Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.3)


__ADS_3

Besoknya setelah menyelesaikan sholat tahajud, Ai, Mega, dan Asri turun ke masjid dengan mengendap-endap. Mereka sebelumnya sholat di saf tengah, tempat yang tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Akan tetapi ketika akan turun ke bawah mereka terpaksa melewati barisan santri perempuan yang sedang bersiap mulai membaca Al-Qur'an. Ini jelas memalukan, dan mereka berjanji dua hari malam berikutnya mereka akan sholat di saf paling belakang agar memudahkan mereka ketika turun ke bawah nanti.


"Allahuakbar.." Asri segera mundur ke belakang ketika mengintip dari tangga ada ribuan santri laki-laki di lantai satu sedang membaca Al-Qur'an.


"Ngeri!" Bisik Asri gugup.


"Ramai banget?" Mega tidak kalah gugupnya.


"Banget!"


"Terus kita lewat mana kalau gak bisa lewat sini?" Tanya Ai juga sama gugupnya dengan mereka.


"Loncat lewat jendela mau?" Tawar Asri yang langsung dihadiahi tatapan tajam sama Mega.


"Kamu aja sana. Nanti aku sama Ai cari cara lain aja. Tapi ngomong-ngomong, nanti kalau udah sampai alam lain kabarin, ya?" Mega sempat-sempatnya meledek.


Asri langsung manyun.


"Alamnya gak asik tahu tanpa kalian berdua."


Mega membalas,"Tapi di sini lebih asik lagi kalau tanpa kamu."


Asri kian cemberut. Dia ingin membalas Mega tapi mulutnya segera tertutup rapat ketika mendengar panggilan Ai kepada seseorang... seseorang yang ingin ia hindari dan lupakan.


"Assalamualaikum, Kak Kevin?" Ai sengaja memberikan salam pertama agar Mega dan Asri berhenti berbicara.


Mega dan Asri sontak berperilaku baik. Mereka berhenti bicara dan dengan pengertian menundukkan kepala.


Kevin mengangguk ringan.


"Waalaikumussalam. Apa kalian ingin turun ke bawah?" Dia sudah tahu jawabannya tapi masih bertanya.


"Benar, Kak. Kami akan pergi ke dapur umum untuk mulai menjalani hukuman." Kata Ai- satu-satunya orang yang mau berbicara.


Sedangkan Mega dan Asri enggan membuka mulut karena terjebak di dalam pemikiran masing-masing.


"Kalau begitu ikutlah aku. Kalian akan aku bantu keluar dari masjid." Kata Kevin menawarkan bantuan.

__ADS_1


Ai melihat kedua sahabatnya untuk meminta pendapat. Tapi orang yang ia lihat masih sibuk menunduk melihat ke bawah seolah mereka tidak ada hubungannya dengan Kevin.


Hah...


"Ini adalah perintah dari Ustad Vano dan Ustad Azam." Kevin memberitahu dengan murah hati.


Dia mendengar semua curhatan mereka bertiga. Ia tahu bagaimana perasaan Ai dan Mega kepada duo idola pondok pesantren ini.


Jadi, menggunakan nama Ustad Vano dan Ustad Azam di sini adalah sebuah langkah yang sangat bijak karena pada akhirnya...


"Terimakasih, Kak. Kami akan mengikuti Kakak dari belakang." Ujar Mega tiba-tiba.


Dia sudah membuat marah Ustad Azam jadi bagaimana mungkin dia masih tidak mau menuruti perintahnya?


Tidak, ini demi keselamatannya sendiri.


Ai dan Asri,"...." Hatinya sangat tulus, ah!


Kevin tersenyum.


"Baik, tolong ikuti aku." Katanya sambil melirik Asri sebelum berbalik ke depan untuk memimpin jalan.


Sabar, ini ujian...ini adalah ujian. Batinnya mengingatkan agar tidak mengharapkan yang tidak-tidak.


Mereka bertiga berhasil turun lewat tangga, menundukkan kepala saat melewati lantai satu dengan langkah terburu-buru sampai akhirnya mereka berhasil keluar.


