Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.15)


__ADS_3

"Saya di sini, Ustad." Kebetulan Kevin baru saja keluar dari gudang masjid untuk mengambil tali pengaman berwarna kuning yang biasanya mereka gunakan untuk mengisolasi suatu tempat.


"Awasi lantai dua, jangan izinkan siapa pun naik ke atas untuk tidur karena mulai sekarang lantai dua diisolasi dari santri laki-laki dan ini tetap berlaku meskipun jam malam santri perempuan sudah habis." Ujar Ustad Vano mengeluarkan aturan baru.


Suaranya sangat stabil dan sikapnya pun tidak ada yang mencurigakan. Dia bahkan tidak bereaksi apa-apa ketika berhadapan dengan Kevin, laki-laki yang disukai oleh salah satu teman Asri dan kebetulan juga ada di lantai atas tadi.


Kevin segera menjadi gugup, takutnya Ustad Vano telah naik ke atas dan melihat ketiga santri perempuan yang sedang ia coba lindungi. Karena jika memang benar terjadi maka hukuman yang ketiga santri perempuan itu besok terima sungguh tidak main-main beratnya bila berhadapan dengan Ustad Vano.


Karena Ustad Vano adalah salah satu orang yang paling ketat bila menyangkut soal aturan pondok. Dia adalah salah satu pemimpin yang dirumorkan akan mengambil alih pimpinan Pak Kyai, tapi ini berlaku jika Ustad Vano secara sah menikahi putri Pak Kyai, yaitu Almaira.


"Inshaa Allah, Ustad. Kami akan segera melaksanakannya. Akan tetapi sebelumnya, apa saya boleh bertanya kepada Ustad?" Dia bertanya sopan namun ekspresi gugup di wajahnya tidak bisa disembunyikan.


"Ya, boleh. Tanyakan saja."


"Mengapa... Ustad tiba-tiba membuat aturan ini?"


Ini tidak ada hubungannya dengan ketiga santri perempuan itu'kan?

__ADS_1


Ustad Vano mengangkat alisnya,"Apa wilayah santri perempuan wajar untuk kalian dekati?"


Bukannya menjawab Ustad Vano malah balik bertanya.


"Astagfirullah, ini tidak wajar, Ustad." Kevin segera menjawab.


"Karena itulah aku membuat aturan ini. Lantai dua hanya bisa menjadi milik santri wanita dan lantai satu hanya bisa menjadi milik santri laki-laki. Jika santri perempuan saja tidak bisa memasuki wilayah kalian maka bersikaplah seperti mereka. Jangan memasuki wilayah mereka meskipun santri perempuan tidak memakainya setelah jam malam. Apa kalian mengerti?"


Kevin dan rekannya segera mengangguk. Kevin cukup lega setelah mendengar penjelasan Ustad Vano, nyatanya apa yang dia takutkan tidak pernah terjadi.


Kevin dan rekannya tidak menyepelekan masalah ini. Mereka segera mengikat tali kuning yang baru saja Kevin ambil di gudang masjid.


Setelah pembicaraan singkat itu Ustad Vano segera pergi dari masjid dan kembali ke asrama untuk beristirahat. Dia dan yang lainnya baru sampai di pondok dua jam yang lalu. Ustad Vano langsung pergi mencari Ai setelah memberikan salam kepada Pak Kyai dan Umi. Awalnya dia hanya ingin menatap Ai dari jauh saja untuk memuaskan rindunya tapi siapa yang tidak mengira kejutan malam ini akan terjadi. Tindakan mengendap-endap mereka bertiga di jalan membuat Ustad Vano curiga jika mereka bertiga ingin melakukan sesuatu yang aneh-aneh.


Apalagi ketika melihat mereka masuk ke dalam masjid, tempat suci yang hanya santri perempuan bisa masuki sampai pukul 8.30 malam. Ustad Vano ingin mencegah tapi penasaran dengan rencana mereka. Dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka ke dalam masjid. Tapi yang tertarik dengan mereka bertiga tidak hanya dirinya saja karena Kevin juga diam-diam mengikuti mereka dari belakang.


Lalu setelah itu seperti yang telah terjadi sebelumnya, Ustad Vano melihat dan mendengar semua yang terjadi.

__ADS_1


Kevin melihat kepergian Ustad Vano, tampak melamun.


"Kevin, ada apa?" Rekannya bertanya.


Kevin segera menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya merasa jika Ustad Vano adalah kandidat terbaik di pondok pesantren ini. Jika dia mengambil alih pimpinan pondok maka pondok pesantren kita akan semakin maju dan ketat di masa depan nanti."


"Kamu benar, tidak ada kandidat yang lebih baik dari Ustad Vano. Selain itu Pak Kyai juga sudah menunjukkan itikad baiknya untuk menjodohkan Ustad Vano dengan putrinya, Almaira. Ini ada salah satu petunjuk bahwa pengganti selanjutnya adalah Ustad Vano." Rekannya ternyata tahu banyak informasi.


"Menjodohkan Ustad Vano dan Almaira," Kevin menarik pandangannya kembali fokus mengikat tali kuning.


"Mungkin saja itu hanya rumor belaka." Karena dia tahu bahwa kenyataannya memang tidak seperti itu.


Sepupunya ini, dia sudah lama memiliki gadis lain di dalam hatinya. Dan karena sepupunya ini pula, Kevin harus ikut menuntut ilmu dengan enggan di pondok pesantren ini. Tapi itu dulu, karena sekarang dia sangat mencintai tempat ini dan bahkan enggan pulang.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2