Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 17.6)


__ADS_3

Malam menjelang akad pernikahan Mega berdiri di depan balkon kamarnya memperhatikan orang-orang yang mulai sibuk menghiasi halaman depan rumah dengan berbagai macam bunga dengan aneka warna yang menarik.


Harusnya ia sangat menantikan malam ini namun hatinya masih terganggu karena memikirkan bagaimana nasib Asri sekarang.


Jujur, ia ingin berbicara dengan Ai mengenai masalah ini tapi dia takut, takut membuat Ai terganggu seperti dirinya. Dia tidak ingin mengacaukan hari pernikahan Ai dan Ustad Vano, karena itulah ia memilih bungkam sampai dengan malam ini.


"Assalamualaikum, Nak?" Mama masuk ke dalam kamar langsung menyusul Mega ke balkon.


"Waalaikumussalam, Ma." Mega menjawab lembut.


Mama mengusap puncak kepala putrinya sayang.


"Kamu masih belum bisa menghubungi teman kamu, yah?" Tanya Mama sudah bisa menebak dari ekspresi tertekan putrinya.


"Hem, Mega khawatir sama dia, Ma." Katanya tidak menutup-nutupi.


"Mama ngerti kok perasaan kamu. Nih, Mama udah telponin Azam biar kamu gak khawatir lagi. Mama sama Papa gak mau kamu gak bahagia di hari bahagia kamu." Kata Mama sambil menaruh ponsel di atas telapak tangan Mega.


Mega terkejut, dia menatap ragu ponsel Mama yang sekarang telah berada di tangannya.


"Lho, maksud Mama, apa?"


"Azam tahu tentang sahabat kamu itu jadi bicaralah dengannya. Udah ya, Mama sibuk dibawah. Nanti kalau ada apa-apa langsung panggil Mama aja di bawah." Pesan Mama sebelum pergi dari kamar Mega.


Meninggalkan Mega yang masih terbengong menatap benda persegi panjang nan pipih yang ada di tangannya.


"Mega, ini aku." Suara berat yang sudah sangat ia rindukan bergema nyaring di dalam pendengarannya.


Mega gelagapan, ia sontak memegang erat ponsel Mama dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Tanpa sadar salah satu jarinya menekan tombol merah dan,

__ADS_1


Tud


Ia telah memutuskan sambungan telepon dari Ustad Azam.


Dia memutuskan sambungan telepon dari calon suaminya, tapi dia sungguh tidak sengaja!


Salahkan sendiri Ustad Azam yang tiba-tiba berbicara dan membuatnya terkejut.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Dia melihat layar ponsel Mamanya panik.


Kedua kakinya bergerak tidak nyaman antara merasa bersalah dan gugup.


"Apa aku harus menghubunginya?" Tapi entah mengapa rasanya dia tidak bisa melakukannya karena ia malu.


"Ah, dia menelpon lagi!" Mega sangat senang dan buru-buru menjawab telpon Ustad Azam.


Dia mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. Wajah cantiknya yang bersemu merah tertunduk malu dibawah sinar bulan yang redup.


"Kenapa kamu mematikan telepon dariku?" Suara berat Ustad Azam membuat Mega tiba-tiba menjadi jauh lebih tenang.


Hanya berbicara dari jarak jauh saja membuatnya sangat nyaman. Lalu bagaimana bila mereka nanti hidup bersama?


Mashaa Allah, hari-hari yang akan Mega lewati pasti akan sangat damai dan menenangkan sekalipun akan ada banyak masalah yang menerpa rumah tangga mereka kelak.


"Maafkan aku, Ustad. Aku sungguh tidak sengaja mematikan telepon dari Ustad." Dia mengakuinya dengan malu dan dengan volume suara yang semakin mengecil.


Ustad Azam di ujung sana terkekeh ringan. Ia bisa membayangkan betapa menggemaskannya wajah Mega saat ini.


"Apa kamu gugup?" Ustad Azam di seberang sana iseng bertanya, padahal dia tahu bila calon istrinya ini sedang gugup karena ia pun di sini juga sangat gugup.

__ADS_1


Mega tersenyum malu, bersikap seolah-olah Ustad Azam ada di depannya sekarang dan bisa melihat betapa merah wajahnya sekarang.


"Aku... sangat gugup, Ustad. Tapi aku juga sangat bahagia karena hari ini akhirnya tiba." Bisik Mega mengakui.


"Aku juga sama, wahai kekasihku. Aku sama gugupnya dengan dirimu namun perasaan bahagia di hatiku lebih mendominasi apa yang ku rasakan sekarang. Aku tidak sabar ingin segera menghalalkan mu."


"Ustad, jangan katakan itu lagi." Mega tidak kuat menahannya.


Rasanya ia semakin meleleh saja dibuatnya.


Ustad Azam berpura-pura tidak mengerti.


"Memangnya kenapa? Apa salah aku mengatakan apa yang dirasakan hatiku saat ini?"


Mega menggelengkan kepalanya membantah.


"Tidak, Ustad. Ini tidak salah, hanya saja...hanya saja alangkah lebih baiknya kita membicarakan tentang sahabatku dulu. Mama bilang sebelumnya jika Ustad Azam sudah mengetahui kabar sahabatku, apa itu benar Ustad Azam?"


Siapa yang tidak bahagia dimandikan kata-kata cinta nan manis dari laki-laki yang dicintai?


Mega tentu saja sangat bahagia tapi diantara perasaan bahagia itu ia tidak bisa menampik jika hatinya masih mengkhawatirkan sahabatnya, saudari yang akan menemaninya di Jannah kelak.


"Mengenai dia, aku memang sudah mengetahui kabarnya dari Ustad Vano. Ia bilang sahabatmu baik-baik saja dan tidak memiliki kekurangan ataupun masalah apapun." Jawab Ustad Azam menjawab kekhawatiran calon istrinya.


"Benarkah? Lalu kenapa ia keluar dari pondok pesantren dan kembali ke desa tempat tinggalnya?" Mega bertanya dengan antusias.


Dia lega jika sahabatnya baik-baik saja. Besar harapannya bila sang sahabat bisa menghadiri hari bahagianya besok.


"Masalah itu...aku tidak bisa memberitahumu sekarang karena suatu hari nanti kamu pasti akan mengetahuinya."

__ADS_1


__ADS_2