"Kak Kevin, terimakasih untuk bantuannya. Kalau begitu kami akan segera pergi, assalamualaikum." Mega terlihat buru-buru.


Kevin tidak punya cara lain. Dia tersenyum ringan,"Hati-hati, waalaikumussalam."


Mereka bertiga tidak mau menahan diri. Setelah mendapatkan salam, mereka langsung pergi dari masjid berlari kecil dinginnya malam menjelang subuh ke arah stan makanan.


Stan makanan selalu hidup, ekhem, lampunya. Cahaya yang berasal dari lampu stan makanan menyebar kemana-mana, terlihat jauh lebih aman dibandingkan jalan setapak dekat sawah. Meskipun sudah dipasangi oleh banyak lampu penerang jalan, tapi suasana gelap di sawah tidak bisa dikalahkan oleh cahaya lampu penerang jalan.


Tidak ada yang mengerikan, tapi bagi orang yang penakut tentu saja ini sangat mengerikan.


"Assalamualaikum?" Mereka bertiga masuk ke dalam dapur umum dengan sebuah salam yang sopan.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, kalian santriwati yang Ustad Azam ceritakan kemarin?"


Siapa lagi kalau bukan mereka bertiga.


"Iya, Bu. Kami ditugaskan untuk membantu staf dapur memasak." Ujar Mega dengan wajah manis yang dibuat-buat.


Biasanya orang tua suka dengan anak yang manis dan berperilaku manis pula.


"Mashaa Allah, berapa hari kalian dihukum membantu kami di dapur?" Salah satu Ibu-ibu berbicara.


Senyuman manis Mega segera menyusut.


Ai dan Asri di belakang sontak menutup mulut ingin tertawa. Bagaimana mungkin orang-orang dapur tidak tahu bila mereka sedang dihukum?


"Kami dihukum tiga hari, Bu." Kata Ai menjawab.


"Tugas kalian bukan hanya membantu masak, tapi juga membersihkan dapur dan menyajikan makanan untuk santri'kan?" Ibu-ibu itu masih mencecar mereka dengan pertanyaan yang sama.


Dia tidak berniat buruk namun hanya suka berbicara. Mereka bertiga tidak tersinggung dan menganggap bahwa ini adalah obrolan yang menyenangkan.


"Benar, Bu. Kami harus melakukan semua itu dari sarapan, makan siang, dan makan malam." Ai masih menjawab.


Senyuman dan perilaku mereka bertiga memang baik juga sopan. Tapi diantara mereka bertiga orang yang paling menonjol adalah Ai. Dia berwajah cantik- ah, ini tidak bisa dikatakan cantik tapi lebih dari itu. Senyumannya lembut juga mudah malu, dan ketika sedang malu wajahnya akan bersemu merah.


Warna yang cantik.


Ah, lihat matanya.


Ai mempunyai mata yang indah, orang-orang biasa menyebutnya seperti buah persik. Ini mempunyai cita rasa yang manis dan wangi, begitulah yang orang-orang rasakan ketika melihat mata Ai persis seperti buah persik. Bentuknya indah dan bulu matanya yang panjang juga hitam.


Sehingga ketika berkedip, bulu mata Ai seolah berkibar. Menciptakan gerakan lembut yang selalu menarik perhatian setiap orang yang berbicara dengan Ai.


Benar, mereka bertiga memang cantik tapi satu-satunya orang yang mempunyai aura lembut adalah Ai. Sedangkan Mega menurut mereka mempunyai kecantikan yang dingin dan Asri mempunyai kecantikan yang manis.


Jadi, sekali berbicara dengan Ai mereka langsung menyukainya. Tidak, ini bukan berarti mereka tidak menyukai Mega dan Asri.


Mega dan Asri juga banyak bicara sehingga suasana canggung segera mencair tanpa perlu banyak waktu.

__ADS_1


Intinya mereka bertiga membuat suasana dapur jauh lebih hidup.


__ADS_2