di dalamnya.
__ADS_1
"Tas dan koper ku sudah kembali?" Wajah Ai langsung cerah dan berseri-seri. Tapi ketika dia mengingat tentang foto masa kecilnya dengan Ustad Vano yang ada di dalam tas punggungnya, segera warna wajahnya menjadi pucat pasi.
Dia takut amat sangat takut jika Ustad Vano mengenalinya sebagai Ai, anak kecil 12 tahun yang lalu pernah dia temani bermain karena tidak punya teman sepermainan.
"Ya, mereka sudah ada di ranjang mu." Kata Sulastri sambil menggeser tubuhnya ke samping agar Ai bisa melihatnya.
Ai mengangkat kepalanya melihat ke arah tempat tidurnya yang menempel langsung dengan tembok. Di depannya sudah ada tas punggungnya yang tidak asing dan koper mini berwarna hitam yang kedua orang tuanya titipkan ke pondok pesantren. Di samping tas punggung dan koper itu ada kantong plastik putih yang berisi banyak makanan untuk Ai.
Tapi, Ai sama sekali tidak tertarik dengan semua itu karena perhatiannya saat ini tertuju pada tas punggungnya!
Ya Allah, semoga ketakutan ku tidak benar-benar terjadi. Batin Ai berdoa.
Bersambung..
Assalamualaikum, semuanya. Kemarin ada yang bertanya apa saya mau menulis kembali novel Aku Yang Terlahir Cacat?
Jawabannya saya masih belum memikirkannya. Karena novel ini adalah alasan saya vakum menulis selama beberapa bulan. Jujur, saat itu saya kehilangan motivasi untuk terus menulis jadi saya memutuskan untuk tidak pernah menulis selama beberapa bulan hingga akhirnya saya kembali pada awal tahun 2021 kemarin.
__ADS_1
Jadi, dilanjut atau tidak mungkin.. pastinya tidak. Tapi saya tidak tahu ke depannya karena urusan hati sudah di atur Allah. Mungkin saja suatu hari nanti Allah membalik hati saya agar kembali menulis novel ini? Allah'ualam. Saya memutuskan semuanya kepada Allah SWT.
Lanjut?