Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.9)


__ADS_3

Bu Dian menjawab dengan santai,"Jangan risau karena aku sudah meminta izin kepada pihak pondok agar kalian bisa ikut ke pasar bersamaku. Alhamdulillah, mereka mengizinkan dengan syarat kalian harus mendengarkan ku selama di sana. Bagaimana?"


"Alhamdulillah, Bu. Kita mau banget pergi ke pasar. Kami janji kok di sana tidak akan mengacau dan mendengarkan semua yang Bu Dian katakan." Mega dengan mudah berjanji.


Tanpa perlu meminta pendapat Ai dan Asri, ia telah membuat kesepakatan dengan Bu Dian. Mega tahu betul jika kedua sahabatnya ini butuh refreshing sehingga membawanya keluar adalah ide yang sangat baik.


Setelah itu mereka segera kembali ke asrama untuk mengganti pakaian pakaian dengan seragam sekolah. Sebelumnya mereka sudah pernah mandi ketika mau sholat malam tadi sehingga mereka hanya perlu mengambil air wudhu agar merasa lebih bersih.


Semenjak mereka bersama, kebiasaan bangun malam dan mandi adalah sebuah rutinitas. Meskipun tidak semua santri melakukannya karena takut air terlalu dingin, tapi Mega dan Asri memberanikan diri melakukannya karena tertular oleh kebiasaan Ai mandi malam.


Alhasil ini menjadi rutinitas untuk mereka sampai dengan hari ini. Toh, mandi di waktu-waktu sholat malam juga sehat dan jauh lebih bersih daripada saat pagi hari.


"Ai hari ini kita menggunakan seragam berwarna hijau daun, warna kesukaan Rasulullah Saw sekaligus penyejuk hatinya ketika sedang marah." Mega menarik Ai dari lamunannya.


Seragam yang mereka gunakan harusnya adalah sebuah gamis lengkap dengan jilbab panjang berwarna hijau daun. Gamisnya sederhana tapi sangat nyaman ketika digunakan. Andai bukan seragam sekolah, santri perempuan pasti tidak ragu menggunakannya sebagai baju tidur karena kainnya yang sangat nyaman.


"Oh, aku mengambil seragam yang salah!" Ai baru menyadari jika seragam yang ia ambil bukan berwarna hijau daun.


Ini adalah seragam sekolah dengan warna biru langit, warna yang selalu mengingatkan dengan cerahnya hamparan langit.


"Ai, apa kamu baik-baik, saja?" Mega sudah tidak tahan lagi.


Ai tersenyum,"Aku baik-baik saja." Katanya.


Dia mengambil seragam yang lain di dalam lemari dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti seragamnya.

__ADS_1


"Sejak kita membersihkan stan makanan tadi, Ai tiba-tiba menjadi aneh." Asri melihat kepergian Ai.


"Apakah kamu tahu karena apa?" Mega mulai khawatir.


Asri menggelengkan kepalanya,"Aku tidak tahu. Aku bertanya tapi dia menolak memberitahu, padahal tadi wajahnya agak pucat dan kedua matanya memerah. Aku tahu dia ingin menangis tapi terus menahan diri di depanku. Kemudian dia bersikeras mencuci piring sendirian, mungkin karena dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya."


Asri juga mengkhawatirkan Ai- gadis cantik nan pemalu yang telah ia anggap sebagai sahabat sekaligus sebagai adiknya.


Bagaimana mungkin ia tidak khawatir bila orang yang ia anggap sahabat sekaligus adiknya sendiri tiba-tiba menjadi murung dan linglung?


"Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya selama kita tidak berada di sampingnya? Jika ini masalah besar takutnya orang tua Ai tidak akan bisa melepaskannya jika tahu." Gumam Mega lebih khawatir lagi.


Ai, sebesar apapun masalahnya di sini, Mega tidak pernah melihatnya semurung ini. Bahkan di saat rumor Ustad Vano dengan Almaira menyebar di pondok pesantren, Ai masih bisa bersikap biasa dan tersenyum seperti biasanya.


Bagaimana jika... informasi kesehatan Ai bocor?


Bagaimana jika orang-orang tahu apa yang terjadi pada Ai- tidak! Itu tidak mungkin.


"Tidak mungkin... masalahnya tidak akan sampai seserius ini. Lagipula untuk apa orang itu menyebarkan masalah ini..." Mega mencoba mengusir pikiran ini.


Benar, ini hal yang mustahil karena bagaimana mungkin ada orang yang menyebarkan masalah ini?


Hah, ini adalah pondok pesantren bukan lagi di kota yang penuh akan kurangnya adab.


"Apa yang coba kamu katakan? Apa yang mustahil dan kenapa kedua orang tua Ai harus terlibat?" Tanya Asri heran.

__ADS_1


Masalah Ai tidak seserius ini, bukan?


Dia tidak seperti Sari yang suka membuat masalah jadi kenapa kedua orang Ai harus ikut campur?


"Tidak, tidak ada. Itu mustahil terjadi. Tapi orang tua Ai... Asri, kamu harus tahu jika mereka sangat sensitif terhadap Ai. Aku...aku pernah melihat kemarahan mereka dan aku takut ini terulang lagi. Tapi aku yakin ini mustahil... Ai pasti baik-baik saja. Jika dia punya masalah kita bisa menyelesaikannya bersama."


Kemarahan orang tua Ai, bagaimana mungkin dia bisa melupakan hari itu?


Orang tua Ai mungkin tidak akan berteriak-teriak marah seperti orang tua pada umumnya tapi mereka sangat pandai membuat seseorang menyesali perbuatan yang dilakukan. Karena ia juga telah melihat semuanya, ia melihat bagaimana kedua orang tuanya dengan angkuh merendahkan Ai tapi dibalas dengan dingin oleh kedua orang tua Ai.


Orang tua Ai mengambil semuanya, jabatan Papa dan keangkuhan Mama, mereka membuat kedua orang tuanya menyadari bahwa di atas langit masih ada lagi langit.


Walaupun Ai adalah anak angkat, walaupun Ai bukanlah anak kandung mereka, dan walaupun Ai bukanlah darah daging mereka, tapi Ai selalu berharga di mata mereka. Ai sama seperti anak-anak mereka yang lain, Ai adalah putri mereka, harta mereka yang paling berharga di dunia ini.


Sama seperti orang tua yang sangat mencintai anaknya, tidak akan orang tua yang rela anaknya di sakiti. Ini juga berlaku untuk kedua orang tua Ai, mereka tidak akan pernah rela anak yang sudah susah payah mereka rawat dan jaga akan disakiti oleh orang lain.


Mereka tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


"Aku rasa setiap orang tua pasti akan marah bila anaknya diganggu." Kata Asri tidak terlalu menganggap serius ucapan Mega.


"Masalah yang Ai hadapi, aku yakin ini tidak akan sampai seserius itu. Percayalah, kita ada bersama Ai dan kita juga akan membantu Ai menghadapi masalahnya." Kata Asri sembari menepuk pundak Mega.


Mega mengangguk, meyakinkan dirinya bahwa Ai pasti baik-baik saja.


"Yah, dia pasti baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2