
"Innalilahi.. ternyata target Sari adalah Ustad Vano! Bukankah dia terlalu berani?" Asri rasanya sangat gemas ingin menarik jilbab Sari lagi.
Selain suka memfitnah ternyata Sari juga mempunyai pikiran yang agak jahat. Yah, jahat. Penggambaran ini tidak salah melihat perangai liciknya hari ini.
Masuk ke dalam ruangan kerja Ustad Vano secara diam-diam, apalagi namanya kalau tidak ingin menjebak Ustad Vano. Jika itu terjadi maka Sari dan Ustad Vano mau tidak mau harus dihalalkan meskipun Ustad Vano menolak.
"Tapi Allah melindungi Ustad Vano." Kata Mega di samping.
"Allah melindungi Ustad Vano dari tipu daya setan sehingga rencana Sari pada akhirnya gagal. Sekarang dia sini untuk menerima harga yang harus dia bayar untuk semua rencana liciknya. Aku pikir masalah ini tidak akan bisa selesai semudah itu. Mungkin saja..yah, seperti yang Ai katakan tadi Sari mempunyai kemungkinan di usir dari pondok pesantren. Kecuali.. kedua orang tuanya dan pondok pesantren membuat kesepakatan." Analisis Mega sambil melirik punggung lemah Sari yang kini semakin terisak-isak berurai air mata, mungkin palsu, pikir Mega.
Sari sudah membuat kesalahan berkali-kali dan tanpa jera sehingga tidak mengherankan Mega meragukan cairan bening yang keluar dari kedua mata Sari.
"Syukurlah, Allah masih melindunginya." Bisik Ai menghela nafas lega.
Sementara itu urusan Sari masih belum selesai dramanya sehingga lagi-lagi itu menarik perhatian mereka bertiga untuk ditonton.
"Terimakasih Ustad Vano untuk kerjasamanya. Bukti rekaman cctv ini akan kami tunjukkan kepada kedua orang tua Sari agar mereka melihat bagaimana sikap dan perbuatan Sari selama tinggal di sini." Ustazah mengambil flashdisk putih itu dan segera memprosesnya di komputer.
__ADS_1
"Ustazah, aku harap kejadian ini tidak terulang lagi atau aku harus terpaksa menggunakan tindakan hukum untuk menyelesaikan masalah ini." Kata Ustad Vano dingin.
Ustazah tersenyum malu, meskipun bukan dia yang membuat masalah namun Sari adalah santriwati yang berada dibawah bimbingannya sehingga dia juga akan terlibat dalam setiap masalah yang ditimbulkan Sari.
"Ustad Vano bisa yakin, inshaa Allah kami akan lebih ketat lagi mengawasi para santriwati."
Ustad Vano tidak mengatakan apa-apa, bahkan tersenyum pun tidak ada di wajahnya. Dia terlihat sangat marah sampai-sampai membuat orang-orang di sekitarnya menjadi lebih berhati-hati lagi dalam berbicara.
"Ustad Vano..tolong maafkan aku..hiks.." Sari perlahan berdiri dari duduknya.
Tubuhnya yang agak berisi bergetar ringan karena sesenggukan menangis. Dia terisak keras, menutupi kedua wajahnya yang merah karena kelelahan menangis.
Dia tidak ingin dinodai oleh tipu muslihat perbuatan setan. Sungguh, tiada yang lebih menakutkan kecuali semua doa-doa yang dia langitkan Allah abaikan.
Bertahun-tahun dia berjuang untuk menjadi seseorang yang pantas, bertahun-tahun dia bayar agar bisa menjadi pribadi yang Allah cintai karena dengan begitu Allah tidak akan sungkan menjabah doa-doanya di setiap malam tanpa tidur.
Ya Allah, betapa Dia mengetahui seberapa besar perjuangannya hingga dia bisa berdiri di tempat ini dan dipertemukan kembali dengan seseorang yang sudah lama menjadi doanya.
__ADS_1
"Ustazah, siapapun dia dan apapun tujuannya menyelinap masuk ke dalam ruangan kerjaku, aku harap kalian memberikan keadilan yang seadil-adilnya untukku. Jika tidak, masalah ini tidak akan tidak akan aku lepaskan begitu saja." Sambungnya dingin tanpa melihat ataupun melirik sedikitpun Sari.
Bahkan, Ustad Vano sampai harus mengambil langkah 2 atau 3 langkah untuk menjaga jarak dari Sari.
"Ustad..aku minta maaf, tolong maafkan aku dan berikan aku kesempatan sekali saja. Aku sungguh tidak akan mengulangi masalah ini." Sari sampai harus jatuh ke lantai, memohon dengan pilu agar Ustad Vano mau memaafkannya.
"Aku sudah mengatakannya. Maaf selalu ada tapi tidak dengan kepercayaan. Masalah ini sekarang aku serahkan kepada pihak pondok pesantren. Keputusan apa yang akan mereka berikan aku harap itu adil." Setelah mengatakan itu Ustad Vano berbalik ingin pergi tapi langkahnya tiba-tiba membeku ketika melihat wajah cantik Ai yang tertangkap sedang menatapnya.
Ai terkejut, ekspresinya tampak menggemaskan di mata Ustad Vano. Malu, Ai langsung mengalihkan kepalanya berpura-pura melihat ke arah luar.
"Apa kita akan langsung keluar?" Tanya Ustad Azam diam-diam melirik wajah tertunduk Mega.
Ustad Vano berdehem,"Tunggu sebentar, kita harus bertemu dengan Ustazah Nur untuk membahas sesuatu."
Ustad Azam tersenyum tipis,"Benar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Ustazah Nur juga." Katanya menyimpan makna.
Bersambung..
__ADS_1
1 chapter dulu ya 🍁🍁🍁🍁
Ikuti alurnya yah..