
Aku pun sudah memanggil Adik-adik , lalu kami sarapan bersama. Setelah itu aku mandi dan keluar jalan pagi bersama Mas Satrio.
Mas Satrio terus menggenggam tangan ku erat sambil kami berjalan santai.
"Sayang, makasih yaa, tadi kamu masakin nasi uduk nya enak banget. Kamu memang hebat, bisa memasak apapun masakan yang aku suka."ucapnya sambil menatap ku
"Hehe sama-sama Mas, apapun yang bikin Mas Satrio bahagia pasti aku lakuin, ngomong-ngomong kita mau ngapain Mas jalan jam segini?."tanyaku penasaran
"Aku mau ngobrol aja sama kamu, sambil menikmati udara yang segar, yuk kita duduk dulu ditaman."ucapnya
Aku pun mengangguk dan kami langsung duduk di bangku taman.
"Gak nyangka yaa sayang, akhirnya kita bisa menikah. Rasanya aku beruntung banget bisa punya istri seperti kamu."ucapnya
"Apa sih Mas, yang sebenarnya beruntung itu aku lho, karena aku kayak mimpi bisa ditemani laki-laki sebaik kamu. Makanya Mas Satrio nggak boleh sakit dan pergi lagi yaa."ucapku lalu bersandar di bahunya
"Iyaa sayang, aku janji nggak akan meninggalkan kamu, apapun yang akan terjadi."ucapnya
"Mas Satrio kenapa? Mas Satrio sedih yaa?."tanyaku lalu menatap nya
"Nggak Nad, aku kepikiran sama Om Heru aja, aku ngerasa sedih banget. Om yang selama ini aku percaya malah mengkhianati aku. Aku sebenarnya nggak tega untuk menghukum nya, karena walau bagaimanapun dia yang merawat aku. Tapi kalau aku ingat saat dia mengatakan dia orang dibalik pembunuhan itu, membuat aku sulit memaafkan nya."ucap Satrio sambil mengepalkan tangannya
"Mas, Nadia paham perasaan Mas, pasti Mas bimbang dengan apa yang Mas putuskan. Disatu sisi Om Heru pernah melakukan kebaikan, disisi lain dia juga yang sudah keji membunuh keluarga Mas. Menurut ku Mas tetap memaafkan hanya kita ikuti proses hukum saja. Agar Om Heru jera, lagi pula sudah sepantasnya itu dia dapatkan, atas tindakan dia yang tidak manusiawi. Mas Satrio jangan sedih lagi yaa, kan sekarang udah ada aku yang akan merawat Mas."ucapku
"Makasih yaa sayang."ucapnya lalu mengecup kening ku
"Iyaa Mas, pokoknya Mas jangan kepikiran itu terus, Mas harus melanjutkan hidup Mas seperti biasa. Nadia akan selalu support Mas."ucapku
"Yaudah yuk sayang kita siap-siap ke makam orang tua ku dan makam Bapak mu."ucapnya
"Iyaa Mas."ucapku
Ternyata Mas Satrio mengajak ku jalan untuk mengeluarkan kekhawatiran nya tentang Om Heru. Itulah Mas Satrio, selalu memiliki sisi lembut sebagai seorang pria.
__ADS_1
Lalu kami jalan kembali ke rumah.Sambil bergenggaman tangan
"Sayang, kamu mau punya anak berapa?."tanyanya sambil kami berjalan
"Hem, aku terserah kamu aja, tapi aku maunya 2 aja.Emang Mas Satrio mau berapa?."ucapku malu
"Aku mau punya anak 4, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Biar rumah kita ramai.Tapi kalau kamu bersedia punya 10 juga nggak apa-apa sih."ucapnya tertawa
"Ih Mas apaan sih? aku mana sanggup merawat anak sebanyak itu."ucapku manyun lalu tertawa
"Haha nggak koq , aku bercanda , lagian kamu tuh yaa gemesin banget kalau lagi manyun."ucapnya
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke rumah.
Aku dan Mas Satrio sudah kembali dirumah dan kami langsung mengganti baju dan mengajak Ibu serta Adik-adik ke makam.
