Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 6.5)


__ADS_3

Langkah ini terus aku lakukan sampai akhirnya keranjang sayur ku hampir penuh.


"Aku harus pindah ke barisan kedua." Karena barisan pertama hanya menyisakan pohon bayam yang masih muda dan belum cukup umur untuk dipetik.


Aku lalu berdiri, merenggangkan badanku yang kaku karena terlalu lama duduk setelah itu baru membawa keranjang sayur ku pergi.


Hah..


Ini cukup berat-


"Astagfirullah-" Kakiku mengambil pijakan yang salah dan hampir saja tergelincir jika tidak ada yang mendukung tubuhku dibelakang.


"Hati-hati!" Ini adalah suara laki-laki.


Maka, segera saja aku berbalik dan melihat pemilik tangan kuat yang telah menolongku. Laki-laki ini bertubuh tinggi sehingga aku harus mendongak untuk melihatnya. Kemudian mata kami berdua benar-benar bertemu, ini hanya beberapa detik saja karena setelah itu aku segera memalingkan wajahku dan mundur sejauh mungkin untuk menjaga jarak.


"Astagfirullah..maaf.." Aku sangat gugup.


Suara jantungku memenuhi indera pendengaran ku. Memonopoli seluruh tubuhku dalam kekakuan yang tidak biasa dan anehnya lagi lutut ku rasanya agak lemas.


"Dan terimakasih karena telah menyelamatkan ku.." Jika laki-laki ini tidak menolongku mungkin aku akan terjatuh.


Tapi,


Aku bertanya-tanya bagaimana bisa laki-laki ini ada di belakang ku?


Padahal seingat dia masih berdiri di belakang Ustad Azam tapi kenapa sudah ada di sini saja?


Dan mengapa aku tidak menyadari keberadaannya atau mendengar suara langkah kakinya di belakang-ah, apa yang sedang aku pikirkan!


Aku seharusnya bersyukur mendapatkan pertolongan darinya!


Laki-laki itu mengangguk ringan,"Lain kali berhati-hatilah dan jangan sampai salah mengambil langkah."

__ADS_1


Aku langsung menganggukkan kepalaku cepat,"Lain kali..aku akan memperhatikan langkahku."


Dia sekali lagi mengangguk, diam-diam aku mengintip ke arahnya dan kebetulan dia sedang memperhatikan keranjang sayur ku. Hem, apa dia ingin mengomentari caraku memotong pohon bayam?


Apakah caraku salah?


"Berikan keranjang itu kepadaku. Aku akan membantumu membawanya."


Ah, ternyata kepanikan ku sia-sia.


"Oh ini," Aku spontan memperhatikan keranjang sayur ku.


"Aku masih bisa membawanya-" Tapi anggap saja ini adalah salah satu jalan dari Allah agar aku bisa melakukan pendekatan dengannya!


Yah, Asri! Kenapa kamu harus menolak kebaikan dari laki-laki yang langsung menarik perhatianmu di pertemuan pertama!


Benar, kenapa aku harus menolaknya, hem?


Siapa tahu jika perasaan mendebarkan ini memang perasaan cinta. Oh Allah, aku benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki yang luar biasa.


"Maka letakkan keranjang mu di bawah dan aku akan membantumu membawanya."


Aku terlebih dahulu memijat lengan kananku untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar merasa pegal. Setelah itu aku menaruh keranjang sayur ku di atas tanah dan mundur dua atau tiga langkah untuk menjaga jarak darinya.


Dia mengambil keranjang ku dan langsung memimpin jalan setelah aku mengatakan akan pergi kemana.


"Terimakasih. Lagi-lagi kamu membantuku." Aku berjalan di belakangnya, mengintip punggung lurusnya yang kokoh.


Rasanya aneh.


Kami berdua berjalan di bawah sinar matahari yang terik tanpa saling mengenal apalagi berbicara. Namun meskipun begitu ini bukannya tidak nyaman, menurutku rasanya malah agak nyaman.


Hem, apa ini yang Ai dan Mega rasakan ketika melihat Ustad Vano sama Ustad Azam?

__ADS_1


Jika iya, maka apakah ini namanya kebetulan jika kami bertiga di landa virus merah jambu secara bersamaan?


"Dimana?" Tanyanya masih berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang. Tapi kali ini langkahnya jauh lebih lambat.


"Oh.." Aku buru-buru melihat tempat terbaik dan yah, agak jauh agar aku busa dekat dengannya sedikit lagi.


"Aku pikir sudut itu yang terbaik." Kataku sambil menunjuk ke tempat yang paling ujung.


Astagfirullah, apa yang aku lakukan?


Dia tidak akan melihatnya meskipun aku menunjuk ke arah sana.


Laki-laki itu tidak mempercepat langkahnya kembali. Dia masih berjalan lambat di depanku. Entah apa yang dia pikirkan sekarang tapi di sini aku menikmati kebersamaan singkat kami. Aku menikmati suasana menyejukkan ini, angin sawah yang tidak tercemar dan menyejukkan menerbangkan kain dan jilbabku. Seolah-olah aku sedang berada di salah satu adegan film India yang mendebarkan.


Hahah..


"Apa kamu butuh bantuan yang lain?" Tidak terasa kami sudah sudah sampai di sudut yang kuinginkan.


Hah, mungkin setelah ini dia akan pergi.


"Aku pikir untuk saat ini tidak ada. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untuk bantuan mu." Kataku sesopan mungkin.


Jika aku terus menahannya mungkin dia akan menyadari niat tidak baikku. Dia pasti tidak nyaman dan tidak ingin terus berlama-lama denganku.


Jadi untuk sementara waktu aku harus menahan kegembiraan ini secara perlahan. Hem, ngomong-ngomong aku ingin tahu siapa namanya. Aku pikir dia adalah seniorku di sini.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Jawabku tidak bisa menahan senyum manis di wajahku.


"Ya Allah..aku ingin tahu siapa namanya tapi aku malu bertanya!" Aku sungguh sangat malu.


Aku mengintip lagi ke arahnya. Dia pergi ke wilayah kentang dan tampak berbicara dengan Mega. Laki-laki itu begitu sopan dan menjaga jarak dari Mega, membuat hatiku menjadi tenang tanpa sadar. Dia jelas menjaga jarak dari Mega.

__ADS_1


Ah..aku tidak mau mengakui tapi laki-laki itu juga membantu Mega! Dia membantu Mega! Dia melakukan hal yang sama kepada gadis lain.


Aku tidak rela.


__ADS_2