
Semua orang sangat sibuk di rumah. Para tetangga, keluarga, maupun kerabat jauh berduyun-duyun datang ke rumah untuk membantu.
Mereka membantu membuat kue khas pernikahan di desa, membantu mengupas bawang ataupun bumbu-bumbu dapur lainnya untuk acara hari H.
Semuanya berjalan dengan menyenangkan dan terencana. Untuk calon pengantin wanita ataupun laki-laki, mereka tidak diizinkan keluar rumah sampai hari pernikahan datang. Tugas mereka hanya satu, berdiam diri di rumah dan tidak perlu melakukan apapun. Ini adalah tradisi di desa mereka dan tradisi ini sudah sejak bertahun-tahun yang lalu.
Intinya, mereka menjalankan semuanya sesuai dengan tradisi nenek moyang mereka di desa ini.
Tapi ada yang berbeda hari ini karena tiba-tiba juragan cabe dan beras desa mereka, yaitu Pak Daman datang ke rumah bersama putranya, Adit.
Adit tampak tampan dengan pakaian terbaiknya hari ini. Wajah meneduhkan nan menawan itu telah menarik perhatian banyak anak gadis di desa. Namun, kedatangannya yang cukup menggemparkan membuat orang-orang bertanya, ada gerangan apa Adit dan Pak Daman datang ke rumah sang calon pengantin?
Lalu, muncul sebuah desas desus di desa bila Asri memiliki sebuah hubungan intim dengan Adit. Pasalnya mereka berada di pondok pesantren dan tidak menutup kemungkinan menjalin kasih di sana.
"Pak Daman, silahkan masuk." Bapak menggelar tikar plastik di lantai semen.
Meminta Ibu untuk membuat kopi dan teh untuk tamu penting mereka yang sudah jauh-jauh datang berkunjung.
"Terimakasih, Pak." Pak Daman selalu menjadi orang yang ramah dan dermawan di desa.
__ADS_1
Ia dan Adit duduk tanpa sungkan di alas tikar tanpa canggung ataupun malu-malu.
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi, Pak. Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin melamar Asri untuk putraku, Adit." Begitu kata-kata ini jatuh semua orang yang ada di rumah langsung terdiam.
Tetangga, kerabat, ataupun keluarga saling menatap kebingungan mendengar lamaran dadakan dari Pak Daman.
"Adit ingin menikahi putriku?" Bapak bertanya tidak percaya.
"Benar, Pak. Aku ingin menikahi putri, Bapak." Ini adalah jawaban langsung dari Adit.
Sekali lagi mereka dibuat tercengang setelah mendengar perkataan Adit. Ekspresi serius dan meyakinkan dari Adit membuat mereka langsung percaya jika Adit sangat bersungguh-sungguh datang kemari untuk melamar Asri.
Bapak menatap Pak Daman dan Adit tidak yakin.
Pak Daman sudah tahu mengenai berita ini. Bagaimana tidak, begitu Asri pulang, saudagar Romlah langsung mengumumkan ke orang-orang desa jika putranya akan segera menikah dengan Asri dalam waktu dekat.
"Aku tahu, Pak, dan karena itulah aku membawa putraku ke sini." Kata Pak Daman sambil menepuk punggung Adit.
Adit pulang ke desa tadi subuh setelah mendengar kabar dari Ratna bila Asri sudah berhenti sekolah di pondok tanpa memberikan alasan yang jelas. Adit awalnya ingin bertemu dengan Asri dan memberikannya sesuatu tapi tidak menyangka bahwa kabar buruk lah yang ia terima.
__ADS_1
Padahal ia masih bertemu dan berbicara dengan Asri tadi siang. Adit merasakan sebuah firasat buruk. Tidak mau membuang waktu ia lantas pergi ke kantor staf asrama laki-laki untuk meminjam telpon dan menghubungi keluarganya di desa.
Pak Daman bilang memang Asri sudah pulang ke rumah bersama Bapaknya, Adit langsung lega mendengarnya. Tapi hanya beberapa detik saja karena kata-kata selanjutnya Pak Daman membuat Adit langsung mati rasa.
Asri berhenti dari pondok pesantren dan pulang ke desa ternyata untuk melunasi hutang-hutang keluarganya kepada saudagar Romlah. Asri mau tidak mau harus menikah dengan putra saudagar Romlah yang terkenal suka membuat onar dan mabuk-mabukan.
Adit patah hati, malam itu juga ia meminta izin pulang ke desanya dan baru diizinkan tadi subuh karena malam sudah larut.
Dan di sinilah ia sekarang. Duduk di depan Bapak Asri dengan kesungguhan yang tidak dibuat-buat. Ia benar-benar serius ingin menikahi Asri dan juga ingin menyelamatkan Asri dari pernikahan paksaan ini.
"Pak, tolong jangan korbankan putri, Bapak, untuk melunasi hutang-hutang itu. Aku bersedia membayar semua hutang-hutang itu asalkan Bapak membatalkan pernikahan ini dan menerima lamaran putraku." Pak Daman memberikan jalan keluar yang Bapak dan Ibu harapkan dari jauh-jauh hari. Tapi, bukankah ini sudah terlambat?
Mereka sudah membuat janji semalam dan Bapak pun telah tanda tangan di atas surat perjanjian yang saudagar Romlah ajukan semalam.
Bila ia melanggar perjanjian maka mereka bisa dijebloskan ke dalam penjara.
"Maafkan aku, Pak. Aku tidak bisa melakukan itu karena semalam aku telah menandatangani surat perjanjian dengan Bu Romlah. Jika aku melanggarnya maka Bu Romlah bisa menuntut ku di pengadilan." Bapak menolak pertolongan yang sudah dengan sendirinya memberikan uluran tangan.
Sangat disayangkan memang tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kontrak perjanjian sudah terjadi.
__ADS_1
"Keterlaluan! Bukankah ini namanya pemaksaan!" Pak Daman marah.
Sekalipun marah mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka mengenal dengan baik siapa saudagar Romlah itu. Dia adalah wanita yang perhitungan, pelit, dan tidak takut menghabiskan uang untuk membebaskan putranya dari penjara apabila tertangkap polisi.