•••
Hari berganti sore...
Lalu kami berpamitan kepada orang dirumah.
"Bu, aku dan Mas Satrio izin mau ke Bali untuk sekitar 2 Minggu, Ibu maaf Nadia belum bisa ajak. Tapi Nadia janji, lain kali akan ajak Ibu dan Adik-adik bahkan semua orang yang ada dirumah."ucapku
"Iyaa Nad, nggak apa-apa, tadinya suamimu mau mengajak Ibu dan Adik-adik, tapi Ibu sendiri yang menolak. Ibu nggak mau mengganggu liburan kalian. Cuma Ibu pesan kalian harus jaga kesehatan, saling percaya dan saling menemani yaa. Jangan sampai kalian salah paham. Ibu berharap liburan kalian menghasilkan cucu untuk Ibu."ucap Ibu tersenyum
"Aamiin... , Satrio janji akan berusaha memberikan cucu-cucu yang lucu untuk Ibu, Ibu disini tenang aja sudah Satrio jaga ketat rumah ini, jadi nggak akan ada penyusup disini. Cuma kalau ada apa-apa hubungi Satrio yaa Bu."ucap Satrio
"Iyaa Bu, Nadia janji akan jaga diri dan jaga Mas Satrio."ucapku lalu mencium tangan Ibu begitu pun Mas Satrio juga mencium tangan Ibu
"Bagus, kalian harus saling jaga dan semoga liburan kalian menyenangkan."ucap Ibu
Lalu Adik-adik ku menghampiriku kami.
__ADS_1
"Mbak Nad dan Mas Satrio, selamat liburan yaa, jangan lupa kapan-kapan ajak kita."ucap Dina
"Iya benar, kalau kita sudah liburan sekolah harus ajak kita."ucap Dini
"Iyaa tenang aja Adik-adik manis, Mas Satrio janji."ucap Satrio sambil mengelus kepala mereka
"Iyaa Dina Dini, doain Mas Satrio terus makanya, supaya usaha Mas Satrio lancar dan bisa ajak kita semua liburan.Oh iyaa, tolong jagain Ibu yaa selama Mbak pergi."ucapku lalu memeluk mereka
"Ok Mbak, hati-hati Mbak disana, kita nggak butuh oleh-oleh koq, yang penting Mbak dan Mas pulang kesini dalam keadaan sehat."ucap Dini
"Ah tapi kalau mau beliin oleh-oleh boleh banget koq, Dina nggak nolak, Dini juga tuh pasti."ucap Dina
"Iyaa tenang aja, yaudah Mbak pamit yaa."ucapku melepaskan pelukan lalu mereka mencium tangan ku dan Mas Satrio
"Bi Nunung dan Bi Wati, tolong jaga Ibu yaa, kami pamit."ucap Mas Satrio
"Iyaa baik Pak."ucap mereka kompak
"Bi Wati jangan lupa istirahat yaa, tadi kan masih sakit."ucap ku
"Iya makasih Bu, saya sudah sehat koq."ucapnya
Lalu kami pun pamit kepada mereka semua diantar oleh Mang Ujang ke bandara.
Lalu kami pun pamit kepada Mang Toha dan Mang Budi, suami dari Bi Nunung dan Bi Wati yang tak lain adalah petugas keamanan dirumah kami.
Kami pun sampai di Bandara dan naik pesawat selama kurang lebih 5 jam lewat.
Akhirnya kami sampai pada penginapan yang Mas Satrio sewa. Sungguh mewah dan indah, apalagi ini berada didekat pantai Kuta. Duh aku seperti melihat pemandangan pada drama-drama di televisi. Sungguh indah dan menyenangkan. Betapa beruntungnya aku, semua berkat Mas Satrio.
"Kamu koq bengong? kamu nggak suka yaa sayang?."tanyanya
"Nggak, aku malah suka banget Mas, ya Allah terimakasih yaa Mas."ucapku tersenyum senang
__ADS_1
"Yaudah kita masuk, habis itu kita makan malam dan istirahat, besok kita jalan-jalan."ucapnya
Lalu aku mengangguk setuju.