Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.4)


__ADS_3

"Mashaa Allah, perpustakaan di hari minggu juga gak kalah ramainya di hari biasa."


Ai, Asri, dan Mega masuk ke dalam perpustakaan santri perempuan. Di dalam sudah banyak sekali orang-orang yang memenuhi perpustakaan. Tapi beberapa perilaku santri terlihat tidak benar dan agak mencurigakan.


"Makanya, Ga, kalau hari minggu jangan menghabiskan waktu dengan tidur terus. Sekali-kali berkunjunglah ke perpustakaan seperti mereka semua."


Mega memutar bola matanya.


"Emang kalau hari minggu kamu suka ke sini?"


Asri cengengesan,"Sering kok, tapi cuma temenin Ai hehe.."


"Dasar."


Ai menengahi.


"Sudah, jangan berdebat lagi. Ini adalah perpustakaan, kita tidak bisa membuat keributan di sini."


Tidak ada pengawas yang galak ataupun kejam seperti yang ada di dalam drama, tidak, perpustakaan mereka tidak seperti itu. Hanya saja bila melanggar pengawas akan langsung mencatat nama untuk pengurangan poin. Dengan demikian para santri akan lebih tertib di dalam untuk mempertahankan poin kehidupan. Maka dengan begini adab akan lebih terjaga.


"Tuh dengerin," Asri masih suka mengganggu Mega.


Kesan Mega adalah gadis yang cuek dan jutek, tidak suka tersenyum dan banyak bicara, itu hanya awalnya saja. Karena setelah saling mengenal Asri menemukan bila Meja nyatanya tidak seperti itu. Dia banyak bicara, terkadang tersenyum walaupun tidak sering, dan mudah marah bila diganggu. Tapi ekhem.. ekspresi marah Mega itu lucu makanya Asri suka sekali mengganggunya.


Beda dengan Ai, kalau diganggu wajahnya pasti memerah dan Ai juga tidak pandai membalas seperti Mega sehingga Asri tidak terlalu tertarik mengganggu Ai.


Mega, untuk yang kesekian kalinya memutar mata.

__ADS_1


"Nah, sekarang kita sudah ada di sini. Apa yang selanjutnya kita lakukan?" Tanya Ai sambil melihat-lihat kitab di samping rak.


Asri langsung menarik Ai sebelum mengambil salah satu kitab untuk dibaca.


"Ikuti aku." Katanya sambil memimpin jalan.


Asri berjalan mendekati seorang santri perempuan senior yang sedang duduk di tempat yang paling pojok dengan beberapa kitab di atas pangkuannya. Senior itu sesekali akan dihampiri oleh santri yang lain, mereka hanya berbicara beberapa detik kemudian senior itu mengeluarkan seperti amplop dari dalam kitab dan memberikannya kepada santri itu. Setelah menerima amplop, santri itu memberikan sesuatu pula kepada senior itu sebelum pergi.


"Transaksi apa yang sedang mereka lakukan?" Gumam Mega melihat ada bau-bau mencurigakan.


"Dia sedang membeli amplop untuk membuat surat."


Ai sekarang mengerti kenapa Asri membawa mereka ke sini. Dia adalah orang yang paling sering berkunjung ke perpustakaan jadi dia tahu jenis pertukaran singkat seperti tadi hanya saja dia tidak pernah tertarik untuk mencobanya.


"Astagfirullah, kamu.. jangan-jangan kamu pernah membuat surat untuk seseorang?" Mega tidak bisa tidak terkejut!


"Iya Ai, apa kamu sebelumnya pernah-"


Dia menarik tangan Asri dirundung perasaan gemas bercampur penasaran.


"Kamu pernah membuat surat sebelumnya?" Dia mengulangi pertanyaan yang sama lagi.


Asri cengengesan, dia menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia agak malu.


"Aku...belum pernah, ini.. adalah pertama kali untukku."


Dulu waktu mereka baru berteman Asri pernah mengatakan kepada mereka ingin seperti santri-santri yang bertabur romansa hati namun malu-malu untuk diungkapkan. Lewat sebuah surat singkat dan kecil, ia ingin melambungkan harapannya kepada seseorang yang tidak bisa disentuh dan tidak pula bisa ia sapa. Pikirnya, ini adalah dunia pondok pesantren yang sangat menggoda dan wajib dicoba. Jadi...dia ingin mencoba dunia ini setelah sekian lama menonton orang-orang yang memberanikan diri untuk melangkah mendekati harapan mereka.

__ADS_1


Ai menebak,"Apa kamu ingin membuat surat untuk Kak Kevin?"


Mereka sudah membicarakannya semalam mengenai perasaan masing-masing.


Asri bingung,"Mungkin, aku tidak yakin."


"Asri..." Mega ingin mengatakan sesuatu tapi melihat Asri masih bisa cengengesan membuatnya mengurungkan niatnya.


"Setidaknya aku harus mencoba, bukan? Bila tidak berhasil maka aku akan menjadikannya sebagai pelajaran dan pedoman untuk jatuh cinta lagi di masa depan."


Dia tidak ingin merendahkan dirinya karena semua itu datangnya dari Allah dan dia juga tidak mau terlalu meninggikan dirinya karena dia tahu Allah tidak suka dengan orang yang seperti itu. Dia hanya ingin mencoba, itu saja. Berhasil atau tidak, dia tidak akan mengeluhkannya.


Karena dia tahu mungkin..


Yah, mungkin-


"Baiklah, kami akan mendukung mu." Kata Ai memberikan semangat.


"Apa kamu tidak ingin ikut bergabung?" Tawar Asri.


Ketika tawaran ini jatuh, Asri dan Mega kompak memikirkan wajah beku Ustad Vano sedang membaca surat cinta dari Ai.


"Astagfirullah..ahaha.." Mega sontak menutup mulutnya menahan tawa.


"Ya Allah, aku tidak bisa membayangkannya." Asri juga tidak jauh berbeda dengan Mega.


Dia menutup mulutnya sekuat tenaga agar suaranya tidak terdengar.

__ADS_1


"Aku tidak ingin, aku tidak bisa melakukannya." Tolak Ai salah tingkah.


Wajahnya bahkan sudah memerah karena malu. Dia tidak bodoh dan tahu bahwa mereka pasti sedang memikirkan yang aneh-aneh tentang Ustad Vano.


__ADS_2