Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.2)


__ADS_3

"Benar, Kak Kevin. Kami akan segera kembali ke pondok pesantren." Ratna adalah satu-satunya orang yang menjawab.


Kevin mengangguk, sekilas matanya melewati Asri yang jauh lebih pendiam dan jinak dari biasanya.


"Kebetulan sekali aku bertemu kalian. Apa di sini ada yang bernama Asri dari kamar Fatimah RA?" Kevin pura-pura tidak melihat ada Asri di antara mereka semua.


Sementara itu, Sasa dan Khanza kompak menatap Kevin heran karena mereka yakin jika Kevin sudah mengenal Asri. Dan seharusnya Kevin langsung saja menyapa Asri daripada harus berpura-pura tidak mengenal.


"Asri ada di sini, Kak." Ratna lalu menarik tangan Asri agar berdiri di sampingnya.


Asri awalnya menolak maju tapi Ratna bersikeras ditambah lagi teman-teman yang lain mendorongnya ke depan jadi dia tidak bisa melawan.


"Asri," Panggil Kevin dengan suaranya yang sarat akan nada berat.


"Ustad Vano dan Ustad Azam menitipkan amanah bila dihari pernikahan mereka besok kamu akan ikut ke kota bersamaku. Kedua sahabat kamu ingin hari akad mereka disaksikan olehmu." Kevin menyampaikan amanah yang dititipkan oleh Kakak sepupu dan calon Kakak iparnya.


Asri terdiam. Ia tidak bisa langsung menjawab meskipun berita ini adalah sebuah kabar baik untuk semua dilemanya agar bisa datang ke kota menyaksikan hari sakral kedua sahabatnya. Tapi hatinya enggan bila harus datang bersama Kevin.


Alasannya?


Oh, jangan tanyakan ini lagi. Ia sedang berjuang melupakan laki-laki tampan nan tinggi yang kini sedang berdiri beberapa langkah di depannya.


Asri... tidak mau terus terjebak.


"Aku... maafkan aku, Kak." Katanya setelah membuat keputusan.


Teman-teman kamarnya tidak bisa tidak terkejut, bahkan Kevin yang sudah melayangkan harapan tinggi sebelumnya harus menelan kekecewaan.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin pergi?" Dia bertanya kecewa.


Asri menggelengkan kepalanya."Inshaa Allah, aku akan pergi menemui mereka tapi mungkin aku tidak akan ikut bersama Kakak."


Kevin masih bertanya,"Kenapa kamu tidak ikut bersama ku? Kalau kamu takut menimbulkan fitnah maka jangan takut karena nanti akan ada Hana, Sasa, Khanza, dan beberapa orang lagi jadi kamu tidak akan sendirian."


Justru inilah yang semakin membuat Asri enggan. Selain tidak nyaman dengan orang-orang asing ia juga tidak enak dengan Sasa. Malu rasanya menyukai laki-laki yang telah dimiliki oleh wanita yang sangat baik padanya. Seolah-olah dia tidak memiliki harga diri hingga berani-beraninya menyukai seseorang yang sudah memiliki wanita lain dihatinya.


"Maafkan aku, Kak. Aku sudah memiliki rencana sendiri untuk hari itu jadi aku tidak akan ikut bersama Kakak." Lagi, Asri menolak ajakan Kevin.


Kevin jelas tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia menatap Asri tidak berdaya, mulutnya terbuka beberapa kali ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu katapun yang berhasil ia keluarkan.


"Oh," Asri tiba-tiba menoleh ke belakang begitu mendengar suara Adit.


"Kak Kevin, aku permisi dulu sebentar." Ujarnya segera pergi ke belakang tanpa menunggu respon persetujuan dari Kevin.


"Assalamualaikum, Kak Adit!" Panggilnya langsung menghentikan langkah Adit bersama teman-temannya.


"Eh, waalaikumussalam, Asri." Adit terkejut juga cukup senang melihat kedatangan Asri.


"Ini Kak, aku ingin mengembalikan kembali jaket Kakak. Ini sudah aku cuci bersih dan harum beberapa hari yang lalu, tapi maaf aku baru bisa memberikannya sekarang Kak karena beberapa hari ini aku sangat sibuk." Kata Asri sopan seraya memberikan Adit jaketnya.


Itu adalah jaket yang Adit pinjami kepadanya saat terjatuh di dalam lumpur dan baru bisa ia kembalikan sekarang.


Adit menerimanya dengan antusias. Bukan karena ia bersyukur akhirnya jaket itu Asri kembalikan tapi ia bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan Asri.


Padahal dia sudah lama mewanti-wanti perjumpaan ini tapi baru bisa terkabul hari ini.

__ADS_1


"Terimakasih, Asri. Ini sangat wangi." Ujar Adit kelepasan setelah menghirup wangi bunga mawar dari kain jaketnya.


"Tapi sejujurnya kamu seharusnya tidak perlu mengembalikannya karena aku sudah memberikannya kepada mu." Ini memang faktanya.


Ekhem, seperti cerita-cerita romansa di desa, biasanya laki-laki akan memberikan barang-barang pentingnya kepada si perempuan sebagai tanda bahwa ia tertarik.


Asri menggelengkan kepalanya malu.


"Saya tidak bisa, Kak. Itukan jaket laki-laki bukan jaket perempuan."


Adit,"...." Apa Asri tidak mengerti kode yang ia lemparkan.


"Kalau begitu aku kembali dulu ya, Kak. Teman-teman ku sudah menunggu di sana, assalamualaikum." Pamit Asri buru-buru pergi menyusul teman-temannya yang masih berada di tempat.


Ketika ia berbalik dan melihat Kevin masih di sana, seketika muncul keinginan untuk kembali berbalik berbicara dengan Adit. Ah, ini jauh lebih baik daripada ia harus terjebak dengan Kevin dan Sasa!


Apakah sudah terlambat untuk kembali?


"Kamu mengembalikan jaketnya, tapi bagaimana dengan sarungku?"


Semua orang,"...."


Bersambung...


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya 🍃. Alhamdulillah terimakasih atas respon dan doa-doanya, Aamiin Allahumma Aamin ya Allah, semoga doa-doa ini juga untuk kita semua.


Mengenai solusi teman-teman memang sempat terpikirkan untuk membuat novel Ai dan Vano setelah menikah dan Asri dengan perjuangannya mencari kebahagiaan.

__ADS_1


Tapi masih.... belum dipastikan, Inshaa Allah.


__ADS_2