
Akhirnya mereka tiba di sebuah restouran berbentuk kapal pesiar di tepi pantai. ukuran restouran tersebut sangat besar.
Mereka berjalan beriringan menuju meja yang sudah Rizal pesan tadi waktu di perjalanan. Norin dan Shin berjalan paling belakang dan Shin menautkan tangannya pada tangan Norin.
Seseorang telah menabrak bahu Norin dan membuatnya hampir saja terjatuh jika tidak di tahan oleh Shin.
"oh sorry." ucap wanita itu.
"apa anda jalan tidak pakai mata? hampir saja dia terjatuh karena anda,"ucap Shin dengan kesal.
"apa anda tuli saya sudah minta maaf tadi."jawab wanita itu tidak kalah sengit.
"coba anda ulangi bagaimana minta maaf yang benar."
Norin mencubit kecil tangan Shin memintanya untuk diam. Lalu ia menelisik wajah wanita itu dan mengingat ingatnya.
"bukanya mba ini mba Reni mamanya Alesa ya?" tanya Norin pada wanita yang juga terkejut pada wanita yang ia temui.
"oh, kamu, kamu bukannya Norin yang ngga jadi di lamar sama mas Rio kan?" tanya wanita itu dengan senyum sinis.
Norin menelan saliva nya dengan susah payah. Sementara Shin hanya menyimak saja.
"oh sekarang udah punya mangsa baru rupanya!" ucapnya sembari menelisik pria tampan di hadapannya.
"mba Reni udah nyampe sini? mana Alesa ?" tanya seorang wanita di belakang Norin.
"udah di dalam nunggu sama Omanya," jawab Reni.
"suara wanita ini sepertinya ngga asing." Norin bermonolog.
Kemudian Norin menoleh ke belakang. Nampak wanita muda yang sangat ia kenal bersama pria yang ia kenal juga.
" lho, intan, pak Rio !" ucap Norin dengan ekspresi terkejut.
"mba Norin, tuan shin!" intan pun tak kalah terkejut.
kemudian mereka berpelukan melepas rasa rindu."kok mba sama tuan Shin ada di sini?"
"karena orang tua saya tinggal di daerah sini Tan," jawab Norin setelah melepas pelukannya.
"oh, intan pikir, mba Norin asli orang sana kan punya rumah di sana?
"kalau di sana rumah pribadi dan kalau di sini rumah orang tua Tan."
"oh gitu ya, kami kangen banget tau sama mba."
"ehem, apa kabar dek Norin?" tanya Rio tiba tiba sambil mengulurkan tangannya.
"alhamdulilah sehat mas," jawab Norin sambil menerima uluran tangan Rio.
__ADS_1
"lho, mas Rio sama mba Norin udah saling kenal?"
"hm mas Rio kepala sekolah dimana ibu saya ngajar Tan."
"oh begitu, wah kebetulan sekali ya ketemu di sini. Mas Rio ini kakak kandung saya mba."
"Oya!" ucap Norin sambil tersenyum.
"ehem, mau sampe kapan berdiri di sini ? saya sudah lapar." Shin menyela obrolan mereka. Kemudian menarik tangan Norin tanpa permisi dan pamit pada mereka terlebih dahulu.
"tuan ngga sopan sekali!"
"yang tidak sopan di sini saya atau kamu? kamu mengabaikan saya sementara pria yang baru datang itu kamu sambut dengan baik."
"im sorry!" ucap Norin dengan wajah menunduk.
Shin mengangkat dagu wanita yang tengah menunduk." kau tau, aku cemburu jika kamu berdekatan dengan pria lain."
Norin tersenyum manis lalu tangannya ditautkan pada lengan Shin." yuk saya udah lapar juga."
kemudian mereka berjalan dengan lengan saling bertautan dan dari kejauhan sepasang mata menatap sedih ke arah mereka berdua.
"om sama Tante dari mana sih lama sekali ?" tanya Naya.
"maaf tadi Tante bertemu dengan teman kerja Tante di luar," jawab Norin setelah mereka duduk di bangkunya masing masing menghadap meja panjang khusus untuk keluarga.
Beberapa waiters berbondong bondong menghampiri mereka dengan membawa beraneka ragam makanan. Kemudian mereka meletakkan serta melayani kebutuhan mereka dengan baik. Semua itu atas perintah dari Shin, ia akan membayar berapa pun yang mereka inginkan jika pihak restouran tersebut dapat melayani mereka dengan baik. Tentu saja tawaran itu mendapat sambutan hangat dari pemilik restouran tersebut.
"keren ya mba Norin !" celetuk intan.
"kamu kenal dengan wanita itu Tan ?" tanya Reni penasaran.
"kenal lah mba, mba Norin itu manager ku di tempat kerja," jawab intan secara gamblang.
"manager?" ucap Reni dengan ekspresi terperangah kaget.
"iya, dia atasanku. aku pikir mba Norin orang sana asli soalnya aku sering main ke rumah nya."
"rumah ?" ucap Reni lagi.
"iya mba Norin punya rumah di kota."
"apa yang kamu ketahui tentang Norin Tan?" tanya Rio tiba tiba.
"mas Rio kepo ya, tapi ngga apa apa deh aku kasih tau aja biar mas Rio nyesel."
"nyesel bagaimana maksudmu tan?"
"he he......aku becanda aja mas. yang aku tau tentang mba Norin itu, dia wanita mandiri dan pekerja keras. terbukti lho, dia udah punya rumah, punya kebun dan sawah yang luas meskipun aku ngga tau dimana dia beli itu semua, dia juga nyekolahkan adiknya sampe perguruan tinggi. terus meskipun mba Norin itu cuma tamatan SMA tapi dia pintar, makannya dia diangkat jadi manager yang memiliki gaji empat kali lipat dari gaji PNS."
