
"Kami tidak akan mengungkit masa lalu denganmu lagi," Kata Safira kepada Frida.
"Tapi tidak dengan kamu," Katanya kepada Sari,"Dan kamu." Dia beralih menatap Tiara.
"Aku bertanya-tanya, apa alasan kalian melakukan ini kepada putriku, terutama dirimu," Dia berbicara dengan Tiara.
Tiara menggigit bibirnya ketakutan. Kedua kakinya lemas seolah tak mampu menyokong tubuh ini lagi. Namun yang mengecewakan adalah dia tidak jatuh pingsan seperti yang ia harapkan saat ini. Ia masih berdiri di tempat dengan kedua kaki terpaku di lantai.
"Tiara, majulah." Umi memintanya berdiri di samping Sari- yang kini telah terduduk lemas di atas lantai.
Sari tidak bisa berhenti menangis dan dia sudah tidak punya banyak tenaga untuk sekedar berdiri saja.
"Aku tidak mau..." Tiara menolak permintaan Umi untuk pertama kalinya.
Dia meremat kuat kain jilbab panjangnya karena takut, dari sudut mata Tiara mulai mengalir cairan bening nan hangat yang tidak bisa menarik simpati rekan-rekan sesama petugas kedisiplinan asrama putri di sini. Kesan mereka kepada Tiara langsung berubah drastis, mereka tidak lagi melihat Tiara sebagai seseorang yang bisa diajak berteman melainkan seseorang yang pintar menyembunyikan wajahnya yang menipu.
"Jika kamu memang tidak bersalah maka kenapa harus takut?" Almaira entah sejak kapan telah menjaga jarak darinya.
__ADS_1
Tiara memejamkan matanya. Di bawah tatapan semua orang ia dengan sangat terpaksa memberanikan diri maju ke depan dan berdiri tepat di samping Sari.
"Nak, jangan menyangkal lagi apa yang telah kamu perbuat. Jika tidak, aku dan suamiku tidak akan ragu membawa masalah ini ke jalur hukum. Kamu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi sehingga perbuatan yang telah kamu lakukan ini tidak bisa ditoleransi lagi dan memiliki hukuman tetap." Safira memberikan kesempatan dengan murah hati.
Bila Tiara mau mengakui semua kesalahan dan perbuatannya, ia pikir masalah ini bisa diberikan kepada pondok pesantren bagaimana cara penyelesaiannya. Tapi bila Tiara kukuh tidak mau mengakui di saat sudah ada bukti rekaman cctv yang tidak bisa dibantah, Safira tidak akan ragu membawa masalah ini ke jalur hukum.
Untuk harga diri dan kehormatan putrinya, ia bisa menghapus rasa simpatinya kepada siapapun yang telah berani-beraninya mengganggu putrinya.
Tiara menggigit bibirnya menahan malu juga cemas. Saat ini dia benar-benar malu dipandang oleh banyak pasang mata. Ia seperti ditelanjan*i di depan teman-temannya, ia tidak memiliki peluang untuk membela dirinya sendiri karena ya, dia salah tapi alasannya melakukan itu semua karena,
"Ya, aku mengakui bahwa aku memang telah mencuri laporan kesehatan Aishi di ruang medis." Katanya dengan cairan hangat mulai mengalir deras keluar dari kelopak matanya.
Dia cemburu, dia terbakar cemburu melihat Aishi terus menerus mendapatkan perhatian Ustad Vano. Padahal dibandingkan Aishi, masih banyak wanita yang lebih cantik dan sempurna dari Aishi. Masih banyak wanita yang jauh lebih sempurna dari Aishi namun, diantara semua pengejar mengapa Ustad Vano hanya merespon Aishi?
Mengapa hanya Aishi yang mendapatkan perhatiannya, sedangkan mereka yang jauh lebih baik dari Aishi tidak pernah sekalipun dilirik oleh Ustad Vano!
Bukankah ini tidak adil?
__ADS_1
"Astagfirullah, apa yang baru saja ia katakan?"
"Aku tidak percaya dia adalah orang yang suka berbicara kasar."
Suara bisikan-bisikan di sekelilingnya semakin memperkeruh suasana hati Tiara. Dia semakin muak, marah, malu, dan sedih. Hatinya kacau, emosi yang selalu ia sembunyikan hari ini dibiarkan meluap begitu saja.
"Apa aku salah!" Teriak Tiara kepada orang-orang di sekelilingnya.
"Ya, dia memang tidak pernah melakukan operasi transgender tapi itu tidak berarti dia bukan laki-laki." Kata Tiara tidak memperdulikan bagaimana ekspresi orang-orang kini sedang menatapnya. Dia tidak perduli bagaimana tanggapan mereka karena saat ini satu-satunya yang ada di dalam pikiran adalah meluapkan kekesalan hatinya, membuat Aishi menyadari kelemahan dan kekurangannya agar dia tidak mengganggu Ustad Vano lagi.
"Dia ini lahir dengan dua alat kelamin berbeda, dia setengah laki-laki dan setengah perempuan, bukankah ini sangat menjijikkan?"
Ai menjadi diam membisu, tidak ada lagi senyuman manis yang sempat terbentuk di wajahnya. Saat ini wajahnya menjadi pucat pasi, kepalanya tertunduk dalam tidak berani melihat beberapa pasang mata yang sekarang mulai memperhatikannya.
Dia cacat, dan sekarang mereka semua mengetahuinya. Tidak lama lagi berita ini akan menyebar di pondok pesantren sama seperti rumor buruk itu.
Yah, meskipun bukan lagi di sebut rumor buruk namun tetap saja rasanya amat sangat menyakitkan ketika orang-orang tahu kekurangan yang coba ia sembunyikan selama ini.
__ADS_1
Ai mungkin tidak memiliki keberanian lagi menatap orang-orang karena tidak semua orang mau menerima perbedaan ini.