
"Setelah ini aku tidak ingin membuat masalah lagi di depan Ustad Vano." Bisik Asri di sampingnya.
Ai menoleh,"Kenapa?"
Asri terkejut,"Kenapa kamu masih saja bertanya? Bukankah itu sudah jelas? Dia sangat mengerikan ketika sedang marah. Aku tidak ingin menerima hukuman lagi darinya."
Ai tersenyum tipis, dia juga tidak ingin berdiri di depan Ustad Vano dalam keadaan yang memalukan seperti ini. Tapi apa yang harus dia lakukan?
Setelah hari ini Ai tidak tahu apakah masih bisa bertemu dengan Ustad Vano karena kesalahan yang terjadi hari ini meskipun memalukan juga merupakan keberuntungan untuknya.
"Tapi aku penasaran bagaimana sikap Ustad Vano ketika bertemu dengan orang yang dia sukai."
Topik yang ingin Ai hindari, namun tetap saja dia masih ingin membicarakannya.
"Kenapa kamu penasaran?"
Asri menggaruk bibirnya malu,"Itu karena ketika kita sholat tadi aku tidak menyangka pemilik suara halus nan lembut itu adalah Ustad Vano. Bahkan ketika dia membaca bagian ke 21 surat Ar-Rum tadi, Ustad Vano mengulanginya sebanyak tiga kali dengan suara yang lebih dan lebih lembut. Coba bayangkan Ai jika Ustad Vano melakukannya untuk seseorang yang dia sukai di sini, bukankah itu sangat romantis?"
Romantis?
__ADS_1
Benar, itu terdengar sangat romantis dan membuat iri banyak wanita termasuk Ai sendiri.
Dia tersenyum canggung,"Maka wanita itu pasti sangat beruntung."
Tapi tidak seberuntung diriku. Bisiknya sendu.
"Hem, kamu benar. Wanita itu pasti sangat beruntung mendapatkan sisi lembut Ustad Vano! Ah, aku jadi iri!"
Aku bahkan lebih iri. Perasaan ini, aku tidak tahu entah kapan akan menyerah. Aku takut ketika hari itu datang, hari dimana Ustad Vano menjemput kebahagiaannya dengan wanita lain hatiku akan berdenyut kesakitan. Rasanya pasti tidak tertahankan dan aku tidak berani memikirkannya.
"Sudahlah, kita lebih baik segera bekerja saja agar kita segera kembali ke asrama." Kata Asri mulai berkeringat karena berdiri di bawah sinar matahari.
"Ya, kita harus segera menyelesaikannya agar kita bisa segera kembali dan tidur." Kata Ai sembari mengambil peralatan kebersihan yang digunakan untuk membersihkan halaman masjid.
"Apa kamu sangat menyukai tidur? Soalnya hari ini aku sering mendengarkan mu menyebut tidur." Asri merasa takjub sekaligus aneh.
Biasanya, ehem.. biasanya orang yang suka tidur akan terlihat berisi tapi Ai tidak. Menurut Asri, tubuh Ai agak kurus tapi kulitnya sangat mulus. Asri juga memperhatikan wajah Ai mudah sekali memerah atau mengalami perubahan warna.
Mungkin itu alasan kenapa kedua orang tua Ai memberinya nama Humaira sama seperti milik istri tercinta Rasulullah Saw yaitu Aisyah Humaira. Si pemilik pipi yang suka memerah.
__ADS_1
"Tidur..ya, aku suka tidur. Apa kamu tidak menyukainya?" Tanya Ai mulai mencabuti rumput liar yang tumbuh sebagai parasit dan mengganggu pandangan.
Asri ikut duduk di sampingnya sambil membawa gunting di tangannya.
"Aku juga suka. Hanya saja aku melihat jika kamu menyukainya lebih dariku. Misalnya, ketika ada waktu luang atau ketika kamu terlihat murung, hal pertama yang kamu katakan adalah kamu ingin segera tidur. Apa aku benar?"
Ah, masalah itu.
"Itu.. karena kebiasaan ku sejak kecil jadi jika aku tidak punya kegiatan apapun hal pertama yang aku lakukan adalah tidur." Ini bohong.
Psikiaternya dulu pernah bilang jika kesehatan mentalnya mengalami masalah dari sejak kecil karena traumanya sulit dihilangkan. Untuk melepaskan diri dari trauma itu dia meminta Ai agar lebih terbuka kepada orang lain dan menjalin pertemanan. Dengan begitu dia tidak akan kesepian lagi.
Awalnya, memang seperti itu sampai bertahun-tahun Ai terjebak menunggu Ustad Vano menepati janjinya. Diam-diam rasa kesepian itu menariknya kembali.
Mungkin karena Ustad Vano adalah laki-laki pertama yang mau berteman dengannya bahkan sering melindunginya ketika bermain membuat Ai mengalami ketergantungan terhadapnya. Atau mungkin itu karena Ustad Vano adalah cinta pertamanya sehingga sulit sekali melepaskan diri.
Apapun itu jawabannya, hah.. tidak akan ada yang berubah sekarang. Dia masih sama, bila merasa sakit atau kesepian hal pertama yang akan dia lakukan adalah mengurung dirinya di atas kasur dan tertidur.
"Masha Allah, kebiasaan kamu aneh juga Ai." Asri menggelengkan kepalanya heran.
__ADS_1
Setelah itu mereka fokus membersihkan tanaman bunga yang ada di halaman masjid. Seharusnya pekerjaan ini tidak melelahkan mereka tapi berhubung saat ini siang dan cuaca sangat panas membuat mereka cepat kelelahan.
Mereka berdua haus tapi tidak bisa minum. Tidak ada air di sini kecuali air keran yang masih mentah dan berpotensi jadi penyakit bila diminum.