Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 10.11)


__ADS_3

"Assalamualaikum, Kak." Adik sepupunya memberikan salam.


Dia kini telah berdiri di samping Sasa dan ikut memperhatikan sosok Almaira yang semakin bergerak menjauh dari pandangan mereka.


"Waalaikumussalam, kita pergi sekarang?"


Adik sepupunya menarik perhatian kedua matanya dari sosok Almaira.


"Yah, lebih cepat lebih baik."


Mereka kemudian berjalan bersama menyusuri lorong asrama putri yang cukup panjang dan berkelok-kelok. Di gedung asrama putri terdapat sebuah perpustakaan yang sengaja disiapkan pihak pondok untuk memudahkan para santri belajar tanpa perlu keluar asrama.


"Apa yang Kak Sasa bicarakan tadi dengan gadis itu?" Adik sepupunya bertanya.


"Khanza bersikaplah sopan. Panggil dia Kak Almaira karena dia adalah senior yang harus kamu hormati di sini." Sasa mengoreksi Khanza, nama adik sepupunya yang kini sedang berjalan bersamanya.


Khanza mengangkat bahunya tidak perduli,"Tapi aku tidak menyukainya. Wajahnya terlalu palsu."


"Bahkan sekalipun kamu tidak menyukainya adab dan sopan santun tidak bisa kamu hilangkan. Bersikaplah sopan bila bertemu dengannya, juga, ini berlaku kepada semua senior yang kamu temui. Apa kamu mendengar?" Koreksi Sasa menasehati.


Khanza tidak menolak.


"Inshaa Allah, Kak. Khanza akan mendengarkan."


"Apa Kakak mendengarnya?" Khanza mengganti topik pembicaraan.


"Mendengar tentang apa?" Tanya Sasa tidak terlalu tertarik.

__ADS_1


Selain belajar dan mengerjakan tugas di sini, dia tidak punya ketertarikan apapun. Kecuali.. yah, ini akan menjadi berbeda bila berhubungan dengan dua orang itu.


"Itu lho, Kak, Kak Azam-"


"Panggil Ustad, Khanza. Ini di pondok pesantren dan bukan di rumah jadi kamu tidak bisa santai memanggil." Lagi, Sasa mengoreksi. Tapi kali ini suaranya sangat serius.


Khanza tertawa kecil.


"Maaf Kak, habisnya Khanza kebiasaan sih di rumah."


"Hem. Memangnya ada apa dengan Ustad Azam?"


"Ustad Azam katanya pulang bulan ini, Kak. Emang Kakak gak tahu? Kan Kakak ketua petugas kedisiplinan asrama putri dan bisa berhubungan langsung dengan staf pondok. Informasi sebesar ini pasti bisa Kakak dapatkan dari mereka." Khanza tidak habis pikir.


Dia heran dengan Sasa padahal dia adalah orang yang cukup penting di sini jadi bagaimanapun berita sebesar ini tidak dia ketahui.


"Mashaa Allah, mereka yang dikirim hebat-hebat ya, Kak. Khanza dengar tugas yang mereka lakukan tidak mudah-oh, bukankah itu Kak Mega!"


Obrolan mereka secepat kilat beralih ketika melihat Ai, Mega, dan Asri sedang duduk di tempat yang paling dekat dengan jendela perpustakaan sambil membaca kitab berwarna kuning.


"Aku ingin sekali menyapanya." Bisik Sasa di samping telinga Khanza.


Mereka saat ini berdiri di samping pintu masuk sehingga keberadaan mereka tidak terlihat mencolok.


Khanza memutar bola matanya,"Sapa saja. Bukankah ini yang kita inginkan?"


Sasa sangat setuju,"Kamu benar tapi aku tidak tahan setiap kali memandangi mata laser nya, dia terlalu dingin!"

__ADS_1


Sasa rasanya ingin sekali tertawa setiap kali mengingat ekspresi tajam nan murung Mega setiap kali mereka bertemu. Apalagi jika kebetulan ada Ustad Azam, ekspresi tidak senang Mega sungguh tidak bisa disembunyikan.


"Ini lucu, bukan? Jadi ayo kita menikmati saja." Khanza menarik Sasa keluar dari persembunyian.


Dengan langkah ringan dan santai, Sasa dan Khanza berjalan mendekati mereka bertiga yang masih asik membaca kitab.


"Assalamualaikum, Kak Mega?" Salam Khanza dengan suara yang manis.


Mega dan yang lain kompak mengangkat kepala mereka melihat ada dua gadis cantik yang kini berdiri tepat di depan mereka.


Mega melihat senyuman manis Khanza, kemudian beralih melihat senyuman lembut Sasa di samping Khanza. Dia tersenyum kecil.


"Waalaikumussalam. Kamu tidak perlu lagi memanggilku Kakak, cukup panggil aku Mega saja." Koreksi Mega terlihat tidak bersahabat.


Dia tahu Khanza lebih tua satu tahun darinya tapi dia malas memanggilnya Kakak karena sudah terbiasa dulu dipanggil Kakak oleh Khanza.


"Oh astaga, aku tidak akan melakukannya. Bagiku Kak Mega adalah Kakak ku sekalipun Kakak sudah tidak punya hubungan apapun lagi dengan Ustad Azam." Khanza tertawa kecil, berpura-pura manis dan santai seolah-olah tidak pernah mengatakan apapun yang membuat hati Mega menjadi tidak nyaman.


"Lalu, apa Kak Mega tahu siapa gadis cantik yang ada di samping ku ini?"


"Khanza, berhenti. Jangan main-main di dalam perpustakaan." Sasa berpura-pura keberatan.


Dia menepuk pundak Khanza agar segera menghentikan obrolan canggung ini.


Sementara itu, Mega diam-diam memperhatikan interaksi akrab mereka berdua. Di dalam hatinya Mega berpikir jika Khanza dan Sasa sudah seperti saudara saja.


"Aku tidak tahu." Jawab Mega tidak tertarik, nyatanya dia sangat tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2