
Waktu demi waktu terus terlewati dan tanpa sadar langit sudah menyaksikan aksinya.Rein sama sekali sekali tidak menyadari waktu yang terus berjalan dalam keseriusannya membaca buku.Lembar per lembar sudah cukup kali terdengar bergesekan dengan jari-jari tangan yang ramping.
Setiap paragraf yang dia ekspresikan ekspresi berubah, setiap halaman dia lewati kerutan wajah terlihat terlihat, dan setiap bab yang dia lewati sinar mata menunjukkan binar terang.Semua tindakan tangan maupun ekspresi wajah menunjukkan bahwa dia menikmati emosi yang diciptakan penulis dalam buku tersebut.
Benar, dia mulai jatuh cinta dengan dunia yang penulis ciptakan dalam buku ini.Sama seperti mereka yang mengidolakan buku ini, Rein tanpa sadar berharap jika buku tersebut disusun bab yang panjang.
Rasanya tidak rela jalan cerita yang disuguhkan oleh sang penulis sangat singkat dan kurang memuaskan.
Waktu berlalu sangat cepat tanpa Rein sadari.Dia terlalu tenggelam dalam buku yang ada di tangan dan tidak menyadari jika sudah saatnya makan malam.Bukan saja tidak menyadari tapi perutnya juga tidak menunjukkan adanya suara-suara.Lingkungan sekitarnya sangat sunyi dan tenang membuat Rein sangat damai dalam bacaannya.
Ting nong~
Suara bel apartemennya menghancurkan suasana damai Rein membaca buku.Dia langsung menutup novel itu setelah halaman terakhir yang dia baca.
Mata kelamnya mengungkap sekitar dan tersadar jika waktu berlalu banyak.
"Hampir jam 9 malam."Gumamnya pada diri sendiri saat melihat waktu di ponselnya.
Sudah berjam-jam dia hanyut dalam novel ini dan dia juga sudah menyelesaikan setengah jalan cerita dalam waktu yang sangat singkat.Rein pikir besok pagi dia bisa menyelesaikan buku ini sekaligus jika dia begadang.
"Begadang sehari saja tidak apa-apa, toh itu juga sudah menjadi rutinitas ku selama dua tahun ini."Jadi Rein memutuskan untuk membaca bacaannya malam ini juga.
Isinya sangat menarik sehingga dia menunda waktu untuk menjauh dari buku itu.
Ting nong~
Bel apartemennya berbunyi lagi, mendesak Rein agar segera membuka pintu.
__ADS_1
Rein tidak meletakkan novel itu di atas meja seperti novel-novel yang lain.Dia membawa novel itu ikut bersamanya karena tidak tahan berpisah.Dia berlari kecil keluar dari kamarnya dan segera membuka pintu apartemen.Rein pikir orang yang datang adalah tamu penting atau kenalannya.Namun nyatanya yang tersedia sekarang adalah seorang pelayan rumah makan yang tidak cukup asing untuk Rein.
"Dengan nona Rein...Xia?"Tanya pelayan itu ragu.
Di sini pesanan harus dikirim kepada pelanggan atas nama nona Rein Xia, seharusnya yang menerima adalah seorang gadis muda pikir pelayan itu.Rein Xia memang cantik dan menawan tetapi penampilannya seperti seorang laki-laki?
Hei, dia sangat kurus dan berdada datar.Oke, dia sama sekali tidak ingin menghakimi para gadis yang berdada kecil di luar sana.
Ini.. apakah alamat pengiriman salah atau Rein Xia yang dia cari, orang yang tidak ada di sini.
Rein mengerti kebingungan itu namun namun dia menjelaskan-pura tidak melihatnya.
"Benar, itu saya sendiri."Jawabnya tenang.
Pelayan itu terbatuk canggung dan langsung memperbaiki ekspresinya.
"Terima kasih, aku akan menerimanya."Rein mengambil alih paket makanan itu ke tangan.
Lumayan berat.Batin Rein di dalam hati.
