
... ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّا مٍ لِّلْعَبِيْدِ...
..."....Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya)."...
...(QS. Fussilat 41: Ayat 46)...
...🍁🍁🍁...
Dia menatap kosong lembaran kitab kuning yang ada di atas pangkuannya. Kedua matanya tidak bisa lepas dari huruf Arab gundul di atas kertas namun pikirannya saat ini tidak ada di tempat.
Niatnya ingin belajar menguap setiap kali ia mengingat kejadian di sawah tadi siang. Tidak ada yang tahu emosi yang coba ia sembunyikan dari semua orang, padahal hatinya begitu keruh dengan berbagai macam prasangka yang tidak baik.
"Kak Tiara?" Sari memanggilnya.
Namun, Tiara masih belum tersadar dari pikirannya. Dia terjebak dalam angannya yang tidak sampai, mengumpulkan semua ketidaknyamanan menjadi sebuah bukit curam di dalam hati.
Tidak baik, di sini gelap dan akan terluka bila terjatuh.
Ironis, namun dia tetap menapaki bukit ini. Ada cahaya di sekelilingnya, tapi ia menolak semua cahaya itu. Dalam gelap ia berjalan, dalam gelap pula ia menapaki bukit curam ini.
Tempat yang tidak seharusnya ia datangi.
Tempat yang tidak seharusnya ia bangun, karena para akhirnya dia akan terjatuh dan tersesat.
"Kak, Kak Tiara!" Panggil Sari meninggikan suaranya.
"Oh," Tiara terkejut.
Dia melirik tempat di sampingnya yang tadi kosong kini telah diduduki oleh Sari, entah sejak kapan.
"Kamu...sejak kapan ada di sini?" Tiara mengelus lembar tipis kitab kuning di atas pangkuannya sebelum menutup kitab kuning tersebut.
Dia dalam mood yang buruk dan dia juga tidak bisa berkonsentrasi belajar karena ada yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Udah dari 10 menit yang lalu, Kak." Sari mengubah duduknya menjadi miring ke kiri agar bisa mengobrol dengan Tiara.
"Kakak lagi banyak pikiran, yah? Aku panggil-panggil kok Kak Tiara responnya lambat."
Tiara tidak mengelak. Dia menghela nafas panjang, meluruskan kedua kakinya, lalu mencari kenyamanan dengan bersandar di punggung kursi.
"Kakak gak bisa fokus belajar gara-gara masalah tadi siang." Kata Tiara malas.
Dia ada di sana. Dia melihat semua yang terjadi dengan kedua mata kepalanya sendiri dan dia juga melihat bagaimana tingkah malu-malu Ai ketika mengambil jaket Ustad Vano.
Bertahun-tahun ia mengabdi di pondok pesantren ini dan bertahun-tahun pula ia tinggal atau menetap di pondok pesantren ini. Tidak ada satu kali pun kejadian dimana Ustad Vano harus merelakan barang pribadinya untuk diberikan kepada santri perempuan. Tidak ada satupun, kecuali hari ini, Aishi Humaira, gadis kota entah berantah tiba-tiba mendapatkan semua yang tidak pernah didapatkan oleh santri perempuan lainnya.
Ia mengakui, ia merasa cemburu. Lantas apa yang harus ia lakukan agar kecemburuannya hilang?
Ini mudah saja, hilangkan Aishi Humaira dari pondok pesantren.
Tapi, apa yang harus ia lakukan agar Aishi pergi dari pondok pesantren ini?
Apa yang harus dilakukan?
Jangankan Tiara, ia saja yang pernah ada konflik dengan mereka bertiga tidak bisa tidak memikirkan masalah tadi siang.
"Hem, Kakak pikir ada yang aneh dari keributan tadi siang. Seakan-akan keributan itu sudah direncanakan sebelumnya." Ujar Tiara mengada-ada.
Sari langsung bersemangat mendengar ini karena akhirnya dia punya orang yang searah pemikirannya.
Dia tidak menyukai Ai dan kedua sahabatnya, lalu kenapa?
Bukankah suka dan tidak suka itu adalah hal yang wajar? Lagipula bila mereka tidak membuat masalah terlebih dahulu maka kebenciannya kepada mereka tidak akan sedalam ini.
"Benar banget, Kak. Aku pikir cuma aku aja yang ngerasa begitu tapi ternyata Kakak juga!"
Tiara tahu Sari sangat mudah terpancing,"Maksudmu?"
__ADS_1
"Begini, Kak. Coba deh Kakak pikirkan setiap kali Ustad Vano ada di sini maka secara kebetulan mereka akan membuat masalah. Hal yang paling aneh adalah kenapa saat Ustad Vano pergi beberapa bulan yang lalu mereka tidak membuat masalah untuk pondok. Tapi malah membuat masalah hari ini? Bukankah ini terlalu kebetulan, Kak? Dan aku perhatikan kejadian ini tidak terjadi sekali saja tapi sudah empat kali, Kak!" Sari menjabarkan semua kecurigaannya kepada Tiara.
Mulai dari kejadian awal masuk pondok sampai dengan hari ini, Sari selalu merasa jika ini terkesan dibuat-buat. Bukan tidak mungkin bila Ai sebelumnya sudah merencanakan setiap masalah untuk menarik perhatian Ustad Vano.
Ugh, hatinya menjadi panas ketika mengingat kembali pemandangan langka tadi siang. Ustad Vano dengan sangat terpaksa memberikan jaketnya kepada Ai, hah...
"Sepertinya kecurigaan kita benar jika Ai memang sengaja membuat masalah untuk menarik perhatian Ustad Vano. Sari, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa membiarkan gadis licik ini terus mengganggu Ustad Vano." Tiara mendesah khawatir.
Memegang keningnya tampak berpikir keras. Padahal hanya Allah yang tahu apa isi pikirannya saat ini.
Sari juga ingin Ai jangan lagi mengganggu Ustad Vano karena dia sungguh tidak tahan terus melihat mereka berdua lebih dekat lagi.
"Kakak benar, kita harus membuat Ai menjauh dari Ustad Vano. Tapi bagaimana caranya, Kak?" Sari tidak punya ide sedikitpun di dalam kepalanya saat ini.
Bagaimana caranya?
Tiara menggemakan pertanyaan ini di dalam kepalanya. Tapi, dia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk mengatasi pertanyaan ini.
"Atau... bagaimana jika kita laporkan saja Ai kepada Umi, Kak. Kita jelaskan kepada Umi bahwa Ai sudah beberapa kali mencoba mengganggu Ustad Vano dengan berpura-pura membuat masalah."
Ck,
Tiara benar-benar terlalu berharap pada kepala dangkal Sari. Nyatanya, Sari tidak lebih dari seorang gadis bodoh yang bodohnya lagi tidak bisa menyadari kebodohannya.
Hah,
Tiara di dalam hati mendesah heran. Entah mengapa kata-kata Sari terdengar lucu di telinganya. Hei, bukankah orang yang seharusnya dilaporkan itu Sari sendiri?
Masuk ke dalam ruangan kantor Ustad Vano secara diam-diam, Tiara tidak bisa melupakan kejadian ini. Dia marah dan membenci Sari karena sudah berani-beraninya bertindak licik untuk mengambil Ustad Vano.
Namun,
Ya sudahlah. Adanya Sari di sini adalah penebusan untuknya. Karena Sari bodoh dan sangat bodoh, ia bisa dengan mudah memperdayainya.
__ADS_1
Sayang sekali, mengapa pondok pesantren membiarkan orang sebodoh ini tinggal di sini?