
"Apa kalian sudah selesai makan?" Asri adalah orang pertama yang menghabiskan makan malamnya.
Sedangkan Mega dan Ai masih tersisa banyak karena tidak bisa makan terburu-buru seperti Asri.
"Belum, tidakkah kamu melihat makanan kami?" Mega bertanya balik.
Asri cengengesan. Dia menundukkan kepalanya seraya menarik Ai dan Mega agar lebih dekat lagi dengannya.
"Aku ingin mengajak kalian ke suatu tempat. Karena itulah cepat habisi makanan kalian sebelum banyak orang yang selesai dan melihat rencana kita." Bisik Asri.
"Aku punya firasat buruk tentang ini." Mega bicara blak-blakan.
Asri tidak mengatakan apa-apa untuk membantah. Dia hanya tertawa kecil mengingat rencana yang telah dia susun di dalam kepalanya.
"Apakah kita akan melanggar peraturan pondok pesantren lagi?" Tanya Ai sambil mengecilkan suaranya.
Sejak Ustad Vano tidak ada mereka bertiga tidak pernah mendapatkan hukuman lagi-ah, lebih tepatnya tidak ada lagi orang yang menegur mereka yang sama seperti Ustad Vano.
Mereka bisa menjalani kehidupan pondok lebih tenang dan lebih damai. Kabar baiknya, mereka bertiga juga tidak pernah bertengkar dengan siapapun apalagi Sari.
Sari benar-benar mengisolasi diri dari orang-orang di kamar dan lebih suka mengikuti Tiara kemana-mana. Mereka dengar Tiara adalah orang yang bertugas mengawasi Sari selama mondok di sini agar tidak membuat masalah lagi.
Hasilnya?
__ADS_1
Sari tidak lagi membuat masalah untuk siapapun! Ini adalah harapan semua orang termasuk dari pondok pesantren sendiri.
Sari benar-benar memanfaat kesempatan yang diberikan pihak pondok pesantren dengan sangat baik. Meskipun terkesan menjauhkan diri dari teman-teman dikamar tapi ini jauh lebih baik daripada Sari harus membuat masalah.
"Hei, jangan bercanda. Bagaimana mungkin aku mengajak kalian berdua melanggar peraturan pondok? Aku tidak akan senekat itu." Asri segera membantah.
"Untuk kamu itu selalu mungkin." Mega berbicara tanpa ampun.
"Oh, maka kamu sangat mengenal ku dengan baik." Asri tidak menyangkal.
Asri buru-buru mendesak,"Cepatlah habiskan makanan kalian."
Mega mempercepat kunyahannya,"Orang sabar disayang Allah."
"Ai, jangan ragu untuk membuka mulutmu seperti Mega. Masukkan lah banyak makanan agar kamu bisa segera menghabiskan makanan mu."
Ai tidak menjawab tapi dia mencoba saran Asri dengan memasukkan satu sendok makan full ke dalam mulutnya. Jujur, dia ingin mengeluarkannya kembali karena mulutnya terlalu penuh tapi ketika melihat wajah santai Mega memasukkan satu sendok full ke dalam mulut tanpa keluhan dan ekspresi harapan di wajah Asri, dia dengan sangat kewalahan memaksakan diri mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Bahkan karena terlalu penuh Ai terpaksa menelan sebagian sebelum bisa dikunyah dengan benar dan halus. Ini adalah pengalaman baru yang menyenangkan untuk Ai sekaligus agak menyiksa.
Beberapa menit kemudian mereka menyelesaikan makan malam mereka. Mengucapkan pamit kepada teman-teman yang masih makan dan segera bergegas kembali ke kamar asrama mereka.
Di luar sudah ada banyak santri. Ada yang duduk-duduk di luar menikmati suasana malam sambil mengobrol dengan teman, ada yang berolahraga ringan untuk mencerna makanan yang masuk, dan ada pula yang memanfaatkan waktu ini untuk belajar membaca kitab dibawah sinar bulan yang terang, mashaa Allah betapa damai rasanya.
__ADS_1
"Jadi maksudmu 'suatu tempat' itu kamar asrama kita?" Tanya Mega begitu mereka sampai di dalam asrama.
Dia pikir Asri akan mengajak mereka ke tempat yang aneh-aneh, misalnya seperti sawah. Bukankah tempat itu gelap dan sangat tersembunyi?
Tunggu, memangnya apa yang mereka lakukan di tempat seperti itu!
"Tentu tidak." Asri membuka lemari pakaiannya.
Dia mengeluarkan mukenanya yang lain, sajadah, dan sebuah mushaf Al-Qur'an.
"Hei, cepat kemasi mukena, sajadah, dan Al-Qur'an kalian."
Dia juga tidak lupa mengintruksi Ai dan Mega untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya.
"Untuk apa kita membawa semua itu?" Ai tidak berani bergerak mengambil barang-barang penting yang Asri minta.
"Ini untuk pergi ke tempat itu. Malam ini kita tidak perlu tidur di asrama." Asri menjawab enteng, membuat Ai dan Mega tercengang di tempat.
"Dia benar-benar ingin melanggar peraturan pondok."
"Jangan pedulikan poin itu tapi pikirkanlah apa manfaat yang kita dapatkan nanti. Sudahlah jangan banyak berpikir, cepat kemasi barang-barang kalian sebelum petugas kedisiplinan asrama putri mulai melakukan razia sebelum tidur."
Sebelum tidur biasanya akan ada satu atau dua orang petugas kedisiplinan asrama putri yang datang untuk mengecek apakah semua orang sudah ada di dalam kamar atau tidak.
__ADS_1
Jika tidak ada mereka akan bertanya kepada salah satu penghuni kamar yang biasa dipanggil 'ketua kamar'. Ketua kamar yang akan bertanggungjawab untuk mengawasi orang-orang yang berada di dalam kamar itu sendiri. Jika ada yang hilang ketua kamar harus segera melapor kepada anggota kedisiplinan asrama putri untuk diproses.