__ADS_1
Reni terbatuk, ia merasa tertampar oleh cerita yang keluar dari mulut intan. wanita yang pernah ia rendahkan ternyata jauh lebih baik daripada dirinya.
"terus kamu kenal dengan pria itu?" tanya Rio penasaran.
"oh, itu tuan Shin, asli orang Korea. dia pengusaha kelas kakap, pemilik perusahaan Nobland Group dan salah satu satu anak cabangnya ya tempat intan dan mba Norin bekerja."
Pupil mata Reni melebar, ia terkejut. Tidak di sangka pria yang ia maki tadi merupakan seorang pengusaha asing kelas kakap.
"terus apa hubungan Norin dan pria itu ?" tanya Rio lagi.
"sepertinya mereka.....!"
"mohon perhatiannya sebentar, mohon maaf sebelumnya mungkin akan mengganggu kenyamanan pengunjung restouran kami. namun, ada salah satu pengunjung penting di restouran ini yang ingin menyampaikan sesuatu pada seseorang dan kami mohon perhatiannya." seorang MC berbicara di atas panggung lalu menyambut seorang pria tinggi dan tampan menaiki panggung tersebut.
Semua orang menatap kagum pada pria tampan tersebut terutama kaum wanita. begitu pula dengan Norin.
"mau ngomong apa dia di sana ?" Norin bermonolog.
"sudah cukup lama aku mengenalmu, yang awalnya aku menganggap mu hanya wanita biasa. Namun, semakin lama aku mengenalmu semakin aku kagum padamu dan mengakui bahwa kamu adalah wanita yang luar biasa. berawal dari rasa kagum ku padamu lama dan semakin lama rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta. ya...aku mencintaimu. tapi, aku tau tak mudah untuk menaklukan hatimu. kamu berbeda dari wanita wanita di luar sana. kamu bukan sosok wanita yang menganggap uang adalah segalanya bahkan kamu sering mengembalikan apapun yang aku berikan padamu.
Rizal berdiri. "ayok mba ikut aku !"
"mau kemana zal?" jawab Norin bingung.
"udah ikut aja!" Rizal menuntun kakaknya untuk naik ke atas panggung. Setelah sampai di panggung Rizal meninggalkan kakaknya.
Norin kelabakan, sungguh ia merasa malu telah menjadi tontonan puluhan orang pengunjung. ingin rasanya ia menghilang lewat pintu Doraemon.
Shin mendekati wanita yang tengah berdiri dan menunduk malu. Kemudian, Shin berjongkok sambil tangannya memegang sebuah beludru berisi cincin berlian.
"Norin......sudah lama aku memendam perasaan cinta padamu. Mengharap cinta itu di balas. Di sini, di depan puluhan orang serta ibumu...aku ingin mengatakan......maukah kamu menjadi kekasihku selamanya ?"
"lho kok kekasih selamanya sih? sebenarnya dia melamar mba Norin apa meminta jadi kekasihnya doang. bahasanya cukup membingungkan di bos." Rizal bermonolog.
Norin melongo saja, sebenarnya ini merupakan bukan hal pertama bagi Shin meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya. Ada sedikit kecewa di hati Norin kenapa Shin tidak memintanya untuk menjadi istri seperti yang ia harapkan selama ini melainkan Shin memintanya hanya untuk menjadi kekasihnya saja.
Norin menatap pada ibunya, Bu Aminah tersenyum dan mengangguk. Lalu, ia menatap pada semua orang yang ada di sana dengan berbagai macam ekspresi. Ia juga menatap pada Rio, yang berekspresi sedih.
Norin menatap kembali pada pria yang masih merendahkan harga dirinya demi mengharapkan cintanya. dia bingung antara menolak atau tidak. Jika ia menolaknya sudah pasti Shin akan malu dan ia tidak mau pria itu merasa malu. Tapi, jika ia menerimanya siap siap saja ia menjadi kekasihnya tanpa sebuah komitment.
"ya udah Rin, dia benar benar cinta sama kamu. kamu coba aja menjalin hubungan dulu sama dia. mungkin dia butuh proses untuk mengenalmu lebih dalam. dan siapa tau kedepannya dia berubah pikiran mau menjadikan kamu sebagai istrinya." Sebuah bisikin terdengar di telinganya entah bisikan siapa itu.
Norin mengangguk." ya saya mau...!"
Shin tersenyum lebar." thank you, thank you so much." Shin memakaikan cincin berlian yang sebenarnya sudah cukup lama ia membelinya untuk Norin. Setelah itu, ia mencium tangan itu dengan lembut dan lama. Tepukan tangan dan suwitan terdengar bergemuruh di dalam restouran tersebut.
Intan bertepuk tangan sambil berdiri menatap senang ke arah panggung. Reni menoleh pada Rio yang diam tanpa ekspresi. dua buah tangan Rio mengepal di bawah sana.
"Dan untuk mengucapkan rasa syukur serta terima kasih, tuan Shin akan membooking restouran ini selama dua hari dua malam untuk di nikmati oleh para hadirin yang ada di sini. terima kasih." sang MC menutup acaranya.
__ADS_1
"wow, ternyata dia seorang sultan. keren ya? kita bisa makan gratis sepuasnya bahkan besok kita bisa balik lagi ke sini," ucap salah satu pengunjung yang duduknya berdekatan dengan Rio dan Reni. Membuat Reni semakin iri pada wanita yang telah ia hina sebagai buruh pabrik dan berpendidikan rendah yang tak pintar. Sementara Rio hanya dia sendiri yang mengetahui bagaimana perasaannya.