
Umi tersenyum lembut,"Ai memang tidak bersalah jadi dia tidak akan mendapatkan hukuman, itu memang seharusnya. Namun, hukuman ini datang dari Ustad Vano. Dia bilang Ai telah melanggar peraturan pondok pesantren kita ketika makan siang di kantin tadi siang. Umi bertanya, apakah kamu tahu kira-kira pelanggaran apa yang telah Ai langgar?"
Asri langsung mengatupkan mulutnya tidak tahu harus menjawab apa. Masalah pelanggaran apa yang Ai telah lakukan dia jauh lebih tahu dari siapapun karena itu berawal dari kesalahannya.
"Maaf Umi, aku tidak tahu." Asri memilih berbohong.
Umi tidak mengatakan apa-apa meskipun dia tahu Asri berbohong. Dia hanya tersenyum seraya melemparkan Ai pandangan geli.
"Baiklah, kalian sekarang bisa pergi untuk makan malam dan melaksanakan hukuman pertama kalian."
Setelah itu Ai dan yang lain keluar dari rumah Pak Kyai. Mereka berempat kembali tanpa ditemani oleh Sasa dan Tiara karena ada yang ingin mereka diskusikan dengan Umi.
Di sepanjang jalan pulang mereka berempat tidak berbicara karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya mereka tiba di stan makanan yang sudah sepi.
Terlihat dari jauh para staf dapur sibuk membersihkan meja.
Begitu mereka sampai di sana staf dapur langsung memberikan mereka makan malam karena sudah diberitahu sebelumnya. Staf dapur meminta mereka makan dengan cepat karena dapur harus segera dibersihkan.
"Kita baru saja duduk tapi sudah diminta untuk makan cepat-cepat. Mereka pikir kita babu apa main disuruh-suruh aja." Keluh Sari memakan makanannya dengan pahit.
Asri dan Mega kompak memutar bola mata mereka sedangkan Ai hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita begini juga karena keserakahan kamu. Seandainya kamu tidak serakah maka kita tidak akan dihukum!" Mega mengingatkan dengan murah hati.
__ADS_1
Sari tidak terima,"Kalian nya saja yang pelit tidak mau berbagi." Tuduhnya.
"Subhanallah, sudah banget ya ngomong sama kepala batu!" Ejek Asri juga kesal.
"Kepala-"
"Masih saja berdebat? Apa kalian masih belum cukup dengan hukuman yang diberikan Umi?" Suara asing menginterupsi pembicaraan mereka.
Mereka berempat seketika menoleh ke samping kiri untuk melihat siapa pemilik suara itu. Di sana berdiri dua laki-laki tinggi dengan sorot mata dingin tidak tersentuh. Yang lebih tinggi mereka kenal sebagai Ustad Vano sedangkan yang lain mereka tidak tahu sama sekali kecuali Mega.
Mega hanya menoleh singkat karena setelah itu dia kembali menyantap makanannya dalam diam. Tidak seperti tadi ketika berbicara dengan Sari, kepalanya saat ini tertunduk dalam seolah terbenam di dalam makanannya.
Ai juga tidak jauh berbeda dengan Mega. Setelah melihat Ustad Vano di sana dia segera memalingkan wajahnya pura-pura fokus memakan makanannya.
"Maafkan kami, Ustad." Asri dan Sari meminta maaf.
"Setelah selesai makan, kalian akan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama membersihkan dapur sedangkan kelompok kedua membersihkan meja. Apa kalian mengerti?" Perintah Ustad asing itu.
Mereka berempat menganggukkan kepala mereka dalam diam. Beberapa menit kemudian Asri dan Mega telah menyelesaikan makanan mereka dengan sangat cepat.
"Aku dan Asri akan membersihkan area dapur, Ustad." Kata Mega kepada Ustad Vano.
Sikapnya menunjukkan seolah-olah tidak ada Ustad asing itu di sini.
__ADS_1
Mega memutuskan untuk pergi ke dapur agar tidak bertemu dengannya di sini sedangkan Asri ingin ke dapur karena dia tidak tahan terlalu dekat dengan wajah dingin Ustad Vano!
Dia sangat takut bila berurusan dengan es balok berjalan itu.
"Ya, kalian bisa pergi." Kata Ustad Vano mempersilakan.
Lalu dia menoleh ke arah Ustad asing di sampingnya,"Ustad Azam bisa mengawasi mereka di dapur."
Mega langsung kaku di tempat,"......" Aku hanya ingin menghindarinya!
Mega segera berbalik ke arah Ai ingin bertukar kelompok karena kebetulan Ai juga memberikan sinyal tidak ingin di sini, tapi sebelum mereka bisa melakukan transaksi Ustad Azam lebih dulu menghentikan.
"Waktu kalian tidak banyak. Jika terus membuang waktu maka malam ini kalian harus siap-siap tidur di luar karena asrama akan dikunci tepat pukul 10 malam." Peringat Ustad Azam.
Mega menghela nafas panjang menahan kesal, dia mengangguk ringan dengan enggan dan menarik Asri masuk ke dalam dapur. Di matanya dapur bukan lagi sebuah gudang makanan lezat melainkan penjara penyiksaan hati yang sangat kejam.
Ya Allah, aku memang tahu jika suatu hari akan bertemu dengannya lagi tapi aku tidak ingin kami bertemu begitu cepat karena hatiku masih belum siap mengingatnya kembali. Batinnya miris.
...🍁🍁🍁...
Ai berusaha menjaga jarak dari Ustad Vano untuk sementara waktu untuk menenangkan kegelisahannya. Dia sengaja mulai membersihkan meja makan yang paling ujung bermaksud menghindari pandangan Ustad Vano. Tapi siapa yang mengira jika Ustad Vano tiba-tiba sudah ada di sampingnya sambil memegang 3 lap cadangan untuk Ai.
"Aku dengar kamu membagikan banyak makanan ke teman-teman sekamar mu. Apakah itu benar?"
__ADS_1
Bersambung..
Badan saya lagi lemes banget dari semalam jadi cuma bisa nulis segini dulu.