Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
kedatangan Youn


__ADS_3

Youn memasuki area pabrik. Lalu, ia turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor. Ini untuk pertama kalinya ia memasuki perusahaan milik sahabat, Shin. Tiba di lobi, ia mendekati meja resepsionis.


"hello, excuse me,"sapa Youn pada seorang wanita yang sedang menunduk.


Wanita tersebut mendongak kan mukanya. Seketika pupil matanya melebar dan mulutnya menganga melihat pada pria yang sedang menyapanya.


"hei, permisi. Kenapa anda bengong melihat saya?" tanya Youn kesal.


"I i yaa, he hello mister, ada yang bisa saya bantu?"


"ya, tentu saja. saya mau bertanya dimana ruang kerja tuan Shin?"


"oo, tu tuan Shin, ada di atas mister," ucap tari dengan gugup.


"okey, thanks." Youn beranjak pergi dari hadapan wanita yang masih menatapnya kagum.


"gila itu cowok Korea ganteng banget. meskipun masih ganteng tuan Shin sih.Tapi siapa pria itu?" gumam tari penasaran.


Youn menaiki anak tangga satu persatu. Tiba di lantai dua, ia menjadi pusat perhatian para staf yang sedang bekerja terutama staf wanita.


"excuse me," sapa Youn pada dua wanita yang kebetulan sedang berjalan berpapasan dengannya.


"yes, sir. Can we help you?"tanya Maya. Sementara wanita di samping Maya menganga saja melihat pria tampan di hadapannya.


"yeah, saya hanya ingin bertanya dimana ruang kerja tuan Shin?"


"oh, di atas tuan, di lantai tiga."


"okey, thanks." Youn beranjak pergi menuju lantai tiga.


"wow, ada cowok ganteng,"ucap Siska tiba tiba.


"ish, lu sis, kalau ada cowok ganteng aja langsung mangap tu mulut," ejek Maya. kemudian, ia bergegas pergi meninggalkan wanita yang masih menatap punggung Youn.


Tok tok tok


terdengar pintu di ketuk dari luar. Shin yang sedang sibuk bekerja segera melihat kearah sebuah layar. Youn sahabatnya tampak di luar pintu. Kemudian, Shin segera memencet tombol kunci pintu tersebut dan pintu pun terbuka.


"wow, amazing," ucap Youn melihat pintu terbuka sendiri.


Shin sengaja memasang cctv serta pintu elektrik setelah semua orang tau siapa dirinya karena Shin tidak mau sembarang orang masuk ke ruangannya.


"good evening, boss!"sapa youn sambil berjalan ke arah Shin.


Shin mencebik kan bibirnya. Lalu, menyenderkan punggungnya di senderan kursi sambil melipat kedua tangannya." mau apa kau kemari setelah tiga hari menghilang seperti di telan bumi. Aku pikir kau sudah pulang ke Korea."


"ha ha....kalau aku pulang sudah tentu aku beri tahu kamu Hoon. kau tau aku tiga hari tidur di rumah sakit."


"what, kau sakit?" tanya Shin.


"bukan, bukan aku tapi anaknya Anisa."


Shin mengerutkan dahinya."maksudmu, kau ikut merawat anak Anisa di rumah sakit?"


"yupz, bukan saja hanya aku tapi Norin juga ikut merawat anak nya Anisa dan tidur di sana selama tiga malam."


"what, kau tidur bersama Norin dalam satu kamar?" Shin menegak kan duduknya.


"apa kau pikir kami tidur satu kamar hotel?"


Shin menyenderkan kembali punggungnya.


"enak sekali kau, tidur satu kamar dengan dua wanita sekaligus."


"ck, itu lah pesona seorang Youn memang tak terbantahkan sejak dari dulu ha ha."


Shin mencebik kan bibirnya."percaya diri sekali. Tetap saja pesona ku jauh di atas mu.

__ADS_1


Kau tau bukan bagaimana dulu para wanita mengantri mendaftarkan diri untuk menjadi kekasihku?"


"ha ha.... by the way. aku kemari ingin menanyakan sesuatu padamu Hoon?"


"tumben sekali kau butuh aku."


"ck, ya aku memang sedang butuh kamu saat ini. Apa kau serius akan menyewakan pengacara untuk masalah Anisa?"


"kenapa?"


"aku hanya ingin memastikan saja."


"segitu pedulinya kamu pada wanita itu, apa kau jatuh cinta padanya?"


Youn tersenyum lebar." jika iya kenapa?"


"kau yakin jatuh cinta pada wanita yang sudah memiliki seorang anak? come on Youn, kau pria single dan mapan kenapa harus menyukai wanita yang sudah memiliki seorang anak?"


"cinta tidak mengenal status bro. Lagi pula tidak ada yang salah dengan Anisa, dia wanita baik, strong dan sangat menyayangi anaknya. lagi pula aku ini bukan pria sempurna dan aku tidak membutuhkan wanita sempurna. bagi ku cukup wanita itu adalah wanita baik karena senakal nakalnya aku tetap saja menginginkan seorang wanita baik untuk menjadi ibu dari anak anak ku kelak."


"Ck, apa itu artinya kau akan menikahinya jika dia sudah bercerai?"


"hmm, kita liat saja nanti. hei, kau belum menjawab pertanyaan ku tentang pengacara tadi bro."


"oh, sudah aku urus. besok pengacara itu akan mulai menangani kasusnya."


"benar kah? ha ha thanks bro."


"Hoon...!"ucap Youn setelah menyeruput kopi.


Shin menoleh pada pria yang memanggilnya.