"Kalau begitu saya izin dulu, Nona selamat malam."Pelayan rumah makan itu langsung pergi setelah Rein menerima paket pesanan yang diminta.
Rein melirik punggung pelayan itu dan melihat ke paket yang sedang ada ditangannya.
"Sutradara Edi sangat murah hati."Gumamnya pada diri sendiri.
Rein langsung menutup pintu apartemennya dan membuang novel itu ke atas sofa.Lalu kedua mengarahkan dengan cekatan membuka paket makanan yang masih hangat dan menggugah selera makannya.
__ADS_1
Rein beberapa sumpitnya menjadi dua doa mulai memakan beberapa makanan dalam suap kecil.Setelah suap ke 11 Rein sudah kenyang dan tidak sanggup lagi memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Porsi makannya memang tidak besar dan dia juga mudah kenyang jika memakan makanan dari rumah makan atau pesan antar.Sejak dia tinggal di kota ***** makannya mulai berkurang dan sering menolak hidangan dari rumah makan.Dia sangat menyukai makanan rumah sewaktu di panti yang sederhana tetapi sangat menggugah selera makannya.Memang dia bisa memasak untuk dirinya sendiri, tetapi karena itu pekerjaan yang super sibuk untuk memasak sulit dan lambat laun Rein mulai terbiasa mengingat makan jika dihadapkan dengan kesibukan.
"Aku kenyang."Dia menutup paket makanan itu dan mengikatnya seperti semula.
Setelah itu dia meninggalkannya di depan pintu seraya meninggalkan pesan singkat kepada orang yang mengambilnya.
Makanan itu sangat banyak dan Rein hanya mengambil sedikit dari porsi besarnya.Jadi daripada membuangnya lebih baik makanan yang dia berikan kepada orang yang membutuhkan.beruntung selalu ada orang yang mengambil makanan itu setiap kali Rein di depan pintu apartemennya.
"Nah sekarang aku akan kembali membaca buku!"Teriakannya tidak sabar.
Dia mengambil buku yang sempat diabaikan di atas sofa dan membawanya masuk ke dalam kamar.Menutup pintu kamar dan mulai membaca di atas kasurnya dengan khusyuk.
Sekali lagi tenggelam dalam buku itu dan waktu yang terus berlalu melewatinya.dia akan memperbaiki posisinya mungkin atau mengubahnya karena sudah terlalu lama posisinya yang sama.menghadap ke atas akan memijit tengkuknya karena terlalu lama menunduk dan menoleh pula akan menggosok salah satu mata yang mulai memerah atau teras tidak nyaman.
10 jam kemudian Rein berhasil menyelesaikan novel itu.Kedua mata terbelalak karena lelah menangis dan sudut pandang terus berdiri setelah menyelesaikan novel itu.
Dia sangat senang dengan akhir bahagia yang penulis sampaikan dan cukup sedih karena novel sebagus ini tidak memiliki lanjutan lagi.
"Mulai sekarang aku akan mengidolakan penulis buku ini. Hah..aku jatuh cinta dengan novel ini."ucapannya seraya memeluk sayang buku itu.
Menciumnya beberapa kali dengan suara kecupan yang sengaja dibuat-buat.Semua Rein sangat menyukai buku ini.
"Penulis menciptakan sebuah dunia dimana hermaprodhit seperti ku dapat diterima di dalam sosial pengalamannya mengalami masalah namun lebih baik daripada di dunia nyata."ucapannya lagi dengan pikiran yang menerawang.
Dia sudah tahu dan sekarang tahu mengapa buku ini disukai banyak orang.
__ADS_1
Aku tahu dia cemburu melihat Rania dan Davin menjadi dekat tapi tidak seharusnya dia melakukan itu.Lihat, karena perbuatannya sendiri banyak umat manusia yang harus mati dan negara pun menjadi kacau balau.Hah.. sangat menjengkelkan!" Ulasnya berbicara dengan dirinya sendiri.