"mau bicara apa lagi bro? kau tau sudah menggangu pekerjaanku.


"aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"apa yang menyebabkan kau putus dengan Norin bro? aku rasa Norin wanita yang baik."


"apa itu sebuah pertanyaan yang wajib aku jawab?"


"bisa di katakan demikian."


"karena......karena dia mempermainkan perasaanku."


"mempermainkan bagaimana? aku rasa Norin bukan tipe wanita yang suka main main dan dia sangat baik apa.....ada sesuatu yang kau sembunyikan bro?"


Shin terperangah." oh, tidak ada. lebih baik kau cepat keluar dari sini. kau menghambat pekerjaanku saja."


"Ck, baik lah. aku tunggu kamu di mansion okey bro."


Youn keluar dari ruang kerja Shin dengan senyum mengembang dibibir nya.


"f u c k i n s h i t, kenapa dia mengingatkan aku dengan perempuan itu lagi." Shin mengusap wajahnya dengan kasar.


Jam sudah menunjukan waktunya pulang kerja. Norin segera memberesi meja kerjanya. Semua staf sudah pulang lebih awal tinggal dirinya dan Intan.


"Tumben Tan belum pulang, biasanya udah ngacir duluan sama si Dewi?" tanya Norin pada wanita yang masih duduk di meja kerjanya.


"iya mba, suami intan jemput nya rada sorean. Dia bilang ada lembur sore ini."


Oh, gitu." Norin kembali membereskan file file yang tergeletak berserakan.


"mba Norin...!"


Norin mendongak lagi." ada apa Tan?"


"hmm, ada salam dari mas Rio."

__ADS_1


Norin tersenyum." perasaan kemarin udah kamu di sampaikan Tan salamnya kenapa hari ini di sampaikan lagi?"


"Tapi, kemarin dan hari ini berbeda mba. kemarin kirim salam dan hari ini Kirim salam lagi sama mba Norin."


"ha ha....ada ada aja kamu Tan."


"Intan serius lho mba."


"ya udah wa'alaikum salam dan salam kembali." Norin kembali membereskan mejanya.


Intan tersenyum lebar. Ia senang sekali mendapat tanggapan dari wanita yang di kagumi oleh kakaknya. Kemudian Ia segera mengirim pesan pada kakaknya tersebut.


"salamnya sudah intan sampaikan mas, dan mba Norin bilang salam kembali."


Seulas senyum tersungging di bibir tipis seorang pria berkarisma membaca pesan dari sang adik.


"dek Norin, saya rindu sekali padamu dek. Andai saja waktu itu saya tidak membawa Alesa ke rumah sakit, mungkin sekarang kita sudah hidup dan tinggal bersama."


"yuk Tan, apa kamu mau pulang bareng saya?"


Intan tersenyum." engga mba, terima kasih. Suami intan lagi menuju ke pabrik.


"ya udah kalau gitu saya pulang duluan ya!"


Intan mengangguk."silahkan mba, hati hati.


Norin berjalan ke arah parkir motor. Tiba di parkiran motor, ia mendapati Dewi yang sedang sedih melihat ban motornya yang kempes.


"Dewi, kamu belum pulang?" tanya Norin pada gadis manis yang sedang berjongkok.


Dewi menoleh lalu berdiri."ban motor Dewi kempes mba."


"lho, kok bisa sih?"


"ngga tau mba, Dewi juga bingung."


"Norin, kamu belum pulang?" tanya seorang pria berjambang tipis di belakang.


Norin dan Dewi menoleh ke belakang." A Doni, kebetulan sekali."


"kebetulan kenapa Rin?"


"aku boleh minta tolong ngga, ini ban motor Dewi kempes. Aku minta tolong bawain motor Dewi ke bengkel depan pabrik sana"


Doni menghela nafas."aku pikir mau minta tolong apaan Rin, eh malah nyuruh bawain motor bocah ini," ucap Doni sambil melirik ke arah gadis manis yang sedang menunduk.


Dewi mendongak, ia tidak terima di sebut bocah."kok a Doni ngatain saya bocah sih? apa a Doni ngga liat kalau badan Dewi gede?"


"ha ha badan doang yang gede tapi untuk bawa motor kecil ini ke bengkel sana aja ngga mampu." ejek Doni. Dewi memang memiliki tubuh yang bongsor di usianya yang baru dua puluh dua tahun.


"siapa bilang ngga mampu. ya udah kalau ngga ikhlas bantuin Dewi. Sini biar Dewi bawa sendiri," ucap Dewi dengan wajah di tekuk sambil mau mengambil alih stang yang di pegang oleh Doni.


"ish, nih bocah gede ambek juga. siapa bilang saya ngga ikhlas. Demi Norin apa pun akan saya lakukan haha."


Norin mengerutkan dahinya. Dewi mencebik kan bibirnya.


"ya udah kalau gitu bawain motornya mba Norin aja, kan ikhlas nya kalau di suruh sama mba Norin bukan ikhlas karena mau bantuin Dewi."


Dewi kesal pada pria yang selalu bersikap jutek padanya. Kemudian Dewi mengambil alih stang yang di pegang Doni secara paksa lalu membawa motor itu tanpa bicara pada Norin serta Doni.


"Dewi....!" panggil Norin.


Namun tidak Dewi hiraukan panggilan Norin.


"biarin aja Rin, badan dia gede pasti sanggup lah dorong motornya sampe ke depan sana," ucap Doni.


"meskipun badannya bongsor, tetap aja tenaga wanita a."

__ADS_1


__ADS_2